DELAPAN puluh empat tahun yang lalu generasi muda bangsa Indonesia dalam berbagai wadah organisasi pemuda kedaerahan menyatukan diri dalam sebuah spirit nasionalisme dengan landasan pluralitas untuk membawa bangsanya ke arah persatuan, dalam wadah Sumpah Pemuda. Momentum tersebut akhirnya menjadi tonggak sejarah perjuangan bangsa yang panjang dalam menggapai kemerdekaan. Apabila kita cermati, generasi muda turut berperan dalam sejarah bangsa mewujudkan kemerdekaan ini.

Secara historis pada setiap zaman dan peradaban, generasi muda selalu tampil sebagai agen dan aktor perubahan. Secara kolektif, generasi muda bisa menjadi sebuah ikon pembaharu yang sanggup memberikan pengaruh sosio-politik yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat beralasan, sebab dukungan fisik, semangat, dan talenta idealisme, sangat kuat tercitrakan pada sosok generasi muda. Momentum reformasi 1998 hingga berhasil menggeser rezim orde baru dari singgasana kekuasaannya pun tak luput dari peran generasi muda yang dipelopori oleh barisan mahasiswa.

Seiring perkembangan zaman, derasnya arus globalisasi dengan kemajuan ipteknya, dinamika generasi muda saat ini tidak selalu bergerak pada ranah pemikiran dan aksi yang cerdas dan mencerahkan. Tidak sedikit generasi muda yang gampang terjebak melakukan tindakan anomali sosial demi memanjakan emosi dan ambisi sekelompok orang yang dengan amat sadar memanfaatkan potensi dan talenta mereka. Dalam pandangan awam, demo-demo anarkhis dan vandalistis yang ditandai dengan aksi perusakan fasilitas publik, bukanlah semata-mata inisiatif murni generasi muda yang ingin melakukan sebuah perubahan, melainkan diduga telah disetir dan digerakkan oleh kelompok tertentu yang paham betul tentang potensi gerakan generasi muda sebagai generasi pendobrak. Kelompok tertentu inilah yang dianggap dengan amat sadar melakukan gerakan-gerakan terselubung dengan memanfaatkan generasi muda sebagai tameng untuk menciptakan situasi keruh dan tidak menentu dalam upaya menggapai puncak ambisi dalam ranah kekuasaan dan politik praktis.

Generasi muda yang gampang terkena provokasi sehingga terjebak melakukan tindakan anarkhis dan vandalistis yang sangat tidak menguntungkan bagi publik, sejatinya telah menodai citra generasi muda sebagai aktor perubahan. Meski demikian, kita harus optimis bahwa suatu saat generasi muda negeri ini bisa bangkit merapatkan barisan untuk melakukan “reinkarnasi” secara kolektif mengejawantahkan semangat para pendahulunya dalam upaya melakukan sebuah perubahan yang cerdas dan mencerahkan bagi kehidupan bangsa dan negera tercinta ini.

Baca Juga :
NTT kembali dikirimi dua peti jenazah pekerja migran

Para generasi pendahulu telah menghasilkan karya besar bagi bangsa ini. Kemerdekaan bangsa merupakan karya monumental yang luar biasa yang dihasilkan oleh para founding fathers negeri ini, yang tidak lain adalah para pemuda. Kemerdekaan bangsa ini bukan dihasilkan melalui warisan para penjajah, namun dihasilkan melalui tercecernya keringat dan darah, semangat dan aktivitas, retorika dan diplomasi yang dilakukan oleh para pendahulu.

Saat kini, kita merenungi kembali makna Sumpah Pemuda dengan jiwa dan semangat kebangsaan serta keinginan bersatu yang tinggi. Tapi, apakah ikatan kita sebagai sebuah bangsa sudah kuat dan kokoh?

Tidak ada demokrasi tanpa nasionalisme. Juga sebaliknya. Apakah bisa  demokrasi menguat saat nasionalisme akan luntur? Nasionalisme dan kebangsaan kita tempatkan pada satu posisi, demi keutuhan bangsa dan negara. Demokratisasi kita jadikan alat perjuangan untuk memujudkan harapan-harapan yang dicitakan untuk mencapai kemakmuran.

Semangat dan jiwa Sumpah Pemuda perlu digelorakan kembali dalam jiwa generasi muda sekarang. Masa depan bangsa ini terletak pada etos kerja dan semangat generasi muda. Dalam sejarah bangsa manapun di dunia, generasi muda tetap menduduki posisi penting pada setiap perubahan tatanan sosial. Ini juga terjadi di Indonesia.

Arah dan perjuangan bangsa terletak pada sikap kritis dari generasi muda. Perbaikan keadaan yang buruk tertumpu pada generasi muda. Akan lebih tragis jika generasi muda terpengaruh dan menuruti jejak keadaan bangsa yang memburuk. Ini tidak kita kehendaki. Generasi muda adalah harapan seluruh warga, sama dengan harapan di masa lalu, saat Sumpah Pemuda dikumandangkan. Gelora dan semangat generasi muda juga dituntut di masa sekarang, tapi dalam bentuk lain, dengan tujuan memperbaiki kondisi ekonomi bangsa dan menyejahterakan rakyat.

Baca Juga :
Bupati Suwirta Lantik 8 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

Sangat banyak peran yang telah dimainkan generasi muda bangsa kita. Sangat banyak partisipasi aktif dan positif yang disumbangkan generasi muda dalam pembangunan. Tetapi di sisi lain, kecenderungan menurunnya implementasi nilai-nilai nasionalisme generasi muda melalui berbagai contoh kasus kenakalan remaja, perkelahaian antar pelajar, tindakan membolos di sekolah, suka berpangku tangan, merupakan embrio degradasi spirit nasionalisme tersebut. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi sebuah penyakit sosial. Bahkan harus diantisipasi menjadi sebuah paradigma baru yang menggerus nilai nasionalisme dalam pluralitas bangsa yang telah berkembang harmonis.

Pemaknaan sumpah pemuda tidak cukup hanya pada tahapan peringatan semata, dibutuhkan upaya serius dan berkesinambungan untuk bisa menanamkan jiwa kebersamaan dan rasa memiliki terhadap segenap bangsa. Revitalisasi peran generasi muda merupakan prasyarat tangguhnya bangunan nasionalisme dan spirit pluralitas bangsa.

Generasi muda adalah the leader of tomorrow. Makanya di tangan generasi mudalah nasib sebuah bangsa dipertaruhkan. Jika generasi mudanya memiliki semangat dan kemampuan untuk membangun bangsa dan negaranya, maka sesungguhnya semuanya itu akan kembali kepadanya. Hasil pembangunan dalam aspek apapun sebenarnya adalah untuk kepentingan diri dan masyarakatnya. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan dipimpin oleh generasi muda sekarang. Oleh karena itu, kematangan mentalitas dengan gaya kepemimpinan ideal tidak bisa ditawar-tawar lagi kalau bangsa ini betul-betul ingin berbenah diri. Mereka perlu dikader dengan sebaik-baiknya.

Telah cukup banyak organisasi kemasyarakatan bahkan organisasi politik nasional yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tampil sebagai pemimpin. Hal ini mengindikasikan bahwa proses kaderisasi internal organisasi sebagai indikasi adanya peran aktif generasi muda di dalamnya. Secara lebih luas, kondisi ini akan memberikan vibrasi motivasi dan inisiatif bagi generasi mulainnya di seluruh Indonesia untuk berperan menunjukkan kompetensi dirinya. Demikian juga telah banyak generasi muda yang tampil karena pilihan masyarakat melalui pemilihan umum langsung, sebagai kepala daerah.

Baca Juga :
Kapolri pastikan seorang pelaku pembunuhan Pulomas tewas

Revitalisasi peran generasi muda akan meningkatkan peran dan partisipasinya dalam membangun bangsa, mempererat persatuan, mengukuhkan pluralitas, dan memperkokoh nasionalisme.

Dalam konteks pembangunan daerah Bali, bagaimana peranan generasi muda Bali?

Sebagai daerah pariwisata internasonal, Bali adalah daerah yang terbuka. Kompetisi global sumber daya manusia dalam hampir semua lapangan pekerjaan, khususnya pariwisata, terjadi di Bali. Generasi muda Bali harus mampu merebut pangsa pasar itu, dan menjadi tuan rumah di daerah sendiri, serta mampu mengayuh membawa Bali mau kemana. Generasi muda Bali harus membekali diri dengan kompetensi global, yang melahirkan pemikiran-pemikiran inovatif dan kreatif sehingga mampu mandiri, dan bersaing dalam pasar global.  Sementara di sisi lainnya, pemikiran untuk pemantapan implementasi pembangunan daerah tetap memerlukan pemikiran para generasi muda Bali yang cerdas dan visioner.

Sumpah Pemuda menjadi landasan historis lahirnya fakta empiris partisipasi generasi muda sepanjang perjalanan pembangunan bangsa. Peringatan 84 tahun Sumpah Pemuda kali ini menjadi momentum inspiratif untuk secepatnya menata dan membenahi seribu satu kasus dan permasalahan bangsa mulai dari korupsi, kejahatan, sampai kemiskinan. Peringatan jangan sekadar jadi stereotip sakralitas atau ritual politis untuk mengenangkan sejarah dengan mencari hikmah-hikmah klise. Peringatan Sumpah Pemuda mesti dilandasi dengan orientasi perubahan kontruktif dan positif sehingga pada akhirnya memberikan makna bagi menguatnya persatuan Indonesia dan meningkatnya kesejahteraan rakyat, termasuk suksesnya pembangunan daerah Bali. Semoga!

 

Wiasthana Ika Putra

Penulis adalah pemerhati masalah sosial,

Tinggal di Sading, Badung.