Denpasar (Metrobali.com) 

 

Seniman Lukis Ni Nyoman Sani dan Jemana Murti merasa terpanggil untuk hadir dalam mengetengahkan karya lukisannya di Pameran RESURRECTION” di Art Xchange Gallery yang berlangsung di Warung Kopi Bali Sanur yang rencananya dibuka secara resmi pada 3 April 2022. Mereka berdua menjadi representasi perupa Bali yang berkontribusi dalam pameran lukis ini.

“Apalagi tema intinya adalah untuk semata-mata memajukan pariwisata Bali dengan harapan akan semakin banyak para pecinta seni dan kurator yang menyaksikan pameran seni lukis ini,” kata Benny Oentoro, B. A., Kolektor seni dari Xchange Gallery yang menginisiasi pameran ini, Jum’at (1/4/2022).

Menurutnya, Tema pameran seni ini adalah “RESURRECTION” dengan menampilkan 27 seniman dari dalam maupun luar negeri, diantaranya Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali hingga Malaysia dan Macedonia. Karya-karya yang kami tampilkan adalah karya patung, instalasi dan lukisan. Karya lukisannya meliput gaya abstrak, naif, realis, surealis, hingga hiperrealis.

“Resurrection” jika diartikan dalam bahasa Indonesia, berarti ‘Kebangkitan”. Menurut Benny, seni rupa belakangan ini seolah sudah mati. Budaya konsumerisme telah mematikan pasar seni rupa. Orang tidak lagi menghargai seni rupa dengan cara seperti dulu. Perupa tidak lagi menciptakan seni demi seni itu sendiri. Alih-alih, mereka memproduksi seni secara massal dan menciptakan seni demi uang. Pentingnya menciptakan seni tidak lagi terletak pada mutu atau jiwa karya seni, melainkan terletak pada likuiditasnya. Semuanya demi mendapatkan uang secepat-cepatnya.

“Besok, Minggu (3/4) rencananya pameran dibuka untuk para kurator dan kolektor seni nasional dan mancanegara dan keesokan harinya Senin (4/4) dibuka untuk umum,” terang Benny.

Pameran lukis yang menampilkan karya-karya masterpiece para seniman ini menjadi angin segar buat para pecinta seni untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan perupanya.

Baca Juga :
LSM Kecam Pengesahan Paket Bali

“Pengunjung dapat berinteraksi langsung face to face dengan para seniman terkait proses pembuatan dan tingkat kesulitannya,” ujar Benny.

Ni Nyoman Sani, Seniman kelahiran Kota Denpasar yang ikut berpameran ini adalah seniman dengan karya unik berkonsep kuat yang banyak mengangkat tema perempuan. Sani sejak kecil sudah tertarik menggambar, namun kegemarannya itu tidak mendapat dukungan keluarga. Meskipun demikian, bakat seni rupa yang ada dalam dirinya terus dipupuknya dengan tekun berlatih menggambar. Ia berkuliah seni rupa di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar (sekarang Institut Seni Indonesia Denpasar) pada tahun 1995 – 2000.

Semangat berkesenian Sani diilhami perjuangan ibunya, seorang pekerja keras yang sangat tangguh. Berbekal kemampuan berdagang benda kerajinan, sang ibu membimbing anaknya untuk meraih impian. Sani menggemari ilustrasi fesyen dan akhirnya memutuskan untuk menekuni fine art dengan mengambil tema perempuan.

Bagi Sani, bagian tersulit dalam berkarya adalah mengakumulasikan apa yang dilihat dan diserapnya. Karya Sani kerap menghadirkan bentuk tubuh dan wajah perempuan dengan warna-warna gelap dan terang. Pilihan warna ini tergantung pada suasana hati Sani. Menurutnya, perempuan ibarat malaikat bagi dirinya sendiri, namun juga bisa menjadi racun untuk dirinya sendiri, tergantung pada apa yang ia lakukan.

Dalam berkarya, Sani biasa menggunakan cat akrilik, cat air, cat minyak, dan dermatograph. Karya yang dihadirkan kali ini terinspirasi dari wajah anaknya dengan nuansa bunga matahari yang mengingatkan pada kebun bunga matahari miliknya.

Sebagai pelaku seni, Sani berkeyakinan bahwa komitmen dalam berkesenian adalah kunci utama menuju karier yang terus berkembang. Baginya, karyanya ibarat buku perjalanan hidup yang ditulis untuk anak-anaknya. (hd)