Buleleng, (Metrobali.com)

Sangat miris dan turut berduka cita atas meninggalnya seorang bayi perempuan bernama Ketut Adi Sri Karlinda pada Selasa, 30 Maret 2021 diusianya yang ke 63 hari. Artinya belum sempat dioperasi, bayi yang menderita penyakit kelainan usus (Hisprug) ini, telah meninggal dunia terlebih dahulu. Kendatipun, sang bayi yang berasal dari Banjar Dinas Tangeb, Desa Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng ini, telah mendapat perawatan khusus dalam incubator ruang NICU selama enam hari di RSUD Buleleng.

Menurut keterangan pihak medis, selama menjalani perawatan, kondisi kesehatan sang bayi tersebut memang terus menurun. Disamping itupula, selain terkena penyakit kelainan usus, juga dari  hasil diagnosa, bayi itu mengalami infeksi pada paru-paru. Diduga akibat menelan air ketuban saat dilahirkan.

Dikonfirmasi, ibu kandung bayi yakni Sang Ayu Komang Sugiani (37) didampingi suaminya Putu Budayasa (40) dengan kesedihan mendalam mengatakan bahwa jenazah anaknya itu dikubur pada Selasa, 30 Maret 2021 malam di Setra Desa Adat Banjar Tegeha.

“Anak saya meninggal sekitar Pukul 01.00 Wita dini hari.” jelasnya.

Lebih lanjut Sang Ayu Komang Sugiani mengatakan sekitar dua hari yang lalu, dirinya itu sempat merasakan firasat sebelum anaknya meninggal. Dimana disaat dirinya sedang tidur di sekitar ruang NICU RSUD Buleleng, secara tiba-tiba terbangun dan merasa gelisah. Dan pada saat itu juga, Ia di panggil petugas medis, dikatakan anaknya sempat hilang nafas lagi, sampai harus dipasangi alat oksigen.

“Mendapat keterangan anak saya sempat hilang nafas, saya langsung sedih, dan merasa kalau anak saya tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi,” ujarnya sedih.
Seiring meninggal anaknya itu, bak sudah jatuh tertimpa lagi bagi pasangan suami istri  Sang Ayu Sugiani dan Putu Budayasa. Karena  terancam kehilangan tempat tinggal. Mengingat, sertifikat rumahnya digadaikan di salah satu koperasi senilai Rp 100 juta untuk modal usaha. Hanya saja, karena kondisi pandemi COVID-19 membuat usaha suaminya sepi orderan.

Baca Juga :
Satgas Daerah Bali : Alat Rapid Test Difokuskan Bagi Kelompok Rentan Virus Covid-19

“Kami saat ini baru bisa membayar sekitar Rp. 20 juta. Dan selanjutnya kemungkinan kami tidak bisa membayar hutang karena suami tidak mendapatkan orderan sama sekali. Namun demikian, kami tetap berusaha mencari uang untuk membayar hutang.” tandas Sang Ayu Sugiani.

Dalam pemberitaan sebelumnya, sang bayi kondisinya koma, dan mendapat perawatan khusus dalam incubator di ruang NICU, RSUD Buleleng. Sang bayi membutuhkan biaya operasi sebesar Rp 45 juta. Sedangkan kedua orang tua sang bayi tidak memiliki uang sebesqr itu dengan pekerjaan sebagai buruh. GS