Ilustrasi

Rabu, 4 Desember 2023 raina Galungan nemu sasih Kepitu, Galungan pertama konfigurasi ruang Besakih diubah.

Di atas Pura Titi Gonggang, di bawah Pura Manik Mas, berdiri gedung tinggi berfungsi komersiil: tempat parkir, kompleks pertokoan dan juga bangunan yang berfungsi mirip keong emas di TMII Jakarta.
Di ulun Margi Agung ( Margi Agung, genah Pura: Ulun Kul-Kul, Bangun Cakti, Goa Raja, Rambut Sadhana), Jalan Asta Sura di sisi Timur, di bawah wantilan Cri Kesari Warmadewa (dalam palebahan Bencingah Agung) konon direncanakan sebagai bangunan komersiil.
Bangunan berfungsi komersiil di atas, telah merusak kosmologi ruang spiritual Besakih yang telah mentradisi lebih dari 1.000 tahun: mulai pemendeman Panca Datu oleh Rsi Markandya, pembangunan tahap pertama oleh Rsi Kesari Warmadewa, pembangunan tahapan lanjutan oleh Ida Dalem Waturenggong, sampai pasca kemerdekaan: al.pembangunan wantilan Cri Kesari Warmadewa dan penyelenggaraan Eka Dasa Rudra di era kepemimpinan Pak Mantra.
Dengan bangunan-bangunan komersiil tsb., aura panca maha butha di undagan satu Besakih telah berubah, Pura: Dalem Puri, Mraja Pati, Tegal Penangsaran, Sentra Gandamayu dan Titi Gonggang. Demikian juga di undagan dua, Pura: Manik Mas, Ulun Kul-Kul, Bangun Cakti, Goa Raja, Rambut Sadhana, Mrajan Kanginan dan Pura Basukhuan, aura pertiwi, apah, bayu, teja, akasa juga berubah. Singkat kata, spiritualisme Besakih telah berubah.
Besakih sebagai hulu spiritualitas krama Bali yang beragama Hindu, dengan pendekatan deduktif, maka spiritualitas di hilir akan juga berubah, yang akan berdampak nyata terhadap totalitas prilaku.
Sebuah pendekatan spiritualisme ring jagat Bali, tentu berbeda “hasilnya” jika pendekatannya ekonomi pasar kapitalistik sekuler, berdasarkan hitung-hitungan matematika kekuasaan.
Dalam perayaan raina Galungan timbul pertanyaan reflektif: apakah umat Hindu Bali rela Besakih “dianiaya”, sehingga PHDI Pusat dan PHDI Bali yang mewakili kepentingan umat Hindu berdiam diri berpangku tangan.
Pertanyaan yang lebih menukik dari sisi kesejarahann Besakih, apakah “warih” keturunan: Rsi Markandya, Rsi Kesari Warmadewa, pengempon Pura Catur Lawa (semeton: Pande, Pasek, Dukuh, Penyarikan), Cri Kresna Kepakisan (memperoleh mandat memimpin Bali berbasis spiritualisme Besakih), Ida Dalem Waturenggong bersama patihnya Bendesa Agung Gelgel I Gusti Agung Kyayi Klapadhyana, dan umat Hindu Bali lainnya rela dan kemudian diam berpangku tangan, menyaksikan kekalahan spiritualisme Besakih melawan ekonomisme turistik sekuler berbasis hitung-hitungan matematika kekuasaan?.
Pertanyaan reflektif yang semestinya dicarikan jawaban bersama oleh umat Hindu Bali di manapun berada, yang masih setia dengan sistem keyakinan: ” Giri Toh Langkir Mraga Lingga Widhi”.
Rahajeng nyanggra raina Galungan lan Kuningan.
Rahayu.

Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma), forum diskusi intelektual Hindu.