Jembrana (Metrobali.com)-
Hujan deras pada Kamis (18/10) kemarin alhasil mengakibatkan longsor di empat titik di Banjar Bungbungan, Desa Yehembang. Longsor  yang paling parah adalah rumah milik Agung Komang Suryadana dan satu unit rumah yang dijadikan gudang juga ikut ambrol. Lantaran kejadian tersebut sang istri histeris melihat kejadian yang menimpa rumahnya itu.
 Menurut keponakan Suryadana Agung Made Doster, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (18/10) sore sekitar pukul  16.30 wita. Hujan yang melanda di wilayah Banjar Bungbungan membuat tanah di pekarangan rumah Suyadana yang juga seorang Kepala SD Negeri 2 Bungbungan retak. Selain itu tanah pekarangan yang juga berdiri bangunan gudang berukuran 5 X 6 meter sebagai tempat penyimpanan kayu dan barang elektronik seperti komputer, tape dan radio juga ikut tergerus tanah .
Sementara sisa-sisa kayu bangunan dan alat-alat elektronik akhirnya terkubur longsoran tanah. “Awalnya tanah pekarangan tersebut akan dibuatkan senderan dengan ketinggian mencapai enam meter di atas permukaan tanah dan panjang  15 meter karena melihat kondisi tanah yang miring. Namun belum sempat kering senderan tersebut malah sudah ambrol duluan akibat hujan. Peristowa longsor ini  terjadi untuk yang kedua kalinya, makanya saya ingin  buatkan senderan agar tidak longsor lagi.”jelas Made Doster yang ketika dijumpai Jumat pagi dirumahnya.
 Selain itu istri Agung Komang Suryadana hingga saat ini masih shock, bahkan istrinya sempat menangis histeris saat Perbekel Yehembang, I Ketut Wadia menyambangi tempat kejadian bersama aparat Pol PP Jembrana. “Ini kejadian sudah untuk yang ke dua kalinya mungkin dilema dan menangis sambil ngomel-ngomel,” jelasnya. Hingga saat ini kerugian akibat longsor tersebut hingga puluhan juta rupiah, karena selain bangunan gudang ambruk, senderan yang baru dibangun juga jebol serta barang-barang elektronik milik pamannya rusak.
 Sementara itu longsor juga terjadi di tanah milik Wayan Pariana warga Banjar Bungbungan, Desa Yehembang yakni tembok pekarangan jebol dan rumah milik Nengah Wintia yang berada di tebing  sebelah barat rumahnya longsor dan menimpa tiga bangunan Sanggah.
Menurut Wintia longsor terjadi sekitar pukul 16.00 wita pada Kamis kemarin. “Sebenarnya saya takut tinggal di bawah tebing karena setiap turun hujan deras selalu longsor dan ini sudah ke empat kalinya terjadi. Namun tidak ada pilihan lain karena tidak lagi memiliki tempat tinggal,”keluhnya. Di sisi lain longsor juga terjadi Kamis sore di Banjar Bungbungan, Desa Yehembang, tebing di atas jalan Desa di sebelah timur bendungan Bungbungan menutupi hampir sebagian badan jalan sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. DEW-MB
Baca Juga :
Pedagang Depan Terminal Kargo di Gilimanuk Diminta Pindah