Klungkung ( Metrobali.com )-
Suara kukul bulus berkumandang di wilayah Desa Selat Klungkung, sontak warga  berhamburan kel uar rumah dengan membawa alat seadanya. Pasalnya proyek pembangunan SMP Kerta Wisata yang sempat dihentikan Kamis lalu kembali dikerjakan oleh pihak panitia pembangunan , Padahal,  petugas tehknis saat itu sudah sepakat tidak akan bekerja sebelum ada hasil dari rapat warga desa setempat. Namun pada Minggu 18/11 dilihat oleh warga, buruh bangunan dilihat bekerja kembali.

Proyek SMP Kertawisata di Desa Selat, Klungkung inipun semakin tidak karuan. Padahal proyek tersebut bantuan pemerintah pusat dengan nilai Rp 270 juta lewat DAK yang dilaksanakan Swakelola Pembagunan sekolah dengan Konsultan CV Sastra Disain tersebut Minggu ( 18/11 ) sekira pukul 13.00 wita di grudug warga Selat. Sekitar 200 warga langsung menyerbu proyek tersebut dan menghentikan paksa pengerjaan yang tengah dilakukan. Begitu warga berdatangan 11 pekerja langsung lari tunggang langgang.

Terpantau ketika Metrobali.com bertandang ke TKP tampak warga Desa Selat yang berjumlah kurang lebih 200 orang baik laki dan prempuan berjajar diluar ruangan klas sebelah barat SMP Kerta Wisata. Pihak keamanan polres Klungkung dan TNI Kodim 1610 Klungkung terlihat berjaga untuk mengamankan situasi.    Terpantau tenaga Tehknis I Gede Sila yang didamping pangawas pelaksana CV Sastra desain yang mengaku bernama Rudi berada di ruangan kelas kerumini warga.

Menurut Rudi dirinya tidak tahu permasalahannya. ” Saya tidak tahu permasalahan dibawah, saya hanya sebagai pelaksanakan untuk mengawasi pekerja disuruh kerja saya kerja ” ujarnya. Jika sperti ini.. ya apa boleh dikata nanti saya akan melapor kejadian ini ke Disdikfora, ujarnya.

Menurut Gusti Miyura yang juga wakil Bandesa Adat Selat mengakui warga turun karena kulkul bulus yang dia bunyikan. Menurutnya warga turun karena merasa tertantang oleh pernyataan pihak kontraktor. Diakuinya sebelum warga turun dirinya sempat mendatangi proyek tersebut dan bertemu dengan pengawas pelaksana. “Saya sempat tanyakan kenapa proyek dilanjutkan padaha Kamis lalu sudah diperingatkan agar di stop dulu,” ujarnya.

Baca Juga :
Keselamatan Siswa Harus Menjadi Prioritas Pembukaan Sekolah

Malah saat itu dirinya sempat mengatakan kalau tidak mau dihentikan dirinya akan nepek Kulkul bulus agar warga turun untuk menghentikan pekerjaan tersebut. menurut Miyura yang mengecewakan ternyata pihak Peleksana menyatakan silakan saja. Akhirnya dia pun membunyikan kul kul bulus dan warga selat langsung berdatangan menuju ke TKP. Warga sempat memenas dengan beteriak teriak agar proyek dihentikan.

Namun setelah dikonfirmasi, menurut konsultan pengawas Rudy mengatakan saat Petajuh Desa Adat Selat Miyura tersebut mengatakan akan membunyikan kulkul bulus dia mengatakan agar hati hati. “Saya hanya bilang kalau mau bunyikan kulkul bulus agar dipikirkan baik baik,” ujarnya.

Sementara menurut bagian teknis pelaksana Gede Sila Darma mengatakan pihak pelaksana berani melanjutkan proyek swaklola tersebut karena sudah mendapat lampu hijau dari pihak Disdikpora Klungkung. Warga sempat teggang dan meminta proyek di hentikan sebelum ada hasil paruman.

Sementara itu menurut Bendesa Adat Selat Wayan Sudiarsa paruman akan dilakukan hari Minggu (25/11) mendatang untuk membehas soal kelanjutan proyek tersebut.

Miyura mengatakan kalau warga sudah final menolak proyek tersebut dan mengembalikan gedung tersebut seperti sedia kala sebagai penyimpanan sarana upacara untuk Desa Adat.

Untuk diketahui proyek ini sendiri beru berjalan 40 persen. Tembok sendiri tidak dibongkar total hanya tambal sulam. Sementara bagian atasnya yang mengelami pembongkaran total dan rencana akan diganti dengan kontruksi baja ringan. Nampak material seperti kontruksi baja masih berserakan di halaman sekolah.

Sudiarsa juga mengakui kalau warga menolak proyek tersebut. ini berawal dari ketersinggungan warga karena pihak pelaksana tidak berkordinasi terlebih dulu dengan Desa Adat sebelum dilakukan pembongkaran. Memang ada pengajuan ijin hanya saja tidak jelas yang mana akan dibongkar. Selama ini gadung yang dimanfaatkan SMP tersebut adalah bagian selatan. Akhirnya tepat pukul 14.30 wita warga pun membubarkan diri dan kemabali pulang kerumah masing masing.

Baca Juga :
Menkeu: perekonomian global buat pajak isu internasional

Sementara Kadisdikpora Klungkung Wayan Ringin mengatakan kisruh proyek tersebut karena mis komunikasi. Diakuinya kalau Bupati sempat memanggil tokoh tokoh masyarakat soal proyek tersebut. Yang jelas menurut Ringin secara mekanisme tidak ada pelanggaran pada proyek tersebut. Pihaknya mengaku murni melaksanakan program pemerintah.

Diakui Ringin, kalau saat pertemuan dengan Bupati sejumlah tokoh masyarakat ada yang ngotot agar proyek tersebut tidak dilanjutkan. Untuk itu pihak Dinas menurut Ringin sudah melakukan pendekatan dengan Desa Adat Selat selaku pemilik lahan. Ini dilakukan agar proyek tersebut bisa berjalan. Selain itu pihak Dinas juga tidak diberikan kepastian kapan paruman akan dilakukan. Sedangkan waktunya semakin mepet. Kalau tidak segera dilakukan maka ini bisa menjadi temuan BPK.

“Kalau tidak dilaksanakan bisa menjadi temuan BPK. Kalau begini siapa yang bertanggung jawab,” ujar Ringin yang juga sebagai istri Bupati Klungkung tersebut. Ringin sendiri dengan kondisi seperti ini pisimis proyek tersebut bisa kelar. “Ini murni niat kita untuk membantu masyarakat. Sulit loh bisa dapat bantuan dari pusat seperti ini,” paparnya. SUS-MB