Mangupura (Metrobali.com)-

Koordinator Penelitian Perhimpunan Komunitas Tumbuh Bersama, I Nyoman Parta mengungkapkan riset terkait sapi Bali ini berangkat dari kondisi bahwa sapi Bali terkenal dengan sapi yang kuat, cerdas dan bisa makan apa saja. Sapi Bali terkenal bisa beradaptasi dengan makanan apa saja, dari yang paling halus hingga kasar.

Bahkan, sapi Bali juga memiliki tingkat kesuburan betinanya sampai 17 kali beranak.

“Sapi Bali sangat digandrungi, karena karkasnya mencapai 55-58 persen. Berbanding terbalik dengan ras manapun yang rendah,” ungkapnya di lokasi yang sama.
Hanya saja politisi PDI Perjuangan ini mengaku miris dengan kondisi saat ini. Di mana, dari data yang ada, sapi Bali menurun sangat drastis dalam lima tahun terakhir. Padahal, sekitar 5 tahun yang lalu ada 1,5 juta sapi. Saat ini, hanya sekitar 553.000 ekor. Alasan terjadi penurunan, karena pemelihara turun drastis.

“Maka dari itu, kita ingin mendorong agar banyak petani sapi Bali ini ke depannya. Salah satunya dengan mengakomodir daging sapi Bali masuk ke sejumlah restoran dan hotel,” terangnya

Diakuinya, sapi Bali yang sudah diteliti oleh pihaknya itu sudah dengan hasil Lab Institut Pertanian Bogor (IPB) dan lembaga kesehatan hewan, yang menyatakan daging sapi Bali sangat layak. Bahkan, dari sapi Bali yang sudah ditreatment itu bisa naik menjadi 1,6 Kg dalam kurun waktu 32 hari. Namun, tentunya akan terus bertambah kalau mencapai waktu 2 bulan dan tingkat kelembutan yang tidak kalah dengan sapi impor. Dia pun tidak menampik, ketika adanya event KTT G20, saatnya untuk memperkenalkan sapi Bali ke delegasi.

“Ini momentnya, saya berharap nantinya sapi Bali ini bisa menjadi salah satu menu yang disodorkan ke para delegasi atau kepala negara yang hadir. Sehingga, daging sapi Bali bisa bersaing dengan daging sapi impor,” harap Nyoman Parta.