Jakarta (Metrobali.com) –

Bangga dan dan haru mengenang jasa Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan di Indonesia sejak masa penjajahan hingga saat ini Indonesia telah merdeka dan bergerak menuju arah yang lebih maju. “Tapi saya mau bicara dari hati saya, intinya adalah bahwa ki hajar dewantara sesungguhnya adalah pahlawan yang hampir dilupakan oleh kita generasi penerus, Saya sebagai generasi yang menikmati kemerdekaan, dan besar di alam mulainya Indonesia membangun kemerdekaan,” sambungnya.

Hal tersebut dikemukakan oleh Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto saat Perayaan 1 Abad Tamansiswa di Tenis Indoor Senayan Jakarta, Minggu 24 Juli 2022.

Pihaknya akan menyumbangkan buku untuk keluarga besar Tamansiswa sebanyak 4.000 buku yang nantinya diserahkan kepada pengurus di Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan lainnya seperti Presiden Pertama, Soekarno, Bung Hatta dan Jendral Sudirman, serta masih banyak yang lainnya. “Tapi kita mulai menganggap ki hajar dewantara sebagai figur yang menyumbang pikiran, tetapi sesungguhnya kita kurang paham betapa besar jasa Ki Hajar Dewantara kepada bangsa Indonesia,”

Menhan Prabowo mengingatkan kepada semua peserta yang hadir untuk tetap memegang teguh nilai-nilai ajaran Ki Hajar Dewantara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, Tut Wuri Handayani.

Panitera Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Saur Panjaitan XIII yang juga sebagai Ketua Panitia Piusat Perayaan 1 Abad Tamansiswa, 24 Juli 2022 menyampaikan bahwa Tema besar 1 Abad Tamansiswa, Kebangkitan Tamansiswa yaitu Menggelorakan kebersamaan nasional dan keteladanan Bapak Pendidikan Nasional. di Usia 100 Tahun ini dan memasuki abad ke dua ini kita gelorakan Kembali dalam semangat kebersamaan tiada henti dan letih untuk mewujudkan perkataan KHD ini : Tamansiswa hendaknya merupakan wadah dari segala aliran yang mengabdi kepada kepentingan umum, kepentingan nusa dan bangsa dan kepada kepentingan manusia semesta, di dalam arti Tamansiswa hendaknya menjadi penyatu dan penyelaras daripada segenap aliran yang mencita-citakan suatu masyarakat tertib damai salam dan Bahagia

Tamansiswa Bangkit memulai abad ke-2, dengan menggelorakan kebersamaan dan keteladanan KHD, dengan saling asah-asih-asuh, dengan tertib damai, salam Bahagia.

Hadir dalam acara tersebut selain Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto, Ki Nanang Rekto Wulanjaya yang merupakan cucu Ki Hadjar Dewantara, Ketua Umum Tamansiswa yang juga Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Prof Sri Edi Swasono.

Panitera Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Saur Panjaitan XIII yang juga sebagai Ketua Panitia Pusat Perayaan 1 Abad Tamansiswa, 24 Juli 2022.

Tema besar 1 Abad Tamansiswa, Kebangkitan Tamansiswa yaitu Menggelorakan kebersamaan nasional dan keteladanan Bapak Pendidikan Nasional. di Usia 100 Tahun ini dan memasuki abad ke dua ini kita gelorakan Kembali dalam semangat kebersamaan tiada henti dan letih untuk mewujudkan perkataan KHD ini : Tamansiswa hendaknya merupakan wadah dari segala aliran yang mengabdi kepada kepentingan umum, kepentingan nusa dan bangsa dan kepada kepentingan manusia semesta, di dalam arti Tamansiswa hendaknya menjadi penyatu dan penyelaras daripada segenap aliran yang mencita-citakan suatu masyarakat tertib damai salam dan Bahagia

Baca Juga :
Atlet Bali Kecewa Dicoret Dalam PON Remaja

Tamansiswa Bangkit memulai abad ke-2, dengan menggelorakan kebersamaan dan keteladanan KHD, dengan saling asah-asih-asuh, dengan tertib damai, salam Bahagia.

Ki Nanang Rekto Wulanjaya, yang merupakan cucu Ki Hadjar. Dalam sambutannya, menyampaikan kisah kakeknya (Ki Hadjar Dewantara) dalam mendirikan Tamansiswa, 3 Juli 1922 yang lalu, menyampaikan kisah kakeknya (Ki Hadjar Dewantara) dalam mendirikan Tamansiswa, 3 Juli 1922 yang lalu, sekitar 4.000 peserta, yang datang dari berbagai cabang-cabang Tamansiswa. SIswa, Pamong, dan para alumni. Hadir para Pimpinan dan senior Tamansiswa dari pusat Tamansiswa di Yogyakarta.

Menurutnya, Ki Hadjar Dewantara menyakini bahwa membangun peradaban bangsa adalah melalui membina Pendidikan bagi generasi muda bangsa tersebut. Kesadaran berhamba kepada sang anak sebetulnya merupakan cara yang cerdas di dalam mninggikan peradaban dan kebudayaan bangsa. Suatu Ketika, KHD berkata kepada salah satu putranya : bahwa tiada pemberian yang lebih baik dari orang tua kepada anaknya melainkan mendidik dengan membekali mereka kepada budi pekerti yang baik.

Tamansiswa memulai abad ke 2 dalam perjuangan kita membangun kebudayaan bangsa menuju kejayaannya dengan saling menggelorakan semangat persatuan dengan membawa sifat dan kelembutan adab, lapang dada, murah hati dan penuh kasih sayang sebagaimana dalam semangat: “keindahan yang membatasi kekuasaan/kekuasaan yang memuja cinta kasih/Kebijaksanaan yang menegakkan keadilan”.

100 tahun ini kembali mengingat kepada kata-kata KHD kepada Ki Bambang, ayah saya. KHD sebut ayahnya mendidiknya: “..Hiduplah merdeka, janganlah mengharap pemberian orang lain. Jalani darmamu dengan iklas.Kamu lihat pohon sawo itu, dahan rimbun, jika ada ranting yang patah, janganlah kamu bersedih. Yakinlah akan ada ranting yang lain meski tidak tumbuh dari dahan yang sama.Tidak tumbuh dari dahanku”.

Kami menyakini 100 Tahun ini, Tuhan Yang Maha Esa akan menumbuhkan Kembali ranting-ranting yang kokoh dari sekalian yang hadir di sini ataupun yang tidak berada di tempat ini. Semoga Rindang Rimbun Pohon Tamansiswa dengan segenap rantingya akan menghiasi Kembali Taman Indah KeIndonesiaan Kita.

“Terima Kasih dari kami kepada segenap saudara-saudara yang telah mengabdikan diri di perguruan Tamansiswa. Terima kasih kepada segenap saudara yang sudah mencintai kakek dan nenek kami. Semoga Salam dan Bahagia bagi pejuang dan pembangun jiwa merdeka,” .

Baca Juga :
Toshiba Asia Pasific Indonesia Siap Beroperasi Oktober

Selanjutnya Ketua Umum Taman siswa Prof Sri Edi Swasono menyampaikan bahwa Seratus tahun yang lalu Ki Hadjar mendirikan Tamansiswa, untuk mendidik murid-murid sekolah Tamansiswa menolak penjajahan. Penjajah Belanda melakukan penindasan, penistaan dan diskriminasi terhadap kaum anak-negeri. Tamansiswa melakukan perlawanan, namun secara lijdelijk verzet (melawan dengan cara non-violence). Bagi Pemerintah Kolonial Belanda, Tamansiswa tentulah merupakan duri dalam daging.

Ki Hadjar-lah yang meletakkan dasar dan arah pendidikan nasional Indonesia, yang berdasar kebangsaan. Ditegaskan oleh Ki Hadjar:
“…Pengajaran harus bersifat kebangsaan … . Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita…”. (31 Agustus 1928).

Ki Hadjar bersama ‘founding fathers’ lainnya, ikut berperan mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia. Ki Hadjar adalah anggota BPUPKI dan anggota PPKI. Perjuangan dan kepahlawanan Ki Hadjar yang hebat tercatat dalam sejarah. Ketika Indonesia Merdeka, Ki Hadjar diangkat sebagai Menteri Pengajaran pertama RI.

Selanjutnya, setelah Ki Hadjar Dewantara wafat, beliau dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahir Ki Hadjar tanggal 2 Mei ditetapkan oleh Bung Karno sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kemudian Ki Hadjar ditetapkan pula oleh Negara sebagai Pahlawan Nasional.

Kemudian pada 29 Mei 1961 Ki Hadjar memperoleh kehormatan menerima Satya Lencana Kemerdekaan. Dan lebih lanjut, melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 6 September 1977, “Garuda Cakra Tamansiswa” diangkat sebagai Logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang bertuliskan Tut Wuri Hadayani, yaitu kalimat luhur yang ketiga dari Trilogi Kepemimpinan-nya Ki Hadjar Dewantara.

Tanggal 4 Juli 2022, Taman siswa mulai menginjak “Abad Kedua”-nya. Lalu apa modal Tamansiswa menghadapi abad keduanya ini?

Pembukaan UUD 1945 menegaskan perkataan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Banyak yang tidak paham maknanya. Pada tahun 1973 Bung Hatta menjelaskan, yang dimaksudkan dengan “mencerdaskan kehidupan bangsa”, adalah mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia, menumbuhkan kesadaran akan harga-diri dan percaya-diri, tidak lagi minderwaardig sebagai Inlander, yang oleh penjajah digolongkan sebagai berkasta terendah, di bawah kasta kaum Eropa, bahkan di bawah kasta kaum Timur Asing. Jadi “kehidupan”-nyalah yang harus dicerdaskan, bukan sekedar mencerdaskan “otaknya”.

Apa yang dijelaskan Bung Hatta itu menyimpulkan bahwa “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah suatu konsepsi budaya. Dengan demikian ini, maka “Proklamasi Kemerdekaan” perlu pula kita pahami sebagai suatu “Proklamasi Budaya”. Yaitu konsepsi budaya untuk menggelorakan budaya merdeka, menampilkan budaya berdaulat, budaya yang menolak ketergantungan pada pihak manapun, artinya mengemban sikap budaya mandiri atau sikap budaya berdikari.

Baca Juga :
Rem Truk Blong, Tabrakan Beruntun di Jalan Neraka

Bung Karno sering memberi contoh tentang keberdikarian dan kedigdayaan, sebagai lawan dari ketertundukan, sambil menepuk dada, Bung Karno mengucapkan kalimat mandhirèngé pribadi: “endi dhadhamu, iki dhadhaku”. Suatu sikap mandiri yang paripurna.

Bung Karno pun menantang dunia, agar hubungan antarbangsa dasarnya haruslah solidaritas dan keadilan. Bung Karno meneriakkan “to build the world anew”, yang beliau teriakkan di PBB tahun 1960.

Kehidupan yang cerdas sebagai konsepsi budaya semacam itu, digariskan pula oleh Ki Hadjar, yaitu membentuk sikap budaya ngandel, kandel, kendel dan bandhel.

Lebih dari itu, Ki Hadjar menegaskan bahwa pendidikan harus diarahkan untuk membentuk “manusia merdeka”, yaitu manusia yang berdisiplin, memiliki prinsip hidup, tidak tergantung kehidupannya pada orang lain, artinya yang ber ‘zelf-bedruiping’, namun tetap menghormati dan tunduk kepada kebersamaan sosial, menolak egoisme yang mengutamakan pamrih pribadi.

Dengan kata lain “mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah membentukkan sikap teguh-hati, percaya-diri dan ber-dignity, untuk mampu menjaga kemerdekaan dan keberdaulatan nasional. Inilah nasionalisme dan patriotisme dalam kiasan kalimat adiluhung.

Dalam kaitan konsepsi budaya dari “mencerdaskan kehidupan bangsa” ini, adalah benar ketika Presiden Joko Widodo menginginkan dimulainya suatu “revolusi mental”, yang selaras dengan semangat “Proklamasi Budaya” seperti saya kemukakan di atas.

Tugas kita di Tamansiswa adalah meng-eja Proklamasi Budaya itu dalam wujud kurikulum dinamis di ruang-ruang kelas anak-anak kita.

Apa yang dikemukakan Ki Hadjar, Bung Karno dan Bung Hatta di atas merupakan modal historis (menggariskan inti dan arah pendidikan) sekaligus modal budaya adiluhung bagi Bangsa Indonesia, khususnya bagi Tamansiswa.

Ki Hadjar adalah Ketua Panitia Kecil Bagian Pendidikan dan Pengajaran untuk merumuskan draft Pasal 31 UUD 1945. Pasal 31 ini merumuskan maknanya secara strategis: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional…”.

Perkataan “satu sistem pengajaran nasional” tentu dimaksudkan untuk menghadapi kebhinnekaan bangsa Indonesia, agar pendidikan nasional mentransformasikannya menjadi ketunggalikaan.

Menyatukan kebhinnekaan menjadi ketunggalikaan, intinya adalah memperkokoh “persatuan”. Persatuan Indonesia adalah suatu sinergisme nasional, l’union fail la force – unity makes strength, yang merupakan idaman lama dari Ki Hadjar, Bung Karno dan Bung Hatta.

Mari melangkahkan kaki kita mulai tanggal 4 Juli 2022, untuk memasuki “Abad Kedua” Tamansiswa, dengan “modal historis”-nya serta dengan “modal budaya adiluhung” sebagaimana dikemukakan dan diteladankan oleh Ki Hadjar, Bung Karno dan Bung Hatta. Ini akan menjadikan Indonesia sepenuh-penuhnya merdeka dan berdaulat, bersatu, adil dan makmur.

Hanya dengan demikian kita itu bisa ikut melaksanakan ketertiban dunia, bisa ikut mendesain wujud dan arah globalisasi berdasar perdamaian abadi dan keadilan sosial mondial. (hd)