Denpasar (Metrobali.com)-

Proyek pengembangan infrastruktur Bandara Ngurah Rai Bali dipandang sebagai pengerjaan proyek terumit yang pernah dilakukan. Pasalnya, proyek pengembangan bandara yang dilakukan juga harus berbarengan dengan operasional bandara. Apalagi, luas lahan bandara yang hanya seluas 285 hektare, menambah kesulitan pembangunan bandara itu. Bahkan, kekhawatiran akan perkembangan bandara dirasakan oleh pihak PT Angkasa Pura I, mengingat Bandara Ngurah Rai memiliki pertumbuhan penumpang yang signifikan.

Berdasarkan data penumpang yang dirilis, Bandara Ngurah Rai melayani 14 juta penumpang tiap tahunnya. Namun, kapasitas maksimal dari terminal lama hanya cukup menampung 7,7 juta penumpang per tahun. Sedangkan, pembangunan terminal baru ini mampu melayani penumpang sebanyak 25 juta penumpang.

“Bandara Ngurah Rai ini yang terumit karena operasi harus tetap jalan. Pada saat sama, pembangunan juga berjalan. Saya khawatir bandara ini hanya berumur 5 tahun. Karen luas yang sangat tidak ideal dan pertumbuhan penumpang yang tinggi,” ujar Tommy Soetomo President Director PT Angkasa Pura I, saat memberi keterangan resmi di Hotel Patrajasa, Jumat 6 September 2013.

Tomy mengatakan, terminal baru akan mulai beroperasi pada 10 September depan. Sementara peresmiannya akan dilakukan pada 12 September depan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono direncanakan bakal meresmikan bandara ini.

Dalam proses pengerjaan terminal baru, Tomy melanjutkan, Angkasa Pura I merogoh kocek sebesar Rp2,8 triliun dengan melibatkan empat ribu orang pekerja. “Pekerjaan fisik proyek pengembangan bandara ini melibatkan empat ribu orang pekerja. Nantinya teminal baru akan mampu melayani hingga 25 juta penumpang per tahun,” katanya.

“Ini mungkin bangunan sipil yang besar yang memadukan modern dan tradisional. Kami memakan waktu 10 bulan. Proses yang cukup panjang sebagai suatu usaha yang mantap. Bandara ini kami padukan dua macam arsitektur yang berbeda,” ujar Tommy.

Baca Juga :
SBY-Ahmadinejad Bahas Perkembangan Suriah

Senada dengan itu, perancang bangunan bandara Darmawan Prawirohardjo menjelaskan, untuk melakukan proses balinisasi pada bangunan membutuhkan waktu dan metode yang cukup lama. Pasalnya, gaya arsitektur Bali tidak memiliki teknik spesifik dalam pengerjaannya. Hanya saja, gaya arsitektur ini lebih menekankan pada pedoman membuat sebuah bangunan.

Dalam pengembangan bandara, ada beberapa hal penting yang ditambahkan untuk meningkatkan standar pelayanan. Di antaranya dengan menyematkan teknologi canggih. Salah satunya baggage hendling system yang menggunakan teknologi hold baggaege screaning (HBS). Bagasi penumpang nantinya akan digerakan secara elektronik dan mekanis check in hingga mendekati pesawat. Selain itu pemasangan 20 kamera CCTV pun dilakukan untuk meningkatkan keamanan bandara. BOB-MB