Jakarta, (Metrobali.com)

 

Diet tak seimbang, salah satunya konsumsi vitamin C jumlah tinggi menjadi salah satu faktor risiko terbentuknya batu di saluran kemih, ungkap dr. Adistra Imam Satjakoesoemah, Sp.U, FICS dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI).

“Pada kasus konsumsi vitamin C dosis tinggi biasanya pH urine menjadi lebih rendah, jadi risiko terbentuknya batu,” ujar dia dalam webinar bertajuk “Jangan Biarkan Batu Bersarang di Saluran Kemih Anda”, Jumat.

Asupan tinggi vitamin C bahkan mencapai 10.000 mg per hari pernah dikatakan bagus untuk kesehatan tubuh karena vitamin ini bisa berperan sebagai antioksidan. Namun, penelitian kemudian menunjukkan, diet ini justru meningkatkan angka kasus batu saluran kemih.

“Karena pada dasarnya vitamin C diolah di ginjal dan yang kita pakai hanya 99 mg. Jadi kalau 10.000 itu sangat-sangat mega dose. Untuk di ranah saya, high dose sebenarnya sudah mulai ditinggalkan. Tidak relevan lagi,” ujar Adistra.

Mengutip Healthline, kelebihan vitamin C dikeluarkan oleh tubuh sebagai oksalat. Namun, dalam beberapa kasus, oksalat dapat membentuk kristal dan menyebabkan batu ginjal. Mengkonsumsi terlalu banyak vitamin C dapat meningkatkan jumlah oksalat dalam urin dan meningkatkan risiko batu di ginjal atau saluran kemih.

Selain vitamin C dosis tinggi, pola makan tinggi natrium, protein terutama dari daging merah, asupan kalsium tidak seimbang, konsumsi obat-obatan tertentu juga terkait dengan pembentukan batu.

Faktor lain yang juga memiliki kaitan dengan terbentuknya batu yakni dehidrasi. Orang yang kurang minum air ditambah kurang aktif bergerak kemudian jatuh dalam kondisi dehidrasi. Pada kondisi ini urine menjadi pekat dan volumenya rendah.

Kemudian, adanya berbagai faktor lain seperti infeksi saluran kemih terutama bila infeksinya naik ke ginjal, kelainan di saluran cerna, obesitas, hingga gangguan metabolisme turut menyumbangkan risiko terbentuknya batu di saluran kemih.

Baca Juga :
Hari Asia Afrika

“Terbentuknya batu dimulai dengan faktor risiko seperti tinggi kalsium dan lainnya seperti yang telah disebutkan. Semua faktor risiko ini kemudian akan menimbulkan urine menjadi terlalu pekat di ginjal, biasanya kristal menumpuk yang sifatnya mikron. Kristal ini perlahan menumpuk akhirnya menjadi batu di ginjal atau di saluran kemih,” jelas Adistra.

Batu pada saluran kemih bisa ditemukan di ginjal (lebih dari 90 persen), ureter (saluran pipa yang mengalirkan urine dari ginjal ke kandung kemih), kandung kemih dan uretra (saluran yang mengeluarkan urine). Angka insidensi kasus batu saluran kemih per tahun di dunia sebanyak 10-15 persen dari populasi, baik yang bergejala atau tidak.

Untuk menghindari terkena batu di saluran kemih, sebaiknya jaga kondisi Anda tetap terhidrasi, cukup kalsium dan kontrol asupan garam. Minum cukup sangat penting untuk kesehatan tubuh termasuk ginjal Anda. Rata-rata orang Indonesia disaranakan minum air 8-12 gelas atau 1,5-2 liter per hari.

“Kalau pasien secara fisiologi misalnya modal jantungnya bagus, ginjalnya bagus, sehat-sehat saja, minum lebih dari 3 liter sebenarnya bagus tetapi rata-rata disarankan sekitar 3 liter. Lebih dari 3 liter biasanya orang akan lebih berlebih cairannya. Tidak ada efek langsung untuk water intoxication kecuali jumlahnya banyak banget, minum 10 liter sehari,” papar Adistra.

Di sisi lain, merujuk pada anjuran Kementerian Kesehatan, asupan garam sebaiknya tak lebih dari 1 sendok teh atau 5 gram per hari. Konsumsi terlalu banyak garam dapat membuat Anda dehidrasi dan meningkatkan kalsium dalam urine Anda, yang keduanya dapat meningkatkan risiko batu ginjal.

Sumber : Antara