Bonar Tigor Naipospos

Jakarta (Metrobali.com)-

SETARA Institute mendesak presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla dapat memasukkan program pendidikan karakter dalam kurikulum yang menjunjung nilai-nilai multikultural, kebhinekaan, dan pengamalan Pancasila.

Organisasi riset dan advokasi hak asasi manusia dan kebebasan beragama/berkeyakinan itu, menurut Wakil Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos, di Jakarta, Rabu (27/8), juga meminta pada pemerintahan Jokowi-JK nanti dirancang program pendidikan karakter bangsa dengan anggaran yang terintegrasi dan akuntabel.

SETARA Institute menilai, selama ini anggaran pendidikan karakter bangsa yang tersebar di berbagai kementerian digunakan secara tidak bermutu dan tidak dijalankan secara optimal, tanpa sinergi dan koordinasi yang jelas.

“Dalam Kurikulum 2013, kami melihat belum bisa mengembangkan wawasan berpikir, membangun nasionalisme dan menanamkan karakter pembangunan bangsa,” kata Bonar Tigor Naipospos pula.

Sekretaris Dewan Nasional SETARA Institute Benny Soesetyo yang biasa disapa Romo Benny menilai, Kurikulum 2013 tidak memberikan pendidikan bagi anak-anak untuk mampu mengaktualisasikan kemajemukan dan kebhinekaan di Indonesia.

“Jokowi-JK harus punya keberanian untuk memilih menteri pendidikan yang punya visi kebhinekaan,” kata Benny yang juga dikenal sebagai tokoh agama itu.

Ia menambahkan, saat ini pandangan beragama hanya dilihat pada memiliki agama, bukan menjadi beragama, sehingga seorang anak kurang menghargai atau menerima perbedaan.

“Seseorang yang punya agama berbeda masih dianggap bukan saudara. Maka ini harus dimulai dari pendidiknya, kalau tidak akan sulit. Kita harus kembali pada cita-cita Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan karakter menjadi pilihan lewat pendidikan guru,” ujar Benny lagi.

“Perubahan kurikulum tanpa perubahan cara pandang guru itu percuma. Pendidikan karakter itu melekat pada gurunya. Guru harus menjadi contoh. Pendidikan karakter bukan berarti pelajaran, tapi melekat pada diri guru, bagaimana guru jadi teladan, teman, rekan. Apa yang Ki Hajar ajarkan yakni pendidikan karakter bukan mata pelajaran tersendiri tapi termasuk pada gurunya, selama guru jadi pawang dan mentor tidak mungkin ada pendidikan karakter,” katanya pula.

Menurut Benny, pendidikan karakter artinya mengubah cara pandang.

Ia menilai, selama ini peran guru yang hanya menjadi pawang dan mentor adalah salah.

Benny mengatakan, guru seharusnya menjadi teman dan sahabat.

“Guru menanamkam nilai melalui tindakan atau perilaku, tapi guru tidak disiapkan melalui ilmu mengajar. Persoalannya, guru tidak pernah menanamkan nilai-nilai karakter itu karena guru tidak pernah mendapatkannya. Kurikulum 2013 itu kesalahan paradigma melihat masalah,” kata Benny. AN-MB 

Baca Juga :
Bupati Suwirta mengajak Masyarakat untuk menumbuhkan Niat dan Komitmen untuk Mensukseskan penerapan Perarem KTR