Pemulihan Ekonomi Bali, Pasca Pandemi, Perspektif Hindu

Metro Bali
single-image

 

Oleh: I Gde Sudibya
Teologi dan sistem etik kehidupan.
” Vasudhaiva Kutumbakam”, dalam taf sir Sarvelli Radhakrishnan, intelektual ternama penulis buku: Indian Filosofi: manusia dilahirkan dari “Ayah dan Ibu” yang sama, sehingga kita bersaudara.
Teologi dan sistem etik kehidupan ini, seharusnya di tingkat kebijakan publik, melahirkan kebijakan yang berkontribusi pada penciptaan struktur: ekonomi, politik dan sosial kultural yang lebih adil, karena kesamaan dan persamaan manusia. Kebijakan yang bercirikan : preferential for the poor.
Dalam pandangan S Radhakrishnan bahwa tidak ada stabilitas sosial tanpa keadilan, tidak ada perdamaian tanpa keadilan, dan tidak ada kedamaian di hati tanpa perdamaian.
Berangkat dari teologi dan sistem etik kehidupan ” Vasudhaiva Kutumbakam”  diatas, upaya pemulihan ekonomi Bali pasca pandemi, dari perspektif Hindu, mempersyaratkan:
a. Paket penyelamatan ekonomi Bali, safeguard clausule policy, istilah yg.lazim di kalangan para ekonom, fokus ke penyelamatan ekonomi kaum miskin,rentan menjadi miskin dan kalangan ekonomi masyarakat menengah bawah, yang turun kelas menjadi rentan miskin.
b.Paket penyelamatan di butir 3a di atas, dalam bentuk safety social net, kebijakan jaring pengaman sosial, mulai dari BLT, bantuan keluarga harapan dan paket bantuan lainnya, disalurkan secara cepat, berbasis data yang semakin kredibel, untuk mengerem turun tajamnya daya beli, akibat kelesuan ekonomi pasca pandemi.
c. Paket penyelamatan usaha industri pariwisata, sangat mendesak untuk dilakukan, untuk meminimalkan risiko kebangkrutan usaha, melalui dana talangan perkreditan, dalam bentuk: pembebasan bunga di masa krisis, penundaan angsuran pokok, perpanjangan kredit sampai ekonomi Bali pulih kembali. Dengan ekonomi Bali tumbuh negatif sekitar 9 persen tahun lalu, bandingkan dengan ekonomi nasional hanya tumbuh negatif 2 persen, menggambarkan terjadi penciutan usaha secara umum pada seluruh pelaku usaha pariwisata.
d. Merosotnya daya beli masyarakat di sektor non industri pariwisata, harus dihindari, melalui kebijakan stabilisasi produk pangan, holtikultura, guna melindungi kepentingan ekonomi masyarakat petani dan masyarakat lainnya yang rentan menjadi miskin.
e. Lembaga keuangan mikro: LPD, Koperasi dan BPR yang selama ini menjadi pemasok dana bagi UMKM dalam ekonomi Bali yang bercirikan ” small is beautiful “: skala usaha kecil, relatif efisien, adaptif terhadap perubahan, semestinya diselamatkan.
Krisis Ekonomi Akibat Pandemi
Krisis ekonomi akibat pandemi, semestinya sebagai momentum untuk menata ekonomi Bali ke depan, yang ciri dasariahnya adalah sosialisme religius, melalui koreksi kebijakan:
a. Skala investasi yang ukurannya kecil, dengan prioritas ke pelaku ekonomi yang menjadi penyangga kebudayaan Bali.
b. Kembali ke basis Pariwisata Budaya, sebagai koreksi dari ekonomisme pariwisata dan bahkan kapitalisme pariwisata yang biaya sosial dan lingkungannya sangat mahal.
c. Terjadi integrasi antar sektor ekonomi, terutama dengan sektor pertanian, sehingga pertumbuhan ekonomi ke depan lebih berkualitas: berkeadilan dan dan ramah lingkungan.
e. Tercipta prilaku ekonomi, yang lebih menggambarkan kesederhanaan, kebersahajaan kehidupan, ekonomi dengan pengendalian diri, Mahatma Gandhi menyebutnya: self controlled economy.Bukan ekonomi yang melipatgandakan keinginan tanpa batas, keserakahan, greedy economy.
f.  Revitalisasi ethos kerja tangguh manusia Bali di masa lalu, menggambarkan kesederhanaan, ketangguhan kerja dalam sistem harmoni dengan alam.

Baca Juga :
Painless Advice Of Brides International Examined
Tentang Penulis
 I Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ), Ketua Departemen Ekonomi Politik WHP ( World Hindu Parisad ), Denpasar.
Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.