Moeldoko mengaku pernah hidup terlunta-lunta

single-image

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) TNI Moeldoko di Jakarta, Selasa. (Indriani)

Jakarta (Metrobali.com) –
Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) TNI Moeldoko mengaku pernah hidup terlunta-lunta setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jombang, Jawa Timur.

“Saya bosan miskin, sudah tidak tahan lagi saat itu. Alhamdulillah semua berubah karena saya sekolah,” ujar Moeldolko di hadapan ratusan mahasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di Jakarta, Selasa.

Dia menambahkan jika tidak sekolah, mungkin dia saat ini bekerja sebagai pengembala kambing. Namun karena ia pantang menyerah, nasibnya pun berubah menjadi lebih baik.

Moeldoko merupakan alumni Akabri 1981 dan meraih Bintang Adhi Makayasa. Sejumlah penghargaan diraih dan pada 2014 Moeldoko juga meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia.

Moeldoko mengaku yakin pendidikan merupakan satu-satunya cara baginya untuk keluar dari lingkar kemiskinan. Oleh karenanya, Moeldoko berusaha untuk terus sekolah.

“Anda tidak akan bisa maju tanpa bekerja keras. Untuk itu harus terus bekerja keras dan pantang menyerah,” pesan Moeldoko yang pernah menjabat sebagai Panglima TNI itu.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko memberikan pesan kepada mahasiswa untuk memiliki prinsip yakni mau mendengarkan, jujur, cerdas, inovatif, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, tegas, pantang menyerah, dan taat beribadah.

“Prinsip ini masih saya pegang sampai saat ini,” kata dia lagi.

Begitu juga, Indonesia jika ingin menjadi negara maju maka harus memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Tanpa SDM yang unggul, maka akan sulit bagi Indonesia menjadi negara maju.

Moeldoko menyontohkan negara tetangga seperti Singapura, yang mana memiliki sumber daya alam yang terbatas namun karena SDM unggul maka bisa menjadi negara maju.

Baca Juga :
Kuatkan Daya Saing SDM Tenaga Kerja, Kadin Bali Jalin MoU dengan Universitas Mahasaraswati

Dalam kesempatan itu juga diputar video mahasiswa PMDSU yakni Lailatul Qomariyah yang meraih gelar doktor di Institut Teknologi Sepuluh November. Lailatul merupakan anak seorang pengayuh becak di Pamekasan, Madura. (Antara)

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.