Denpasar, (Metrobali.com)

 

Asia Pacific Music Meeting (APaMM) kembali berlangsung di Ulsan, Korea. Ajang ini adalah wahana musik global yang mempertemukan nilai-nilai artistik dari berbagai musik lokal di kawasan Asia-Pasifik dan memperkenalkannya ke luar negeri. ApaMM sangat digandrungi para seniman sebagai salah satu hub dunia dalam industri musik.

Hadir dari Indonesia dalam gelaran akbar tersebut pegiat industri musik asal Bali Anom Darsana. Ini merupakan kali ketiga ia diundang dalam acara tersebut. Melalui komunikasi teks Anom menyampaikan bahwa APaMM merupakan ajang yang luar biasa bagi para musisi dunia.

“Boleh dibilang APaMM ini merupakan tempat yang wah bagi para musisi untuk melihat langsung berbagai warna musik lokal dari seluruh penjuru dunia. Itulah membuat saya sangat antusias merekomendasikan musisi-musisi Tanah Air ke ajang itu” Ujar Anom Darsana, dari Antida Music Production, Sabtu, 3 September 2018.

 

Memang, mengusung slogan “International Music Network for Music”, APaMM tidak hanya menggelar pertunjukan musik. Di dalamnya ada empat program antara lain Board Meeting, Conference, dan Business Meeting. Di situ para artis, pejabat industri musik, dan masyarakat akan memberikan banyak perhatian dan partisipasi. Tahun ini, selain Anom Darsana, dari Indonesia diundang pula Ronny Loppies dari Ambon Music City.

Hubungan Anom Darsana dengan APaMM memang sangat dekat. Sebelumnya, Antida Music Productions juga sempat mengundang dan membawa musisi-musisi Korea unuk tampil di Indonesia, khususnya di Bali. Mereka antara lain Kim So Ra, musisi Korea yang Mei lalu tampil pada acara TedX Ubud; Naedrum, musisi Korea yang tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) pada bulan Juli lalu; dan A-FUZZ, musisi korea yang tampil pada Ubud Village Jazz Festival pada Agustus ini.

 

Tentang Ulsan, ia adalah sebuah kota di bagian tenggara di Korea Selatan. Kota ini merupakan kota yang menghadap ke Laut Jepang. Letaknya sekitar 70 km di utara Kota Busan. Ulsan memiliki riwayat sebagai kota ikan paus karena pada zaman dahulu masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai pemburu ikan paus. Belakangan, ketika Pemerintah Korea menggalakkan industri kreatif, kota ini dipromosikan sebagai Kota Musik.

Tahun ini Pemerintah Korea Selatan secara resmi menggelar pembangunan “kota bawah laut” untuk mempertahankan lingkungan hidup bawah laut bagi masyarakat. (RED-MB)