Denpasar (Metrobali.com)-

Seminar menyambut Hari Nusantara yang jatuh pada 13 Desember 2012 nanti, digelar oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan dihadiri oleh berbagai instansi, mahasiswa dan undangan  yang dibuka oleh Kabag Umum Kemendikbud I Gusti Ngurah Arjana, mewakili Wamendikbud Wiendu Nuryanti yang berhalangan hadir, di Hotel Aston, Rabu (28/11).

Gusti Arjana dalam pembukaan seminar bertajuk ‘ Bahari dan Kebangsaan ‘ itu mengatakan bahwa kegiatan ini akan berlanjut di Makasar untuk selanjutnya pada puncaknya yakni tanggal 13 Desember akan digelar di Lombok, NTB .“ Presiden akan berkenan hadir dalam puncak acara Hari Nusantara tersebut,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan pula bahwa dari kegiatan mencintai sekaligus memaknai dan mengimplementasikan akan kebaharian, yang ujungnya ialah nilai kebangsaan, maka diharapkan akan bisa sebagai satu elemen penguat persatuan bangsa. “ Meningkatkan pemahaman bahwa kita semua ini satu bangsa, jangan lagi terjadi seperti kasus bentrok di Lampung dan lainnya itum” katanya.

Menurutnya itu jelas pemahaman multikultur yang sangat kurang. Dari nenek moyang kita lewat Bahari yang terkenal itu bahwa kita sebenarnya sudah tidak lagi satu yang lain, tapi sudah satu dari semua. “ Untuk itulah tujuan dari kegiatan ini diselenggarakan,” selanya.

Sementara oleh Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali, Made Purna menambahkan kegiatan ini juga sebagai bentuk aparesiasi pusat kepada masyarakat Bali. “ Maka untuk ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan bahwa kegiatan ini digelar di Denpasar, Bali, “ imbuhnya.

Nah, memahami akan kepercayan itulah, maka kebaharian, yang sejak duduk di bangku SD masyarakat semua sudah dibekali akan pembelajaran bahwa Negara kita adalah negara Bahari. “ Lebih banyak lautnya daripada daratannya. Untuk ini maka kiblat pembangunan, akan lebih bisa ditingkatkan, tidak saja di daratan. Selebihnya arahnya ialah pertama dari pemberdayaan potensi kelautan. Kemudian dilihat dari filosofi bahwa dari banyaknya laut -laut diantara pulau -pulau kita ini, bukan sebagai pemisah, namun justru sebagai penghubung  pengikat akan kebhinekaan dalam kerangka NKRI seutuhya,” paparnya.

Baca Juga :
Kemenkominfo: Kampus IT Dampingi UMKM dan Petani Melek Teknologi Digital

Dari makalah -makalah oleh pembicara yang pada intinya ialah mengupas akan sejarah kelautan sebagai satu proses akan terbentuknya bangsa ini, yang esensinya ialah pada bingkai NKRI. Seperti oleh Bambang Utomo dengan makalah berjudul ‘ Jejak Bawah Tanah Percik Bawah Air : Cikal Bakal Tua Bangsa Bahari’ dan I Ketut Ardhana dengan makalahnya yang berjudul “ Mitologi Tentang Dunia (laut) Memahami Nilai Nilai Pengikat Kenusantaraan’ dan Tasrifin Tahara lewat makalahnya yang berjudul “ Akulturasi Budaya Suku Bajo Dengan Budaya Sekitar, serta AA Bagus Wirawan dengan makalahnya yang berjudul ‘ Perspektif Sejarah Maritim Dalam Proses Pembentukan Bangsa,’. HP-MB