Ilustrasi

Denpasar, (Metrobali.com)

Menyimak dan mencermati berita dari chanel humas Pemda Bali, yang memuat pernyataan bendesa adat Besakih di atas gedung parkir bertingkat, gedung yang tampak angkuh, paling tidak karena dua alasan: “ngungkulin” Pura Titi Gonggang (spirit energi menuju ke kesadaran), dan mengacaukan kosmologi ruang Besakih pada “Undag” Pertama: sawewengkon palebahan Pura: Dalem Puri, Praja Pati, Tegal Penangsaran, Sentra Gandamayu dan kemudian Titi Gonggang. Ruang berubah, relasi Pawongan – Palemahan – Parhyangan, nilai maknanya juga berubah.

“Keangkuhan “gedung parkir bertingkat ini, tidak saja menghilangkan jejak kesejarahan keberanian dari “satrya wirang” krama Besakih mempertahankan Besakih dari serbuan kekuatan luar, sekaligus membuktikan kekuatan pertimbangan ekonomi turistik, mampu “mengubur” sejarah – historical truth- Besakih.

Sekulerisme (arus besar pemikiran yang kemudian menjadi paham, hanya yang tampak dan kasat mata yang relevan), sedangkan yang tak tampak secara fisik: keyakinan, sekala – niskala, spiritualitas merupakan faktor yang tidak dominan. Sekulerisme telah mengancam keberadaan Besakih kini dan terlebih-lebih di masa depan.

Ucapan bendesa adat Besakih yang tidak elok, berani mengatas-namakan Besakih, (apakah sudah melalui paruman minimal pengempon Pura Catur Lawa dan Pura Catur Lolka Pala Sraya), ucapan bernada “pemasaran” politik untuk “proyek” Besakih di tahun-tahun ke depan.
Ucapan yang tidak elok, paling tidak dari tiga faktor: berani mengatasnamakan Besakih keluar dari “anggah-ungguh” tradisi menjaga kesucian Besakih, “menyeret” Besakih dalam wacana perpolitikan sempit dan “kampanye” kepagian, karena masa kampanye untuk Pilpres dan Pemilu masih sekitar satu tahun lagi, untuk kampanye pilkada masih sekitar 1.5 tahun.

“Keangkuhan” bangunan parkir bertingkat ini, merubah “tetuek” kayun, karena relasi Panca Maha Bhuta (pertiwi, apah, teja, bayu dan akasa), ring sawewengkon Besakih berubah, dan “menenggelamkan taksu Undag ke dua Besakih, Pura: Manik Mas, Ulun Kul-Kul, Bangun Cakti, Goa Raja, Mrajan Kanginan, Bencingah Agung dan Pura Basukhian.
“Gangguan” di “Undag ” ke Dua, “menyumbat” perjalanan rokhani ke ” Undag” ke Tiga, Penataran Agung dengan jejer kemiri Meru dan Padma Tiga Nya.

Sekulerisme, menjadi ancaman nyata bagi Besakih (kita belum mengulas, kawasan alam Gunung Agung dan sekitarnya telah ditetapkan menjadi Proyek Strategis Nasional).

Jro Gde Sudibya, Pengasuh Dharma Sala “Bali Werdhi Budaya”, Pasraman Rsi Markandya, ring Airsanya (Kaja Kangin), Bukit Sinunggal, Br.Pasek, Ds.Tajun, Den Bukit, Bali Utara.