Arief Rahardjo

Jakarta (Metrobali.com)-

Konsultan properti internasional Cushman & Wakefield menyatakan, harga lahan khusus kawasan industri di berbagai daerah rata-rata meningkat sekitar 20 persen per tahun karena didorong pembangunan beragam infrastruktur.

“Perkiraan harga jual rata-rata tanah industri terus mengalami peningkatan menjadi sekitar Rp2,3 juta per meter persegi, tumbuh sebesar 15 persen per kuartal atau sekitar 20 persen per tahun,” kata Head of Research Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (18/2).

Menurut dia, permintaan bersih terhadap tanah kawasan industri pada kuartal terakhir 2014 kembali tumbuh sebesar hampir 75 hektare, atau naik sekitar 38 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Demikian juga permintaan sepanjang tahun 2014 ini, lanjutnya, lebih baik dari permintaan pada tahun 2013 yang tumbuh sebesar 28 persen.

Ia mengungkapkan, tingkat permintaan pada tahun 2014 tercatat sebagai pertumbuhan positif pertama sejak tiga tahun yang lalu.

Cushman & Wakefield mencatat, mayoritas permintaan masih berasal dari industri otomotif terutama yang berasal dari Jepang. “Rata-rata ukuran permintaan pada kuartal ini sekitar 3,2 ha per transaksi, jauh di bawah besaran pada tahun 2011/2012,” paparnya.

Sama seperti laporan kuartal sebelumnya, kawasan industri di Bekasi mendominasi permintaan pada kuartal terakhir 2014, dan sisanya diserap kawasan industri di Serang.

Sedangkan tanah industri baru di Karawang masuk ke pasar dan meningkatkan pasokan kumulatif tanah industri di Jakarta dan sekitarnya bertambah menjadi 10,700 hektare.

“Pasokan tambahan, terutama yang berasal dari kawasan industri baru diperkirakan akan masuk ke pasar dalam waktu dekat, yang dipicu pembangunan infrastruktur baru (jalan tol),” ungkapnya.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan banyak investor dan pemerintah asal calon pemodal itu yang mulai melirik untuk menenamkan modalnya di kawasan industri.

Baca Juga :
Penurunan Jumlah Kasus Baru dan Turunnya Angka Kematian Mingguan Adalah Perkembangan Baik

“Terbitnya kebijakan pengembangan perwilayahan industri dirasakan berdampak positif. Banyak investor dan pemerintah asal investor itu mulai melirik tidak hanya investasi di bidang industri, tapi juga berminat pada infrastruktur pendukung industri,” kata Menperin saleh Husin saat membuka Rapat Koordinasi Kementerian Perindustrian dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Gedung Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/2).

Menperin mengatakan, dalam tahap awal, investor berminat pada tujuh Kawasan Industri antara lain Teluk Bintuni di Papua Barat, Halmahera Timur di Maluku Utara, Bitung di Sulawesi Utara, Kota Palu di Sulawesi Tengah, Morowali di Sulawesi Tengah, Konawe di Sulawesi Tenggara, dan Bantaeng di Sulawesi Selatan.

Kementerian Perindustrian juga telah mengalokasikan anggaran investasi sebesar Rp55 triliun dalam lima tahun untuk pembangunan infrastruktur pendukung 13 kawasan industri di luar Jawa.

“Anggaran tersebut berasal dari APBN, yang dialokasikan selama lima tahun, karena infrastruktur pendukung kawasan industri ini merupakan wewenang pemerintah,” kata Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Imam Haryono di Yogyakarta, Senin (16/2).

Imam mengatakan beberapa sektor infrastruktur pendukung yang akan dibangun adalah bandara dengan nilai investasi Rp8,2 triliun, jalan senilai RP8,1 triliun, kereta api Rp10,1 triliun, ketenagalistrikan Rp10,4 triliun, pelabuhan Rp17,6 triliun dan sumber daya air Rp939 miliar. AN-MB