Mangupura (Metrobali.com) –

 

Pesraman desa Legian berkolaborasi dengan Sekaa Teruna Dharma Jaya menggelar acara Dharma Wacana dan Dharma Tula Siwa Ratri di era milenial yang berlangsung di Desa adat Legian, Badung, Kamis (30/12/2021).

Dr. Sarjana sebelum memandu jalannya acara menyampaikan secara singkat cerita Lubdaka dan korelasinya dengan semangat kehidupan sehari-hari, terutama untuk para pemuda dikala menempuh cobaan hidup dan berperilaku serta gaya hidup (lifestyle) seperti menghindari pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba. Dalam kisah perburuannya, Lubdaka menaiki sebuah pohon yang bermakna pencariannya dirinya terhadap Tuhan. “Maka disinilah kalau ada segala permasalahan hendaknya harus memohon kepada-Nya agar diberikan petunjuk jalan keluarnya”.

Ida Rsi Agung Lanang Pemogan Pemecutan juga menyampaikan ceritera Lubdaka dan menceriterakan bagaimana Lubdaka mendapat pengampunan dari Siwa Karean Jagra/tapa bersamaan dengan Siwa.

Sosok seorang tokoh dalam mitologi Siwaratri bernama Lubdaka, adalah sosok yang dikenal sebagai seorang pemburu binatang. Berburu binatang adalah sebagai mata pencahariannya. Lubdaka pada suatu hari diceritakan bertemu dengan Dewa Siwa. Atas apa yang telah diperbuat pada malam Siwa tersebut kemudian Lubdaka mendapatkan berkah berupa pengampunan dari Dewa Siwa. Cerita perjalanan Lubdaka ini sangat terkenal dan senantiasa dikupas pada setiap hari suci Siwaratri serta dijadikan sesuluh bagi umat Hindu.

Ida Pandita Mpi Nareswari Legian memaparkan ceritera Lubdaka dalam situasi sekarang masih sangat relevan, dimana kita diharapkan eling dan jagra. Selalu sadar. Agar kita berhasil dalam mejalankan kehidupan dengan penuh kesadaran.

I Gede Rudia Adhiputra, Ketua PHDI Badung juga menerjemahkan filosofi kisah Lubdaka bahwa sesungguhnya kisah heroik perburuan tersebut melambangkan saat berburu kebenaran sepanjang hari. Dan masih banyak makna suri tauladan yang dapat dipetik dari kisah ini bagi kehidupan sehari-hari. (hd)