Sidang Zainal Panas, Jaksa Lanang Tawarkan Mediasi

single-image

DENPASAR (Metrobali.com)-

Promotor tinju Zainal Tayeb, Kamis (28/10) mendapat kesempatan membantah tuduhan keponakannya, Hedar Giacomo Boy Sam telah menyuruh memasukan keterangan palsu dan penipuan sebagaimana didakwakan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Badung, Imam Ramdoni dkk. Menariknya, di tengah-tengah perdebatan, anggota tim jaksa, Dewa Lanang Raharja malah menawarkan perdamaian pada Zainal Tayeb. “Saudara terdakwa..masih ada waktu, ada kesempatan melakukan mediasi perdamaian sebelum tuntutan dibacakan,”kata jaksa Lanang Raharja. Perdebatan kian panas lantaran pertanyaan jaksa melebar diluar persoalan utama. “Penuntut umum, pertanyaannya fokus pada dakwaan saja,”tegus hakim Yasa pada jaksa.
Tawaran jaksa ini disambut Zainal Tayeb, bahwa upaya mediasi sudah dilakukan beberapa kali. Namun pihak Hedar Giacomo Boy Sam tidak pernah menanggapinya. Zainal juga beberapa kali berupaya menghubungi keponakannya lewat telepon. Lagi-lagi, itikad baik Zainal itu diabaikan hingga kasus ini bergulir sampai pengadilan. Terungkap pula pertanyaan terkait somasi Hedar ke Zainal Tayeb. “Somasi itu tentang dua obyek yang tidak dimasukkan dalam kerjasama. Hedar maunya meminta obyek itu diserahkan padanya, namun saya tidak setujui,”beber Zainal Tayeb.
Jadi sambung Zainal, somasi itu bukan terkait dengan persoalan luas tanah sebagaimana yang tertuang dalam akta kerjasama no. 33. Keterangan Zainal ini mementahkan keterangan Hedar pada sidang sebelumnya. Hedar mengaku somasi itu sebagai teguran atas masalah kekurangan luas tanah. Dalam akta 33, terdapat 8 SHM atas nama Zainal Tayeb. Dari8 SHM itu bila dijumlahkan luasnya hanya 8 ribuan meter persegi. Sementara dalam klausul akta disebutkan luas tanah yang dikerjasamakan seluas 13.700 meter persegi. Persoalan ini dijelaskan Zainal, awalnya tanah proyek Cemagi itu 9 SHM induk yang kemudian dipecah-pecah hingga seluas 13.700.
Berkaitan hal ini, terjadi perdebatan panjang lagi. Jaksa yang berpatokan pada 8 SHM di akta 33 sedangkan Zainal yakin luas tanah tidak berkurang bahkan lebih bila mengukur fakta di lapangan. “Saya yakin kalau diukur lagi lebih dari itu, ada sisa 200 an meter persegi, nah kalau yang dimasukkan dalam akta saya tidak tahu, sebab saya tidak pegang sertipikat , semua ada di kantor Bali Mirah Konstruksi,”tegas Zainal. Sempat pula jaksa menanyakan kenapa percaya saja ketika di akta ada perbedaan?”Saya percaya Hedar karena dia keponakan saya,” jawab Zainal.
Mantan anak pantai Kuta itu menambahkan proses pengembangan tanah Cemagi sejak 2012 silam. Pengembangan itu dilakukan dengan pembuatan akta 33 bersama Hedar. Akta tersebut ditegaskan Zainal bukan akta jual beli melainkan akta kerjasama dengan pembagian keuntungan 50 persen setelah dipotong bayar pajak dan lainnya. Hakim pun menanyakan ada tidaknya uang pembayaran dari pihak ketiga. “Hedar menyerahkan uang pakai cek Bali Mirah Konstruksi bank BCA, ada transfer, ada tunai senilai 61 miliar lebih. Uang itu pembayaran penjualan perumahan bukan pembayaran tanah,”ucap Zainal.
Proses lahirnya akta itu sendiri diawali pertemuan antara Zainal dengan Hedar dirumah Zainal sendiri. Dari pembicaraan itu, Hedar memanggil Yuri untuk membuat draf kerjasama sebelum dibawa ke notaris BF Harry Prastawa. “Hedar panggil Yuri yang katanya sudah biasa bikin draf. Selanjutnya draf itu disahkan jadi akta no 33 yang ditandatangani dirumah saya,’ ungkap Zainal.
Sidang dilanjutkan Kamis (4/11) dengan agenda pembacaan tuntutan tim penuntut umum.

Baca Juga :
Gubernur Koster Harap Pramuka Ikut Sukseskan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali

 

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.

xnxxhd xxx18 hdxxxx xnxx hd