Denpasar (Metrobali.com)-

Pro-kontra perombakan kurikulum nasional terkait penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris serta penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS di jenjang pendidikan dasar (SD) terus bergulir. Namun, sebagian kalangan dari akademisi dan praktisi pendidikan menyampaikan sikap menolak dan meminta perombakan kurikulum nasional lebih mengacu kepada penguatan muatan pendidikan karakt

Kepala SD Cipta Dharma, Sri Mulyathi, mengatakan sebaiknya proses perombakan kurikulum nasional di tingkat SD terutama terkait penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris perlu dikaji secara menyeluruh. Jika mengacu pada perkembangan global saat ini sebaiknya mata pelajaran bahasa Inggris jangan dihapuskan. “Tapi justru materinya yang perlu dikurangi dan menyesuaikan dengan tingkatan dari kemampuan anak didiknya (siswa) secara berjenjang,” ujarnya.

Sedangkan, katanya, untuk penggabungan mata pelajaran IPA dan IPS mungkin dapat diterima, tapi tetap harus mengacu kepada realitas dan kondisi ke depannya ketika anak didiknya (siswa) saat memasuki jenjang pendidikan menengah maupun perguruan tinggi nantinya. Apalagi pendidikan dari jenjang tingkat dasar maupun menengah dan perguruan tinggi memang harus bersinergi, karena saling terkait. “Kalaupun gabung atau tidak, materi mata pelajaran IPA dan IPS tetap harus dikurangi, karena selama ini bebannya cukup berat,” tegasnya.

Lebih jauh, dia juga berharap materi mata pelajaran Agama Hindu yang diberikan selama ini agar dikaji ulang untuk dikurangi, dengan menyesuaikan kebutuhan anak didik (siswa) secara berjenjang. “Saya melihat anak didik (siswa) cukup sulit menyerap mata pelajaran Agama Hindu karena materi yang disampaikan terlalu banyak,” jelasnya. IJA-MB

Baca Juga :
Wiranto: Pengungkapan Dalang Kerusuhan 21-22 Mei Bukan Rekayasa Pemerintah