Ilustrasi– buah manggis dari Bali
Denpasar, (Metrobali.com) –
Kabar menggembirakan bagi petani buah di Bali, khususnya buah manggis, akhirnya datang juga dengan dibukanya lagi keran ekspor ke Tiongkok. Sebab, sejak lima tahun lalu buah manggis dari Bali tak bisa diekspor ke Tiongkok. Kepala Balai Karantina Kelas I Denpasar, Putu Terunanegara menjelaskan, dihentikannya ekspor langaung ke Tiongkok lantaran ada beberapa persyaratan yang tidak bisa dipenuji oleh perusahaan eksportir Indonesia. 
 
“Sekarang sudah dibuatkan protokol dengan Tiongkok. Nah, perusahaan eksportir kita bisa memenuhi protokol tersebut. Jadi kita akan ekspor 20 ribu ton manggis dalam setahun. Untuk Bali targetnya 30 ton dalam sebulan. Setiap hari kita akan kirim satu sampai dua ton,” kata Teruna saat mengawal ekspor manggis ke Tiongkok di Pelabuhan Benoa, Kamis 5 April 2018.
 
Dengan terbukanya kembali pasar manggis di China pada akhir tahun 2017, Badan Karantina Pertanian terus memaksimalkan peluang ini untuk mengakselerasi ekspornya. Petani di sentra manggis di seluruh Indonesia terus di edukasi dan dilakukan pendampingan agar memenuhi persyaratan teknis yang diminta Pemerintah Tiongkok.
Petani manggis di Provinsi Bali menjadi salah satunya yang menjadi fokus pendampingan. Dengan potensi produksi yang tinggi, pemerintah membantu mereka menjaga kualitasnya. “Kami bantu kawal melalui pengawasan in line inspection kepada petani dan eksportir, sehingga kualitas terjaga dan proses pemeriksaan karantina di tempat pengeluaran ekspor menjadi lebih cepat, efektif dan efisien” jelas dia.
Setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu dipenuhi untuk menjaga kualitas manggis, di antaranya tampilan fisik, bebas dari kutu putih dan semut. Hingga saat ini baru satu perusahaan produsen manggis yang ada di Bali yang sudah teregistrasi dan dapat melakukan ekspor langsung ke Tiongkok.
“Registrasi ini memberi mereka kesempatan besar ekspor langsung ke Tiongkok”, terang Teruna. Lebih lanjut Teruna menambahkan, bila empat tahun terakhir kita masuk pasar Tiongkok melalui negara ketiga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam, kini dengan disepakatinya protokol ekspor langsung ke Tiongkok, maka petani bisa meraih keuntungan maksimal penjualan manggisnya.
“Ini luar biasa membahagiakan petani manggis. Kini mereka lebih bergairah dan menjaga betul kualitas manggisnya”, tegas Teruna.
Karantina Pertanian Denpasar berharap nantinya Bali mampu menyumbang volume ekspor manggis yang tinggi. Pemerintah menargetkan 20 ribu ton manggis ke Tionkok secara langsung.
“Hari ini akan dikirim 7.2 ton manggis ke Tiongkok, menyusul ekspor yang sudah beberapa hari lalu. Kami optimis kita bisa konsisten menyuplai manggis ini”, tambahnya.
Manggis asal Bali sejak Januari 2018 hingga hari ini telah terkirim ke China dan Thailand dengan volume lebih dari 49 ton melalui bandara Ngurah Rai. Data ekspor manggis secara nasional saat ini telah lebih dari 10.000 ton.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Manggis Bali dan Indonesia, Jro Putu Tesan menjelaskan, Bali merupakan penghasil manggis terbesar di Indonesia. Ia cukup senang akhirnya ekspor manggis bisa kembali dibuka dan direct langsung setelah di-banned pada tahun 2012 lalu.
Luas lahan pertanian manggis sendiri 3.000 hektar dengan jumlah petani sebanyak 6.250 orang. Sementara nilai ekspor manggis mencapai US$4,1-6 per kilogram, tergantung tujuan. “Harga manggis dsri petani Rp15-17 ribu. Masuk ke gudang pasca-panen nilainya menjadi Rp25 ribu. Sementara untuk jumlahnya, 80 persen manggis Indonesia masiluk ke Tiongkok,” katanya. Dengan direct ekspor langsung, petani mendapat tambahan nilai lusr biasa dari kerja sama ini. “Nilai tambahnya bagi petani silakan dihitung sendiri dari biasanya Rp6-7 ribu harga untuk petani jika kita ekspor melalui negara lain, dibanding ekspor direct ke Tiongkok,” papar dia.
Pewarta : Boby Andalan
Editor     : Nyoman Sutiawan
Baca Juga :
Wartawan di Surabaya berpura-pura kesurupan saat ultah Wali Kota Risma