Sarjana Hukum Otaki Produksi Sabu Rumahan di Bali

single-image
SABU RUMAHANTersangka Made Ibnu Muchtar (51) posisi tengah sarjana hukum otaki produksi sabu rumahan saat rilis di BNN Bali, Jumat (29/9). foto by : SIA

Denpasar (Metrobali.com)-

 Muhamad Ibnu Muchtar (51) ditangkap petugas BNN Bali dan Pusat pada Rabu (27/9) lalu di kostannya di Jalan Tukad Banyupoh Gang 8, No.7, Sesetan Denpasar Selatan.

Pria yang tinggal lama di Kota Malang, Jawa Timur ini merupakan residivis atas kasus yang sama. Karena tuntutan ekonomi lulusan sarjana hukum inipun nekat memproduksi sabu buatan sendiri beserta dua orang rekannya Putu Ruli (45), dan Made Irawan (51).
Sebelum menangkap tersangka Ibnu, petugas mengamankan terlebih dahulu tersangka Putu dan Made di Jalan Seroja Gang Nanas No.2 Tonja, Denpasar karena diduga memberi dana dan memfasilitasi pembuatan atau produksi sabu.
Saat digerebek di kostannya petugas menemukan pasta dan cairan berwarna hitam yang diduga narkotika sabu yang belum matang serta sejumlah prekusor dan alat pembuatan sabu dengan jumlah 15 ml.
“Dia (red, Ibnu) residivis belajar membuat sabu di Malang di LP Malang. Jadi prekusor ini ada HCL, aseton, amonium nitrat dan bahan kimia ini harapan mereka ini per hari bisa membuat 100 gram per hari atau 1 ons per hari ,” ujar Kepala BNN Bali Brigjen Pol Putu Gede Suastawa saat rilis di Denpasar, Jumat (29/9).
Di Bali produksi sabu yang dibuatnya sudah hampir jadi. Tersangka sendiri sudah 6 bulan di Bali dan memproduksi sabu baru 6 bulan.
Ditambahkan Kabid Pemberantasan dan Penindakan BNN Bali AKBP Ketut Artha memang tersangka Ibnu pernah ditahan selama 3 tahun di LP Malang. Saat di penjara tersangka diberitahu oleh rekan sesama napi di sel.
“Rencananya setelah keluar dari sel dia mau berhenti menggunakan sabu bahkan dia pernah bekerja di koperasi fi properti dia bertemu dengan Made Irawan ini. Sama Putu dia memang berteman. Intinya dia gagal di properti kemudian bersama Putu memikirkan cara agar bagaimana caranya dia punya uang,” terangnya.
Dia pernah buat di Malang tapi mutu atau kualitas sabunya jelek. Kemudian dia mendengar di Malang kalau pangsa pasarnya di Bali bagus maka hijrahlah dia ke Bali.
“Dia ini kan kerjasama dengan Putu temannya itu dan Made dikasi pinjam uang dan dijanjikan setelah jadi intinya mereka saling bekerjasama,” ungkapnya.
Para pelaku dikenakan Pasal 113, 114, dan Pasal 129, tersangka Made Irawan dijerat Pasal 112 ayat (1) dan tersangka Putu dikenakan Pasal 114 UU RI No.35 tahun 2009 tentang narkotika maksimal pidana seumur hidup atau mati. SIA-MB 
Bagikan :
Baca Juga :
DPRD Buleleng Serahkan Bantuan Peduli Bencana Gunung Agung

Leave a Comment

Your email address will not be published.