Denpasar (Metrobali.com)-

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali menurunkan puluhan spanduk yang bermuatan politis di sejumlah tempat di kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Bali di Renon, Denpasar, pascapelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang digelar pada 15 Mei 2013.

“Tahapan Pilkada sudah selesai maka sekarang khusus di lingkungan Renon agar bebas dari spanduk dan baliho inilah yang kami tertibkan,” kata Kepala Satpol PP Provinsi Bali, Sukadana, di Denpasar, Selasa (4/6).

Menurut dia, adanya puluhan spanduk tersebut dinilai tidak sesuai dengan peraturan daerah terkait tata kota Denpasar, mengingat kawasan Renon merupakan kawasan pemerintahan yang seharusnya bebas dari atribut berupa spanduk dan baliho.

“Kami tertibkan untuk membantu Satpol PP Denpasar dan nantinya spanduk-spanduk itu akan kami serahkan kepada Satpol PP Denpasar melalui berita acara,” katanya.

Sukadana menampik apabila penurunan spanduk itu akibat isi dari spanduk tersebut menyiratkan adanya muatan politis.

Penurunan spanduk serupa juga akan dilakukan di kabupaten/kota lainnya karena tahapan pemilihan kepala daerah telah usai, mengingat di daerah lain seperti di beberapa ruas jalan di sepanjang Jalan By Pass Ida Bagus Mantra Gianyar menuju Klungkung juga ditemukan hal serupa.

“Penurunan ini tidak ada kaitannya dengan muatannya yang politis, kami tertibkan semua yang ada di lingkungan kantor pemerintahan. Di daerah lain juga akan dilakukan, kami sudah rapatkan dengan Satpol PP Kabupaten,” ujarnya.

Sebelumnya pascapenetapan rekapitulasi suara Pilkada Bali, marak beredar spanduk yang mengesankan adanya “perang dingin” melalui tulisan di spanduk yang dipasang di sejumlah titik di kawasan Renon.

Perang spanduk itu berisikan klaim dan juga desakan agar digelar penghitungan ulang suara terkait proses pemilihan gubernur.

Selain spanduk yang berisikan desakan penghitungan ulang dengan membuka formulir C1, juga terlihat klaim Pilkada Bali cacat hukum karena kotak suara dibuka sebelum waktunya, dan pernyataan Pilkada di Pulau Dewata itu belum final karena menunggu hasil Mahkamah Konstitusi.

Sebaliknya, terpasang pula spanduk yang berisikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Bali karena sudah melaksanakan hak suaranya secara aman dan damai.

Ada pula spanduk lain yang berisikan imbauan agar pihak kalah tidak menggugat.

Penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali menempatkan calon petahana, Made Mangku Pastika, memenangkan Pilkada Bali 2013.

Pastika, yang berpasangan dengan I Ketut Sudikerta, memeroleh 1.063. 734 suara atau 50,02 persen unggul 996 suara dari lawannya yakni pasangan Anak Agung Puspayoga yang berpasangan dengan Dewa Nyoman Sukrawan yang memeroleh suara sebanyak 1.062.738 suara (49,98 persen) dari 2,126 juta suara pemilih.INT-MB