panusunan siregar

Denpasar (Metrobali.com)-

Nilai tukar petani (NTP) Bali mengalami peningkatan dari 93,40 persen pada Juli 2014 menjadi 93,63 pada Agustus 2014.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Panusunan Siregar di Denpasar, Jumat (5/9) mengatakan, subsektor tanaman pangan yang terdiri atas padi dan palawija (NTP-P) di Bali menyumbang kenaikan sebesar 0,24 persen.

“Peningkatan NTP tersebut berkat kenaikan indeks yang diterima petani (It) sebesar 0,75 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks yang dibayar petani (lb) sebesar 0,50 persen,” kata Ia mengatakan, kenaikan indeks yang diterima petani didorong oleh naiknya indeks pada kelompok padi-padian sebesar 0,67 persen, yang disebabkan oleh naiknya harga gabah di tingkat petani sebagai dampak turunnya suplai gabah pasca-berakhirnya musim panen raya.

Harga gabah kering panen (GKP) pada bulan Agustus 2014 rata-rata di atas harga pembelian pemerintah (HPP), yakni divtingkat petani sebesar Rp3.870,13/kg dan di tingkat penggilingan Rp3.930,18/kg.

Panasunan Siregar menambahkan, kelompok palawija mengalami kenaikan indeks sebesar 0,95 persen antara lain disebabkan oleh naiknya harga kacang kedelai sebesar 5,27 persen, kacang hijau 3,08 persen dan ubi jalar 1,89 persen.

Sementara kenaikan indeks yang dibayar petani didorong oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,54 persen serta biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) 0,33 persen.

Hasil Sensus Pertanian 2013 menunjukkan petani yang mengelola tanaman padi di Bali mencapai 147.887 rumah tangga (RT) atau 67,65 persen dari total rumah tangga tani yang ada di daerah ini sebanyak 218.591 rumah tangga.

Sisanya rumah tangga yang mengelola tanaman palawija sebanyak 101.289 rumah tangga serta 30.585 rumah tangga mengelola komoditas ganda yakni padi dan palawija.

Dari 147.887 rumah tangga tanaman padi sebanyak 146.610 rumah tangga atau 99,14 persen mengelola tanaman padi sawah, sementara yang mengelola tanaman padi ladang hanya 1.324 rumah tangga atau 0,90 persen.

Panasunan Siregar menambahkan, subsektor tanaman pangan merupakan salah satu dari lima komponen pembentukan NTP Bali. Dari lima komponen itu tiga di antaranya mengalami kenaikan dan dua terjadi penurunan.

Ketiga komponen yang mengalami kenaikan selain sub sektor tanaman pangan juga sub sektor hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat.

“Sementara dua komponen lainnya yang mengalami penurunan adalah sub sektor peternakan dan subsektor perikanan,” ujar Panusunan Siregar. AN-MB