Meneladani Martha Christina Tiahahu

Metro Bali
single-image

martha christina tiahahu

 

Ketika ditangkap dan dipaksa menjadi budak di perkebunan kopi di Pulau Jawa, dia menolak. Bahkan penolakan itu dilakukannya dengan mogok makan sampai ajal menjemput.

Betapa keras dan konsistennya dia dalam perjuangan menolak perbudakan dan penjajahan sampai mengorbankan nyawa. Baginya tetap menjadi orang terhomat dan berjuangan bagi kemartabatan bangsanya atau lebih baik mati daripada menjadi budak.

Kisah itu merupakan klimaks dari serangkaian hidup dan kehidupan Marta Christina Tiahahu. Kisahnya pahit dan ironis, karena tidak terlalu banyak orang tahu, meskipun dia adalah salah satu pahlawan nasional.

Atas peran Archipelago Solidarity Foundation kisah Martha Christina kembali diangkat. Pada 27 Januari 2015 pun diselenggarakan diskusi bertema “Memaknai Warisan Nilai Juang Martha Christina Tiahahu”.

Menurut Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl Oek Engelina Pattiasina, pertemuan ini sebenarnya akan selenggarakan pada awal Januari 2015 lalu, sekaligus memperigati kelahiran Martha. Namun, baru dapat dilaksanakan pada hari itu.

Pertemuan dengan tema Martha Christina Tiahahu ini sesungguhnya merupakan yang kedua dalam dua tahun terakhir ini. Sebelumnya, bersama Gerakan Maluku Kaya, juga diselenggarakan pertemuan tentang spirit kepahlawanan Martha Christina Tiahahu di Ambon pada September 2014.

Serangkaian kegiatan ini dipersiapkan terkait hari lahir Martha Christina Tiahahu di Nusalaut, Maluku pada 4 Januari 1800, dari pasangan Kapitan Paulus Tiahahu dan Pieterzina Warlau.

Martha Christina tercatat sebagai pejuang kemerdekaan yang unik, yaitu seorang putri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817.

Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya.

Sejak awal perjuangan, dia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ketika memasuki pertemuan hingga ajal datang.

Baca Juga :
Sekjen PBB "Teraganggu" Oleh Serangan Terhadap Rombongan Pengungsi Di Ukrania

Martha Christina wafat pada 2 Januari 1818 di atas Kapal Eversten dalam pelayaran menuju Pulau Jawa, dan jenazahnya disemayamkan di Laut Banda.

Martha Christina wafat dalam usia remaja nyaris 18 tahun. Walaupun untuk saat ini biasa disebut dengan istilah anak baru gede (ABG), namun Martha menorehkan sejarah besar bagi bangsa dan negaranya.

Itulah sebabnya, negara menyematkan gelar pahlawan nasional, sebuah penghargaan tertinggi di negara ini. Martha Christina ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969.

Kolonialisme “Saya ingin mengajak kita untuk sedikit membayangkan situasi pada 1800-an, di mana seorang gadis remaja dari Nusalaut mengambil keputusan untuk melakukan perjuangan melawan kolonialisme, penindasan, ketidakadilan dan perbudakan,” ucap Engelina.

Martha Christina melakukan semua itu karena merespon situasi dan kondisi yang terjadi di Nusalaut dan sekitarnya. Dalam pertempuran itu, Martha Christina tertangkap.

Tetapi, Martha melakukan protes terhadap penangkapannya dan memilih untuk tidak berkompromi. Martha Christina menolak untuk dijadikan budak di perkebunan kopi di Pulau Jawa. Tindakan melawan perbudakan ini dilakukan ketika Abraham Lincoln masih berusia delapan tahun.

Martha Christina melakukan mogok makan dan minum sampai meninggal di atas kapal yang membawanya ke Pulau Jawa untuk jadi budak di perkebunan kopi. Peristiwa ini lepas dari catatan dunia, sehingga dunia lebih mengenal Marion Dunlop sebagai perempuan pertama yang melakukan mogok makan pada 1909.

Padahal, Martha Christina telah melakukan hampir satu abad sebelumnya.

Setara  Keterlibatan Martha dalam perang fisik itu terjadi justru ketika kaum perempuan masih tersisihkan akibat begitu kentalnya sistem patrilineal. Tetapi, Martha telah tampil untuk setara dengan kaum pria dalam melakukan perlawanan.

Baca Juga :
Lima Arahan Terbaru Presiden Terkait Penanganan Pandemi Covid-19

Dari sedikit rekaman kisah Martha Christina, ada banyak keteladanan, nilai dan inspirasi yang tetap diperlukan dewasa ini. Yang diperjuangkan Martha pada masa lalu masih tetap ada sampai saat ini, tetapi muncul dengan wajah dan penampilan yang baru. Semua itu terarahkan untuk tetap meneguhkan kemanusiaan dan keadilan.

Martha Christina dan para generasi terdahulu telah bertindak sesuai masanya atau bahkan melampaui zamannya. Kini, ada tantangan tersendiri bagi semua orang di negeri ini untuk mengisi dan meneruskan perjuangan Martha Christina.

Di depan publik negeri ini, masih ada kemiskinan, ketertinggalan, kebodohan dan kesejahteraan yang harus dijawab untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Hal-hal seperti itu yang mengilhami Martha berjuang sampai ujung hidupnya di dunia ini. Kisahnya patut didengungkan kembali.

Itulah sebabnya, pertemuan kedua ini dilaksanakan di Jakarta agar bisa dihadiri bukan hanya orang Maluku saja, tapi orang dari berbagai latar belakang dan profesi. Ini semata-mata agar perjuangan Martha Christina Tiahahu dikenal lebih luas, karena Martha Christina memberikan banyak inspirasi dan nilai perjuangan yang layak diteladani.

Selain itu, juga sebagai dorongan kepada pemerintah agar lebih peduli terhadap tempat kelahiran Martha Christina Tiahahu. Bahkan telah usulkan agar Nusalaut dan sekitarnya menjadi “world heritage” (warisan dunia).

Begitu juga dengan pulau lain yang sangat indah, seperti Manusela, Seram dan kepulauan di wilayah Tenggara. Misalnya, Pulau Larat. Kalau ini dapat direalisasikan sebagai warisan dunia, maka akan sangat bagus bagi seluruh Maluku.

Publik yang hadir dalam diskusi ini juga menyuarakan agar berbagai program kemasyarakatan dan kenegaraan selalu berlandaskan pada semangat juang para pahlawan, termasuk Martha Christina. Jangan sampai anak-anak sekolah dan para ABG lebih mengenal heroisme tokoh dari luar negeri daripada pahlawan negerinya.

Baca Juga :
Nice Slender Pomegranate seed extract Review

Apalagi kenyataan menunjukkan meskipun Martha Christina sudah jauh hari menjadi pahlawan nasional, berapa buku pelajaran sekolah yang mengulas nama dan perjuangannya? Gedung-gedung baru terus dibangun dan ruang-ruang pertemuan terus dipersiapkan.

Begitu juga banyak ruas jalan dilakukan perbaikan dan jalan baru terus dibangun. Namun, berapa yang menggunakan nama Martha Christina?.

Peserta diskusi ini mengingatkan agar heroisme Martha Christina jangan sampai tenggelam seperti jasadnya yang tenggelam di Laut Banda. AN-MB

Bagikan :

Leave a Comment

Your email address will not be published.