Denpasar (Metrobali.com)-

Seakan tak pernah mengenal lelah. Meskipun usianya kini telah memasuki 74 tahun. Wajahnya penuh kerutan dan rambutnya sudah memutih. Tapi semangat kreatifnya terus menggeliat. Begitulah semangat dari sosok maestro pendongeng Bali, I Made Taro, yang sangat popular dalam jagat seni permainan tradisional anak-anak.

Kini pendongeng kelahiran Sengkidu, Karangasem tahun 1939 ini kembali meluncurkan buku terbarunya berjudul Dongeng untuk Presiden. Buku ini berisikan sebanyak 27 cerita dongeng yang sangat aspiratif dan edukatif sebagai upaya pembentukan karakter bangsa. Karena dongeng yang disajikan dalam buku setebal 151 halaman ini cukup mampu mengapresiasi fenomena kehidupan masyarakat kekinian yang sangat populer dengan gaya hidup pragmatis dan sangat hedonis.

Kepada awak media, Made Taro menegaskan bahwa penerbitan buku dongeng terbarunya ini terinspirasi dari sebuah peristiwa seperempat abad lalu tentang surat-menyurat seorang bocah Uni Soviet yang bertanya kepada Presiden Amerika Serikat, “Mengapa harus berperang?”. Dan, dijawab oleh sang presiden, “Semua orang cinta perdamaian”. “Jadi tujuan dari buku dongeng untuk presiden ini hampir sama dengan surat menyurat yang ditulis oleh bocah Uni Soviet tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, buku dongeng ini dimaksudkan sebagai sebuah kumpulan cerita yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang seharusnya bermanfaat untuk seorang Presiden. Dalam konteks ini, presiden bukan semata-mata berarti kepala pemerintahan atau kepala negara, melainkan semua pemimpin mulai dari kepala rumahtangga, kepala desa, ketua partai, sampai dengan presiden, perdana menteri, raja, ratu, sultan, kaisar atau kanselir.

Katanya, menjadi presiden/pemimpin itu sulit. Karena ia harus belajar dari banyak pengalaman dan pengetahuan termasuk belajar dari kisah-kisah yang tergolong sastra klasik. Presiden hendaknya berani mengorbankan diri untuk keselamatan rakyatnya seperti kisah ‘Jembatan Kera’ (India), Ia juga harus jujur dan bersih dari penyelewengan kekuasaan seperti kisah sindiran ‘Pengadilan Tuak’ (Bali), dan ‘Ikan Tuna untuk Sang Raja’ (Myanmar) serta kisah ‘Harga Seekor Kucing’ (Swedia).

Di samping itu, presiden juga harus mampu menghormati dan menghargai para pendahulunya seperti kisah ‘Kakek dalam Keranjang’ (Nepal), Ia juga dituntut harus mampu menciptakan situasi dan suasana damai serta menghargai keberagaman seperti kisah ‘Jembatan Kayu (Amerika Serikat), dan kisah ‘Burung Kedidi dan Ikan Paus’ (Kep. Marshal) dan kisah ‘Nyanyian Mohon Hujan’(Indian Amerika). “Selain itu sesungguhnya masih banyak petuah dari kisah dongeng yang menarik dan inspiratif untuk seorang pemimpin/presiden dari Jepang, Timur Tengah, Thailand dan tentunya dari negeri kita, Indonesia,” tegasnya.

Lebih jauh, nominator peneriman penghargaan pengabdi seni dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-35 tahun ini mengakui kisah dongeng untuk presiden ini sengaja ditulis dengan teknik campuran sastra lisan dan sastra tulis serta melalui alur cerita yang sederhana, gaya bahasa yang segar dan menarik. Selain itu, disertai pula pemecahan masalah dan perenungan yang lebih mendalam, sehingga mudah dipahami, dinikmati dan dihayati.

Diharapkan, buku dongeng ini nantinya dapat memberikan nilai manfaat bagi pengembangan pribadi anak-anak sesuai dengan konteks kehidupan kekinian. “Buku ini sudah pasti jauh dari sempurna. Semoga pemikiran yang jernih dapat memberikan hasil yang bermanfaat bagi kita semua ke depannya,” pungkasnya.

Sekadar mengingatkan bahwa sastrawan Bali, peraih hadiah Sastra Rancage tahun 2005 ini telah merilis sedikitnya 35 buku dan sempat meraih sekitar 12 penghargaan dari pemerintah maupun non pemerintah sebagai pendidik, pelestari kebudayaan, penulis buku, storyteller, pembina sastra daerah, pencipta lagu, dan permainan anak-anak, serta meraih penghargaan Anugerah Kebudayaan dari presiden RI tahun 2009. WB-MB