Foto: Desak Gede Maya Agrevina Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali.

Denpasar (Metrobali.com)-

Perempuan sudah teruji mampu berperan ganda. Di satu sisi melakoni peran domestik (pekerjaan dalam rumah tangga) dan pada sisi lain berperan di sektor publik (bekerja di luar rumah).

Hal inilah yang diyakini Desak Gede Maya Agrevina, yang juga melakoni peran ganda, sebagai seroang ibu muda dan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) serta aktif juga dalam berbagai organisasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

“Sebenarnya tidak ada halangan bagi perempuan untuk maju dalam karir sepanjang diberikan peluang atau kesempatan lebih luas dalam berbagai hal,” kata Maya merupakan Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali

Hanya yang perlu diingat, kata Srikandi PSI yang akrab disapa Sis Maya ini, sebagai perempuan jangan juga melupakan kodrat keperempuanannya. Misalnya tanggung jawab terkait pendidikan anak, karena perempuan juga harus mempersiapkan anaknya sebagai penerus bangsa yang memiliki etika dan moral dan pendidikan yang baik.

Kepemimpinan Perempuan

Maya yang sempat menjadi Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia Provinsi Bali periode 2015-2020 ini juga berbagi pandangannya soal kepemimpinan perempuan atau perempuan ketika menjadi seorang pemimpin.

“Kepemimpinan perempuan dan laki-laki menurutku sebenarnya sama saja. Harus bijaksana, harus cerdas. Hanya saja bedanya dengan adanya perempuan di politik atau di pemerintahan/kepemimpinan kebijakan-kebijakan bisa lebih humanis karena perempuan sendiri kan merupakan simbol cinta kasih,” tutur lulusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini.

Berbicara tentang makna Hari Kartini pada 21 April lalu, menurutnya peringatan Hari Kartini sendiri sebenarnya bertujuan menghargai perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam menghidupkan emansipasi wanita di Indonesia.

Baca Juga :
Kapal Roro Ngadat Akibat Hidrolik Jangkar Bocor

Emansipasi sendiri bertujuan agar wanita memperoleh hak dan kesempatan yang sama dalam segala bidang kehidupan dan diakui keilmuan yang dimilikinya, sehingga wanita tidak lagi direndahkan kedudukannya.

Dalam mitologi Hindu sendiri, disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dan setara. Bahkan disebutkan bahwa Dewi/Perempuan adalah merupakan Sakti dari Dewa/laki-laki.

“Sehingga perempuan yang kekinian hendaknya tidak perlu minder lagi terkait dengan kemampuannya. Karena dari segi kehidupan sosial dan politik hari ini sebenarnya akses atau kesempatan bagi perempuan juga sudah terbuka lebar,” kata Srikandi PSI yang pernah maju sebagai Caleg DPRD Bali Dapil Buleleng pada Pileg 2019 lalu.

Ia menegaskan perempuan sudah bisa medapatkan pendidikan yang lebih tinggi, mendapatkan kesempatan kerja bahkan untuk berkarir di politik. Hanya saja peluang ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Keterlibatan 30% perempuan di parpol sampai saat ini masih saja dinilai sebagai pelengkap kuota. Kondisi ini yang harus kita patahkan sebagai perempuan,” ujar putri dari pasangan I Dewa Gede Eka Suaputra dan Sri Astutik ini juga

Mencerdaskan Desa, Mencerdaskan Bangsa

“Pendidikan merupakan sebuah jalan untuk memanusiakan manusia, mengantarkan manusia menemui fitrah hidupnya,”. Kutipan dari Paulo Freire tersebut yang mendasari Desak Gede Maya Agrevina memandang pentingnya pendidikan. Bergerak melalui Komunitas Kampoeng Ilmu bersama mahasiswa lainnya, perempuan yang akrab disapa Maya ini menghabiskan akhir pekannya mengajar anak-anak di Desa Tambakan, Buleleng pada tahun 2012 hingga 2015 lalu.

Belum meratanya infrastrutur dan tingginnya angka putus sekolah khususya di daerah  perdesaan membuat perempuan yang sempat menjabat sebagai Ketua Komisariat Pertanian Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Denpasar ini membuat aksi ditengah-tengah Simakrama Gubernur Bali untuk meminta Gubernur perhatikan Pendidikan Siswa Miskin di Desa pada tahun 2013 lalu. Aksi tersebut membuahkan hasil bagi beberapa siswa asuh yang diadvokasi di Banjar Duse Desa Tambakan, Kubutambahan – Buleleng sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP.

Baca Juga :
Walikota Jaya Negara Berbagi Pengalaman Pimpin Birokrasi di Masa Pandemi Covid-19

Gerakan membangun Bali dari Desa. Merdesa!!!

Kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Udayana membuat Maya memandang bahwa Pertanian adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Menurutnya, pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan, namun pembangunan sektor pertanian di Bali khususnya memiliki perkembangan yang lambat.

Perempuan kelahiran Denpasar 12 Mei 1993 ini memandang bahwa regulasi mengenai perkembangan sektor pertanian masih kurang dalam mensuport keberlangsungan bidang ini. Hal tersebut dapat dilihat dari alih fungsi lahan pertanian yang semakin marak. Menjadi sarjana pertanian, ia berharap dapat membangun sumberdaya manusia yang didukung teknologi khususnya di Desa sehingga menjadi gerakan untuk membangun perekonomian di Pulau yang terkenal akan sistem irigasi Subak ini.

Berjuang dengan Pena

Maya sempat berkecimpung di dunia Jurnalistik. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Kuta Utara, ia harus menjadi lebih mandiri lantaran ‘Ajiknya’ mengalami stroke. Memiliki hoby menulis membuat Maya memilih untuk mencari bekal tambahan sebagai wartawan. Kuliah sambil menjadi kuli tinta dilakoni Maya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Banyak hal baik ilmu pengetahuan maupun pengalaman berharga diperolehnya selama menjadi wartawan. Bahkan bertemu tokoh-tokoh Nasional salah satunya Presiden Republik Idonesia Joko Widodo. Menjadi Pemimpin Umum di Lembaga Pers Mahasiswa Khlorofil Fakultas Pertanian Universitas Udayana juga memperdalam Ideologinya untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan melalui tulisan.

Kritik Lewat Musik

Bukan hanya lewat tulisan, pelantun lagu Persma Berjuang yang merupakan lagu bagi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) ini juga menyuarakan ketidakadilan lewat beberapa lagu. Lagu gerakan yang dibawakan oleh Maya diantaranya Wahai Penguasa, Potret Indonesia dan Tolak Tambang Emas Tumpang Pitu. Dalam lagunya, mantan pengurus PPMI Bali ini berharap dapat menyuarakan kritik melalui musik. Baginya karya seni musik adalah salah satu media paling ampuh dan mudah untuk menyampaikan kritik sosial.

Baca Juga :
BI Jadwalkan Kas Keliling di Bangli

Memilih Terjun Langsung ke Politik

Menulis berita mengenai politik dan pemerintahan membuat gadis berkaca mata ini melihat secara langsung bahwa kerja Lembaga Legislatif belum maksimal dalam fungsinya. Melihat langsung realita dan keadaan di daerah selama bersosial membuatnya merasa perlu untuk membenahi keadaan melalui regulasi, politik dan pemerintahan.

Pada tahun 2014 lalu, Maya yang kini merupakan Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Provinsi Bali Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melihat sebuah titik terang dari perpolitikan di Indonesia. Melalui PSI yang menawarkan kebaruannya, Maya pernah ikut dalam bursa Calon Anggota Legislatif DPRD Provinsi melalui Dapil Buleleng.

Memutuskan untuk membangun kampung halaman, Maya memiliki target untuk menguatkan bidang pertanian dari hulu ke hilir. “Regulasi yang saya targetkan untuk diusulkan adalah mengenai alih fungsi lahan yang akan berhubungan juga dengan pajak lahan pertanian. Selanjutnya meningkatkan sumberdaya manusia dalam bidang pertanian dengan memaksimalkan SMK pertanian atau lembaga pendidikan pertanian. Terakhir mengenai koperasi pertanian atau lembaga perkreditan khusus produk pertanian yang perlu dikuatkan di setiap desa,” tegasnya. (wid)