Foto: Aksi kampanye Kebaya Goes To UNESCO di areal Pasar Badung dan Tukad Badung pada Selasa, 9 Agustus 2022.

Denpasar (Metrobali.com)-

Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali bersama Dharma Wanita LLDikti Wilayah VIII, menggelar berbagai kegiatan di areal Pasar Badung dan Tukad Badung dalam mendukung kampanye Kebaya Goes To UNESCO. Salah satu pakaian khas Indonesia ini akan didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Acara kampanye Kebaya Goes To UNESCO di areal Pasar Badung dan Tukad Badung pada Selasa pagi, 9 Agustus 2022 ini dikemas dalam spirit Sinergi Pang Pade Payu melibatkan berbagai pihak. Mulai dari Perumda Pasar Sewaka Dharma Kota Denpasar, Yayasan Bali Tresna Sujati, PKK Kota Denpasar, Pusat Studi Undiknas, KBMHD Undiknas, Jegeg Bagus Undiknas, Perempuan Pemimpin Indonesia Provinsi Bali, Perempuan Indonesia Maju Provinsi Bali, Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) Provinsi Bali, dan berbagai pihak lainnya.

Dalam aksi kampanye Kebaya Goes To UNESCO semua peserta perempuan menggunakan kebaya baik model kartini maupun kutubaru. Aksi ini sebagai bentuk support moral dan aksi nyata agar kebaya bisa diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sehingga kebaya yang merupakan bagian jati diri perempuan Indonesia semakin diakui dunia serta menjadi kebanggan dari Indonesia.

Aksi kampanye Kebaya Goes To UNESCO ini diawali dengan aksi penuangan ezo enzyme di Tukad Badung atau yang lebih populer dikenal sebagai Tukad Korea. Harapannya ekosistem di sungai atau Tukad Badung ini menjadi lebih bersih.

Kegiatan dilanjutkan dengan para peserta aksi melakukan pembentangan spanduk dan tulisan dukungan Kebaya Goes To UNESCO. Mereka penuh antusias menunjukkan kepada dunia bahwa dari Bali dukungan Kebaya Goes To UNESCO terus bergema. Terlebih juga perempuan Bali dalam kesehariannya sudah tidak asing lagi dengan kebaya.

Baca Juga :
Buka Loka Karya Festival Panen Hasil Belajar, Bupati Suwirta Minta Guru Penggerak Ciptakan Inovasi Yang Terukur dan Berkualitas

Acara juga dimeriahkan dengan aksi demo masak oleh Tupperware dimana para ibu-ibu ini juga melakukan aksi masak dengan menggunakan kebaya kesayangan mereka. Keseruan para peserta aksi berlanjut saat mereka blusukan ke Pasar Badung untuk berbelanja, menemui para pedagang pasar yang sebagian besar juga sudah menggunakan kebaya.

 

 

Sambil berbelanja, mereka menggugah kesadaran pedagang pasar agar menggunakan kebaya dalam kegiatan berjualan sehari-sehari. Terlebih juga ada bahan kebaya yang bisa nyaman digunakan sehari-hari tanpa juga meninggalkan kesan fashionable atau kekinian.

Ketua Panitia Kegiatan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO di Pasar Badung dan Tukad Badung Ir. IGA Agung Mirah Maheswari mengungkapkan secara nasional kegiatan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO berlangsung dari 9 Agustus hingga 9 Desember 2022.

Menurut Gung Mirah yang juga pengurus Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali ini, di Bali kampanye ini juga terus digaungkan terlebih momennya juga tepat bertepatan dengan digelarnya KTT G20 di Pulau Dewata. Hal ini juga menjadi kesempatan menunjukkan kepada dunia bahwa kebaya dipakai di seluruh Indonesia terutama di Bali.

“Kebaya akan dicatatkan sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO. Dan kami memberikan dukungan penuh. Kita gunakan kebaya dalam keseharian apalagi keseharian kita di Bali sudah biasa menggunakan kebaya. Jadi yang ditekankan adalah kenyamanan dalam berkebaya,” ujar Gung Mirah.

 

Gung Mirah melanjutkan milenial juga diharapkan semakin mencintai kebaya dan menggunakan kebaya dalam kesehariannya serta bisa merasa nyaman berkebaya. Para generasi muda ini juga diajak peduli lingkungan dalam aksi penuangan eco enzyme di Tukad Badung.

“Tidak hanya ibu-ibu yang berkebaya, kami harapkan milenial, anak-anak muda juga merasa nyaman berkebaya, jadi tidak hanya dalam kegiatan tertentu tapi nyaman digunakan sebagai busana sehari-hari,” sambung Gung Mirah.

Baca Juga :
KE-CILAKA-AN

Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali Dr. AA Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H.,mengungkapkan pihaknya bersama-sama Dharma Wanita L2Dikti Wilayah 8 dan komunitas lainnya dari Bali ingin menunjukkan kepada dunia Indonesia sejak dulu menggunakan kebaya.

Kebaya adalah jati diri perempuan Indonesia dan juga khusunya perempuan Bali. Diyakini Bali yang identik dengan kebaya bisa memberikan warna berbeda, dari Bali untuk Indonesia dan Indonesia untuk UNESCO.

“Kita bersama-sama mendukung Kampanye Kebaya Goes To UNESCO. Ketika bicara kebaya dunia akan melihat Indonesia,” ujar Tini Gorda.

Ketua Dharma Wanita L2Dikti Wilayah 8 I Gusti Ayu Ngurah Eva Intan Swandhewi mengungkapkan LLDikti mendukung penuh penuh Kampanye Kebaya Goes To UNESCO dan mendorong agar para perempuan di L2Dikti Wilayah 8 menggunakan kebaya misalnya dalam berbagai kegiatan seperti arisan. Pihaknya juga mengaku bangga Indonesia mempunyai pakaian tradisional kebaya yang bisa dikenalkan ke seluruh dunia.

“Kami harapkan Dharma Wanita lainnya mengikuti langkah mendukung berkebaya. Dan kami bangga kebaya agar bisa Goes To UNESCO dan menjadi kebanggan Indonesia,” ujar Eva.

Kepala Bagian Kebersihan dan Keamaan Perumda Pasar Sewaka Dharma Kota Denpasar Nyoman Suastika mengungkapkan Perumda Pasar Sewaka Dharma Kota Denpasar juga mendukung penuh kegiatan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO. Terlebih juga sudah ada MoU dengan Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali dimana pedagang Pasar Badung akan wajib menggunakan kebaya setiap hari Selasa dan Kamis.

“Kebaya Goes To UNESCO ini menjadi harapan kita bersama dan kami di Pasar Badung mendukung itu. Ke depan rencananya pada Selasa dan Kamis para pedagang perempuan berkewajiban memakai kebaya,” katanya.

Sementara itu Gung Tini Gorda menambahkan pihaknya memulai kegiatan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO dari pasar Badung karena pasar adalah motor penggerak ekonomi dan banyak perempuan berada di pasar baik sebagai pedagang maupun pembeli. Sehingga harapannya pasar menjadi contoh penggunaan kebaya dalam keseharian.

Baca Juga :
Convenient Advice In edusson reviews essaysrescue Across The Usa

“Dari PBI Bali kami adakan MoU dan untuk mendedikasikan semangat kami, dalam lima tahun ke depan kami akan membina selama lima tahun Pasar Badung akan menjadi Pasar Wisata Berkebaya. Mohon dukungannya dari Bali untuk Indonesia,” ujar Tini Gorda.

Gung Tini Gorda yang juga Ketua Pusat Studi Undiknas ini melanjutkan bahwa kegiatan Kampanye Kebaya Goes To UNESCO akan berlanjut dengan aksi lainnya seperti berbagai lomba fashion show dan event melibatkan Jegeg Bagus Undiknas pada pertengahan September 2022 di Secret Garden, Denpasar.

Sementara itu para pedagang di Pasar Badung juga mendukung penuh aksi Kampanye Kebaya Goes To UNESCO ini, sederhananya dengan menggunakan kebaya saat berjualan di pasar. Mereka juga berharap ke depan bisa dibantu dengan bahan kebaya yang bisa nyaman digunakan sehari-hari. (wid)