Banyumas (Metrobali.com) –

 

Sekitar 500 orang dari berbagai etnis berkumpul di Situs Lemah Wangi di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (28/6). Bukan hanya dari Banyumas, mereka juga datang dari Purwokerto, Semarang, Surabaya, Jakarta, dan Bali. Pada hari yang bertepatan dengan Tilem Sasih Sadha itu, mereka tengah melangsungkan sebuah upacara ritual bertajuk Resi Gana dan Pujawali.

Upacara tersebut baru pertama kali diselenggarakan oleh Kewargian Adat Lemah Wangi. Dalam pelaksanaannya dibantu oleh Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa dan Jero Lempung dari serati Pura Besakih. Persiapan upacara telah diakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Rangkaian ritual Resi Gana dan Pujawali dipuput (dipimpin) oleh Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti.

“Tujuan dari pelaksanaan upacara ini, yang pertama untuk membangitkan atau menyucikan tempat ini. Menyomya buta supaya menjadi dewa, kekuatan buruk menjadi kekuatan cinta kasih,” ucap Ida Dukuh Celagi, seraya berharap mudah-mudahan dengan proses upacara ini, ke depannya Situs Lemah Wangi menjadi destinasi wisata spiritual dan bisa membangitkan kembali ajaran leluhur Nusantara dengan budi pekerti.

Situs Lemah Wangi merupakan sebuah kawasan peninggalan peradaban masa lampau yang berlokasi di lereng Gunung Slamet atau yang dulunya bernama Gunung Agung. Di kawasan Lemah Wangi terdapat peninggalan purba berupa batu-batuan yang salah satunya dinamakan Batur Lumpang, yang tak begitu jauh dari puncak kawah Gunung Slamet.

“Batur Lumpang di Lemah Wangi adalah sisa-sisa peradaban purba leluhur kita yang ada hingga saat ini, di mana mereka sudah sangat mengenal bagaimana membuat bentuk serta membuat struktur tatanan pola-pola kehidupan,” ujar Noer Sanjaya selaku Pengageng Kewargian Adat Lemah Wangi, didampingi Juru Tulis Kewargian Adat Lemah Wangi, Kuspono Toto Raharjo.

Baca Juga :
Forum Masyarakat Toraja Dukung Jokowi-JK

Noer Sanjaya menjelaskan, seperti peradaban lain pada umumnya di sekitaran gunung berapi, peradaban-peradaban itu akan timbul dan tenggelam. Muncul sebagai tempat kejayaan dan luntur lebur hilang tak berbekas karena penyebab alam yang alami, yaitu gunung berapi. “Lemah Wangi tempat beradanya Batur Lumpang yang masa itu juga ramai didatangi orang karena mempunyai yoni dalam keunggulan sirna juga karena lahar,” tuturnya.

Lebih jauh dia menuturkan, Lemah Wangi bisa dikatakan sebagai suatu tempat yang membawa kemuliaan, kesejahteraan, keharuman dan ketenangan, sudah berada dalam kurun yang sangat begitu lama. Di tempat purba tersebut pernah ada peradaban sastra kereligiusan yang berkembang pada masa itu.

Oleh karena itu, melalui upacara Resi Gana dan Pujawali yang digelar ini, diharapkan dapat membangkitkan kembali ajaran-ajaran leluhur yang telah lama menghilang dari Lemah Wangi. “Kami percaya bahwa beliau Ida Dukuh punya kemampun membangitkan energi positif yang ada di Lemah Wangi. Dengan harapan setelah upacara ini, ke depan bermanfaat, bukan hanya bagi Kewargian Lemah Wangi, tetapi bagi masyarakat seluruhnya,” imbuh Kuspono.

Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa mengucapkan terima kasih kepada Kewargian Adat Lemah Wangi karena telah diberikan kesempatan untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat setempat. Sinergi yang luar biasa dalam pelaksanaan upacara tersebut diharapkan dapat berkelanjutan. “Kami merasa sangat senang dan bahagia dapat membantu umat lewat pelayanan dalam pelaksanaan upacara ini. Mudah-mudahan ke depan persaudaraan ini berkesinambungan,” ucap Jro Mangku Ketut Suryadi selaku Ketua Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa.

 

Pewarta : Hidayat