Jembrana (Metrobali.com)

Saat ini iklim selalu tidak menentu, akibatnya petani sawah sering dihadapkan dengan problema, utamanya disebabkan oleh faktor iklim. Untuk mengantisipasinya pemerintah melalui BMKG melakukan terobosan dan langkah – langkah konkret untuk mengantisipasi para petani sawah dalam produksi pangan khususnya tanaman padi. Oleh karena itu, guna meningkatkan produktivitas dan produksi sawah, Selasa (23/3), pemerintah melalui BMKG menggelar Sekolah Lapangan Iklim (SLI) di Balai Subak Tibu Beleng, Desa Penyaringan, Mendoyo – Jembrana.

Kegiatan ditandai dengan pemotongan pita oleh Kepala Balai BMKG Wilayah II Bali Agus Wahyu Raharjo bersama Komisi IV DPR RI A.A. Bagus Adhi Mahendra Putra, Kepala BPPT Bali I Made Rai Yasa, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama serta Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana Aminudin Al Roniri.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, Sekolah Lapangan Iklim ini sangat strategis untuk pembelajaran kepada petani untuk mengantisipasi perubahan iklim yang terjadi saat ini. “Dengan diselenggarakannya SLI ini dampak perubahan iklim tersebut dapat diantisipasi oleh mereka para petani, salah satu contoh ketika iklim kering, petani bisa tahu varietas apa yang ditanam pada iklim tersebut. Kedepannya tentu pola – pola tanam itu akan berubah seiring kondisi iklim di Jembrana. Tentu akan berubah mengikuti secara ilmiah dari ramalan BMKG,”kata Sutama.

Kepada para peserta, Sutama berpesan agar bisa mengikuti kegiatan ini dengan sungguh – sungguh dan sebaik – baiknya sehingga dapat memberikan manfaat secara optimal. “Semoga dengan SLI ini petani nantinya memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang iklim sehingga nantinya bisa meningkatkan produksi dan produktivitas sawah dalam rangka mewujudkan ketersediaan dan ketahanan pangan khususnya di Jembrana,”kata Sutama.

Baca Juga :
Indonesia Ajak Taiwan Investasi di Sektor Pertanian

Disisi lain, Kepala Balai BMKG Wilayah II Bali Agus Wahyu Raharjo menyampaikan, kegiatan sekolah lapangan iklim yang diselenggarakan BMKG ini diharapkan bisa menjadi bagian dari edukasi untuk petani. Ia menyebut sejak dahulu masyarakat Bali telah memiliki pengetahuan dalam menetukan musim tanam yang umum disebut “padewasan”, namun akibat perubahan iklim global, perhitungan musim/iklim yang yang digunakan tersebut kerap kali mengalami pergeseran. “Perubahan iklim yang terjadi saat ini menyebabkan pola tanam jadi berubah. Oleh karena itu kehadiran BMKG kesini guna mengedukasi masyarakat khususnya petani untuk bisa memperhatikan informasi klimatologi iklim yang diberikan oleh BMKG untuk meningkatkan hasil panen agar hasilnya bisa mencapai maksimal,”ujarnya.

Sementara Kepala Subak Tibu Beleng Nyoman Tehnik, mengaku senang dan mengucapkan terimakasih karena telah memilih subak Tibu Beleng untuk melaksanakan Sekolah Lapangan Iklim. Ia berharap kedepan kegiatan tersebut bisa terus terlaksana dan lebih ditingkatkan lagi. “Dengan adanya sekolah lapangan iklim ini, subak kami jadi tahu tentang perubahan iklim. Jadi ketika saat mengadakan kegiatan pola tanam nantinya bisa mengantisipasi apa yang terjadi dan bisa memilih varietas apa yang cocok ditanam pada saat iklim tersebut,”ujarnya

Terkait pelaksanaan kegiatan, Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana Aminudin Al Roniri mengatakan, peserta sekolah lapangan iklim tahun 2021 diikuti sebanyak 30 orang yang terdiri dari 24 orang petani dari subak Tibubeleng dan 6 orang PPL/POPT dari BPP kecamatan Mendoyo. Sementara untuk waktu pelaksanaannya akan berlangsung dari bulan Maret hingga bulan Juli 2021. (Humas Pemkab Jembrana)