Gianyar (Metrobali.com)-

Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-990, Desa Pakraman Batuan, Sukawati, Gianyar menggelar sejumlah kegiatan diantaranya parade budaya yang melibatkan ratusan orang penari dan seniman dari sembilan banjar yang ada di Desa Pakraman setempat. Sedikitnya ada delapan parade budaya yang wakili masing-masing banjar dipentaskan untuk meramaikan HUT Desa Batuan. Parade budaya dibuka langsung Bupati Gianyar, DR. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace di Jaba Pura Desa Batuan belum lama ini.
Ketua Panitia, I Made Suamba Selasa (25/12) mengatakan, peringatan HUT ke-990 merupakan peringatan yang baru pertama kali dilaksanakan masyarakat Desa Batuan. Berdasarkan Prasasti Batuan, Desa Batuan dibentuk pada tahun Caka 938 – 948. Untuk memeriahkan peringatan HUT ini, panitia telah melaksanakan berbagai kegiatan diantaranya parade budaya yang menampilkan potensi seni dari masing-masing Banjar yang ada di Desa Batuan.
Penampilan pertama dari Banjar Delod Tunon yang menampilkan fragmentari yang berjudul “Bukit Buwung”. Tarian tersebut mengisahkan mitos tentang terbentuknya sebuah bukit dan tempat pemandian di wilayah Banjar Dlodtunduh. Bukit tersebut berasal dari sebuah gunung buatan pada masa pemerintahan Ki Mekel Luglugan. Karena gunung tersebut menyamai ketinggian Gunung Agung, Besakih, Karangasem  maka para Dewa Murka karena menganggap Ki Mekel Luglugan ingin menyami kekuatan Dewa. Akhirnya turunlah Dewa Wisnu ke bumi dengan wujud babi hutan ganas.
Sosok babi hutan tersebut berhasil menghancurkan Gunung dan hanya menyisakan sebentuk bukit yang kemudian bernama “Bukit Buwung”. Tarian apik ini dibawah arahan Wayan Purnawan dan Sang Ayu Alit Puspa Dewi dengan penata tabuh Ketut Bren Sukaja serta  Putu Arya Sumarsika dengan dibawakan oleh STT Tunas Sari.
Penampilan kedua mempertunjukkan Tari “Wiradaning Kartika” yang menceritakan tentang awal keberadaan Dewa Ganesa yang diciptakan oleh Dewi Parwati. Dengan penata tabuh oleh I Kadek Adi Santana dan penata tari,  I Kadek Oktarianto tarian ini berhasil memukau penonton.
Ksatria Mahutama merupakan fragmen tari ke-tiga yang dibawakan Tempekan Semeton.
Tarian ini membawakan cerita tentang perebutan Kerajaan Kiskenda oleh Subali dengan Sugriwa. Pada penampilan keempat, Banjar Tengah mempersembahkan “Niwatakwaca Antaka” yaitu kisah tentang tapa brata Arjuna di Gunung Indrakila. Tarian ini dibawah garapan Ni Luh Putu Ika Agustini dengan penata karawitan dan gerak I Wayan Gde Purnama Gita.
Pralayaning Detya Kawaca menjadi penampilan ke lima yang dibawakan oleh Banjar Puaya. Banjar Peninjoan menjadi peserta ke enam dengan membawakan fragmentari yang menceritakan Dewi Uma yang dikutuk Betara Guru. Dengan judul “Sapuh Mala” tarian ini dibawakan STT Widyatmika. Banjar Pekandelan menjadi penampil ke tujuh dengan fragmentari “Gocek” sedangkan Banjar Dentiyis menjadi penampil ke delapan dengan membawakan pragmentari “Bismanta” yang dibawakan STT setempat.
Pada penampilan terakhir Parade Budaya Batuan ditutup penampilan Banjar Jeleka dengan judul “Narasingan Awatara” yang berkisah tentang manivestasi Dewa Wisnu menjadi sosok manusia berkepala singa.
Bupati Gianyar, DR. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati  menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya parade budaya yang diselenggarakan masyarakat Batuan itu. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadikan seni dan budaya di Desa Batuan semakin berkembang. Selain itu dengan acara parade budaya ini diharapkan  semakin meningkatkan persatuan masyarakat Batuan sekaligus menampilkan potensi yang dimiliki tiap-tiap banjar yang ada di Desa Pakraman Batuan, Sukawati, Gianyar. ADI-MB
Baca Juga :
SIADEK Bantu Proses Pemutakhiran Data Pemilih KPU Badung