Jakarta (Metrobali.com)-
 Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Syamsuddin Haris mengatakan perilaku negatif partai politik memicu apatisme pemilih pemula karena hilangnya kepercayaan kepada peserta pemilu.

“Partai politik di Indonesia selama ini lebih banyak mempertontonkan sesuatu yang umumnya negatif. Misalnya, kasus PKS dengan skandal sapinya dan Demokrat dengan Hambalangnya. Tentu ini membuat pemilih pemula tidak berminat menggunakan hak pilihnya,” ujar Syamsuddin Haris di Jakarta, Rabu (29/5).

Sehingga, lanjut Syamsudin, potensi tidak memilih atau golongan putih (golput) di kalangan pemilih pemula dikhawatirkan cukup tinggi, meskipun sebagian yang lain ingin merasakan memilih untuk pertama kalinya.

Syamsudin mengemukakan perlu sosialisasi intensif oleh Komisi Pemilihan Umum dan partai politik yang menjelaskan bahwa pemilu akan menentukan masa depan bangsa.

“Nah, sosialisasi itu masih sangat minim. Jadi, skala sosialisasinya harus makin diintensifkan,” ujar Syamsudin.

Namun, menurut dia, sosialisasi intensif akan sia-sia apabila perilaku parpol belum berubah, sehingga parpol perlu mengubah perilaku di depan publik agar masyarakat merasa harapan untuk kemajuan bangsa masih ada. INT-MB