Denpasar (Metrobali.com)-

Perhelatan Ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke -35, Sabtu 15 Juni 2013 akan resmi dibuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, 7 menteri bersama pejabat tinggi negara lainnya. Acara diawali dengan pawai yang dipusatkan di Kawasan Depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali ( MPRB), diikuti oleh ribuan seniman baik dari Bali maupun luar Bali bahkan peserta luar negeri.

Nah, terkait persoalan ‘klasik’ perhelatan PKB yang dipusatkan di Taman Budaya Denpasar, yakni luberan stand nampak selalu memadati kawasan tersebut. Oleh Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Bali Ketut Suastika mengakui sulit membendung, karena minat masyarakat dalam hal itu cukup tinggi. Untuk itu maka pihaknya telah melakukan pengkajian dan analisis dari pelaksanaan sebelumnya, dengan penataan yang jauh lebih baik. “ Kita tahu, tingginya minat peserta pameran, menjadikan peserta tahun ini cukup banyak, dan hal itu kita apresiasi dengan memberi ruang kepada peserta pameran, sepanjang mentaati kesepakatan. Total peserta yang terdaftar sebanyak 260 peserta,” ungkap Suastika.

Dikatakan, tahun ini pihaknya telah melakukan perbaikan yang lebih baik. Pameran dibagi dua konsep yaitu ada pameran seni budaya aktif artinya mengizinkan peserta pameran melakukan transaksi. Sedangkan pameran pasif hanya menyajikan produk yang berkaitan dengan karya seniman dan cukup dipajang saja. “ Saya pastikan tidak ada pedagang keliling, asongan mesuun, jadi area bersih, dan setiap peserta wajib menjaga kebersihan,” terangnya. Sedangkan terkait dengan biaya sewa, Kadisbud menyatakan untuk sewa kapling ada beberapa  kelompok biayanya berbeda. Untuk  stand Dekranasda dijual Rp 2 juta, ( lahan kosong). Sedang dibawah Gedung Ksirarnawa, disewakan Rp 3 juta, dibawah Panggung Ardha Candra sewanya sebesar Rp  6 juta, dan di sekitar area Taman Budaya sewa resmi sebesar Rp 2,5 juta.

Lanjut Suastika, setiap peserta pameran diberikan kebebasan untuk mengerjakan dan menata  stand. Dalam hal ini mereka membuat kesepakatan bersama  PT Narayana Bali Internasional yang ditunjuk untuk menata dan mempersiapkan stand. “ Jadi para peserta inilah yang  mensponsori shutle bus, biaya listrik, AC dan sebagainya, yang nilainya diluar sewa resmi berdasarkan Perda, mereka sepakat mengeluarkan biaya masing-masing pedagang sebesar Rp 4 – Rp 6 juta,” beber Suastika. Kalau ada jual beli stand diluar nama-nama peserta yang resmi. Suastika dengan tegas mengatakan akan melakukan tindakan tegas. “ Ini tidak main-main lagi, mereka peserta pameran yang telah terdaftar sudah membuat pernyataan antara peserta dan PT Narayana Bali internasional, apabila diketahui mereka menjual lagi stand maka akan dilakukan pencabutan sesuai surat pernyataan yang mereka buat berdua,” jelasnya.HP-MB