Denpasar, (Metrobali.com)

Catatan rencana visi masa depan Bali 100 tahun ke depan oleh Gubernur Wayan Koster. Rencana pembuatan visi ini berlebihan, karena visinya selama 4.5 pemerintahannya, tidak berhasil, kalau tidak mau dikatakan gagal.

Hal itu dikatakan pengamat kebijakan publik Jro Gde Sudibya, Kamis 26 April 2023 dalam pesan WA di Denpasar menanggapi rencana visi masa depan Bali 100 tahun ke depan oleh Gubernur Koster.

Selama ini, katanya Gubernur Koster hanya menonjolkan ukuran fisik ekonomi kebendaan, dalam masyarakat dengan tradisinya yang panjang, berlakunya hukum keseimbangan (Rtem), material – spiritual, skala – niskala, respek pada alam terlebih-lebih tempat suci, dan terus mengupayakan kebersamaan (paras-paros).

Menurut Jro Gde Sudibya semestinya Gubernur Koster fokus untuk menyelesaikan tugasnya sampai bulan September 2023 (sesuai dengan Undang-undang), tidak lagi memberikan beban tambahan pada jajaran birokrasi, maupun sistem kepemimpinan dan kekuasaan pasca 27 Novemver 2024 (Pilkada Serentak).

Jro Gde Sudibya mengingatkan, waktu membangun pencitraan semestinya telah berakhir. Dengan penetapan visi Bali 100 tahun ke depan, bisa menjadi bahan pergunjingan baru, bahan olok-olok di kalangan intelektual dan juga orang awam yang kemudian merugikan citranya di menjelang akhir masa jabatan.

Dikatakan, agaknya ada persoalan dalam cara berpikir. Tidak berhasil kalau tidak mau dikatakan gagal dalam merealisasikan visi, melompat jauh ke depannya, kesannya ingin menutupi kegagalan, atau menjual impian baru, sebagai “dagangan” kampanye politik.

Lebih lanjut dikatakan, tidak bisa membedakan antara penguasa dengan program kongkritnya yang bisa dieksekusi segera, dengan pergulatan intelektual dari para cendikiawan tentang masa depan. Barangkali ambisinya, penguasa dengan kekuasaan eksekusi sekaligus bermimpin ingin dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin visioner.

“Dalam konteks ini, menjadi baik disimak pribahasa Bali: care nangkep balangnge dadue, kedaduane mekeplis”. Ambisi besar, prakteknya kedua-duanya gagal,” kata Jro Gde Sudibya.

Bocoran dan pembahasan dari rencana visi masa depan Bali 100 tahun ke depan oleh Gubernur Koster yang berlangsung di Jaya Sabha 25 April 2023 sebagai berikut.

Salah satunya, mengembangkan tata kehidupan Krama Bali secara sakala dan niskala berdasarkan nilai-nilai filsafat Sad Kertih yaitu Atma Kertih, Danu Kertih, Wana Kertih, Segara Kertih, Jana Kertih, dan Jagat Kertih.

Memperkuat kedudukan, tugas dan fungsi Desa Pakraman/ Desa Adat dalam menyelengarakan kehidupan krama Bali yang meliputi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.
Mengembangkan destinasi dan produk pariwisata baru berbasis budaya dan berpihak kepada rakyat yang terintegrasi antar kabupaten/kota se-Bali. (Adi Putra)