Proyek Sekolah SMP Kertawisata Ditolak: Hasil Rapat Prajuru Desa Selat

single-image

Klungkung ( Metrobali.com )
Kisruh renovasi gedung SMP Kertawisata mencapai puncaknya. Seteleh sempat warga ngelurug ke sekolah untuk menghentikan paksa  renovasi tersebut pada hari selasa ( 20/11 ) resmi ditolak. Penolakan ini ke luar setelah Desa Adat Selat, Klungkung melakukan rapat Prejuru.
Bahkan pihak Desa menuntut pihak Panitia rehab gedung tersebut mengembalikan kembali Gedung tersebut seperti semula. Karena bangunan tersebut akan dipergunakan untuk penyimpenan milik Desa. Karena Gedung ini sebelumnya telah di bongkar pihak panitia rehab. Ini mencuat setalah rapat yang dihadiri Kades Selat Wayan Sudiana dan para prejuru Selasa (20/11). Pertemuan yang dilakukan di kantor Desa tersebut mulai pukul 13.00 wita. Selain para prejuru Desa Selat hadir dalam pertemuan tersebut hadir juga panitia rehab yakni Gusti Ketut Wija dan Kepala SMP Kerta Wisata, Wayan Suardana. Dalam rapat yang sempat tegang tersebut kedua orang ini sempat “diadili” para prejuru Desa tersebut.
Sementara itu  Gusti Lanang Dwija Putra, bersama Gusti Lanang Murya ke rumah bupati tidak mewakili krama. Saat itu keduanya juga telah mengutarakanya penolakan pembagunan tersebut sebelum ada paruman adat yang merupakan keputusan adat Selat.
Malah menurut Dwija, Bupati mengatakan saat itu jika pembagunan tidak berlanjut maka uang bisa ditarik kembali. Sementara lanjut Gusti Lanang, pihak Kadus juga sempat mendatangi Disdikpora Klungkung sebanyak lima kali. Mereka datang untuk mempertanyakan dokumen terkait rehab sekolah tersebut. Hanya saja pihak Disdikpora saat itu tidak memberikan dokumen tersebut dengan alasan rahasia Negara.
Sementara untuk diketahui SMP Kertawisata menyewa gedung sekolah di sebeleh selatan yang dipakai saat ini. Namun faktanya gedung di utara yang dibongkar. Padahal gedung ini dimanfaatkan oleh Desa untuk penyimpenan alat alat upacara. “Ini jelas menyimpang dari aturan,” ujar Gusti Lanang.

Baca Juga :
Desa Adat Banjarsayan Laksanakan Karya Atma Wedana Bupati Dukung Dana Upakara 700 Juta

Hal yang sama juga dikemukakan prajuru Br. Pande, Ketut Sukarasa. Sukarasa juga menyayangkan pihak Disdikpora yang selama ini tidak turun untuk menengahi persoalan. Mestinya pihak Disdikpora hadir untuk menyelesaikan masalah ini. Yang jelas pembangunan gedung tersebut ditolak empat banjar.

Sukaresa juga mempertanyakan laporan warga ke Polisi terkait laporan pembongkaran gedung tersebut. menurutnya laporan tersebut sampai saat ini tidak ada tindak lanjutnya. Malah sempat ada ancaman kalau pihaknya akan membunyikan kulkul bulus agar warga datang ke Polisi menanyakan laporan tersebut. Untuk itu Sukarasa juga mengatakan tidak ada yang dirugikan dalam penolakan ini. Karena sesuai dengan keterangan Bupati kalau pembagunan tidak jadi maka uang bisa dikembalikan. Karena itu dia juga menuntut panitia proyek tersebut untuk mengembalikan gedung tersebut seperti semula.

Sementara itu atas tuntutan pihak panitia Gusti Wija maupun Kepala Sekolah, Wayan  Suardana belum bisa memberikan keputusan. Diapun akan berkordinasi lagi dengan pihak Disdikpora terkait keputusan prajuru tersebut. Tapi saat itu  penjelasan Sudiarta sempat dipotong oleh mantan Kepala Desa Nengah Buda. Sebelum pertemuan selesai,  Nengah Buda yang juga prajuru adat Selat ini juga mengatakan kalau pertemuan yang dimediasi Kades Selat ini sebenarnya untuk mencari keamanan di desa. Jadi menurut dia tidak perlu lagi membahas yang lain. Karena pada intinya warga telah menolak pembangunan gedung SMP tersebut. Apalagi  penolakan warga ini sudah disampikan ke Bupati, Disdikpora maupun anggota DPRD dan MMDP. Sehingga yang perlu dicari dalam pertemuan tersebut adalah keamanan di desa. “Kami di desa tidak ada cari masalah. Jangan salahkan kami jika pembangunan diteruskan,” tandasnya. SUS-MB 

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.