Denpasar (Metrobali.com)-

Satuan Reserse Kriminal Polres Badung, Bali, tengah memeriksa empat saksi terkait pencurian benda pusaka yang disakralkan umat Hindu atau “pretima” yang terjadi di empat pura di Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.

“Kami saat ini masih lidik kasus itu dan sedang memeriksa empat saksi dari ‘pengempon’ (penanggung jawab) masing-masing di empat pura itu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Badung, AKP I Wayan Arta Aryawan di Denpasar, Kamis (30/5).

Menurut dia tidak mudah mengungkap kasus pencurian benda pusaka itu karena tim penyidik menemui beberapa kendala.

Selain karena sebagian besar pura tidak memiliki penerangan cukup, sejumlah “pretima” yang ada di pura juga tak dilengkapi oleh dokumentasi berupa foto yang dinilai bisa memudahkan proses identifikasi.

“Belum ada data tambahan, saya mohon masyarakat agar bersabar karena masih dalam tahap penyelidikan,” ucapnya.

Empat pura yang dibobol pencuri yang diperkirakan lebih dari satu orang itu di antaranya Pura Dalem Sangut di Dusun Beng, Pura Puseh Anggunan di Dusun Anggunan, Pura Puseh Kangin (Pura Pusering Jagat) di Dusun Senapahan, dan Pura Panti Dusun Senapahan.

Keempat pura tersebut terletak cukup berdekatan namun jauh dari pemukiman warga di Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.

Diduga aksi pencurian itu dilakukan pada Rabu (29/5) dini hari sehingga tak seorangpun warga yang melihat kejadian tersebut.

Dari empat pura itu, pencuri tidak berhasil membawa kabur “pretima” yang tersimpan di gedong penyimpanan di Pura Dalem Sangut. Sedangkan di tiga pura lainnya, “pretima” telah raib digasak pencuri.

Polisi dari Polres Badung dan Polsek Petang pada Rabu (29/5) telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari petunjuk awal kejadian itu.

Pencurian “pretima” di Badung dan di seluruh Pulau Dewata bukan kali pertama terjadi.

Pada tahun 2012, sedikitnya 27 pura dilaporkan mengalami kehilangan benda-benda sakral.

Meski telah berhasil menangkap lima orang tersangka, namun aksi pencurian “pretima” hingga kini kembali marak terjadi. INT-MB