Denpasar (Metrobali.com)-

Bali, juga punya kelompok musik keroncong yang eksis, meski jenis musik asli milik bangsa Indonesia ini sepertinya terpinggirkan. Adalah, Orkes Keroncong (OK) Pesona Dewata, dibawah pimpinan Komang Sutarmaja, SH yang belum lama ini juga sempat tampil di Solo Keroncong Festival 2012, yang mampu tampil mempesona dibawah ribuan penonton serta puluhan peserta OK baik dari dalam maupun luar negeri. Disatu sisi, catatan yang ada di sini, bahwa keroncong yang notabene musik asli Indonesia namun nasibnya belum juga mendapat perhatian besar dari semua pihak. “ Inilah kenyataan yang ada, “ timpal Sutarmaja, Jum’at (28/9).

Menurutnya bahwa semua pihak (termasuk juga pemain keroncong) mesti berperan aktif untuk bisa mengangkat musik keroncong dari keterpurukan selama ini. “ Di satu sisi, peran pemerintah baik pusat maupun daerah sangat urgen untuk benar -benar signifikan dalam ikut memajukan musik milik bangsa Indonesia ini. Bisa lewat berbagai kegiatan yang ada untuk selalu dimasukan, ditampilkan musik keroncong, dan kaitan lainya yang intinya ialah untuk menghidupkan, menggairahkan keroncong ditengah masyarakat luas, “ paparnya.

Sementara bagi Benteng, pemain lead guitar serta arranger dalam OK Pesona Dewata  mengharap pelajaran musik keroncong masuk dalam kurikulum seni musik bagi siswa. “ Sebab orientasinya kearah pelestarian, pembinaan berkelanjutan, regenerasi pada musik milik bangsa kita sendiri,”  urainya.

 

Program lainnya ialah seperti rutin digelar lomba penyanyi, dan OK keroncong dengan catatan hadiahnya menarik, untuk meransang peminat. “ Seperti diera akhir tahun 2000 an, dimana dalam suatu kegiatan siswa seperti Pekan Seni Remaja (PSR) dahulu itu selalu ada lomba menyanyi jenis musik keroncong dimana saat itu saya selalu ikut mengiringinya. Namun sekarang di PSR,  lomba itu tidak ada sama sekali, “ paparnya.

Baca Juga :
Jokowi undang para pemimpin ASEAN ke Bali

Dari gema promosi lomba keroncong yang semakin melempem itulah, maka dalam suatu lomba menyanyi jenis keroncong maka yang ada paling sedikit diikuti oleh peserta. “ Kadang lomba keroncong malah gak, digelar, “ selanya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Agus, salah satu pemain OK Pesona Dewata, yang dahulu juag rutin menjadi pengiring setiap ada lomba keroncong antar siswa, bahwa mestinya di ajang pendidikan extra kurikuler seperti di PSR, lomba musik keroncong dihidupkan kembali.

Sementara ada pernyataan menarik lagi dari Benteng, sebagai musisi yang sebenarnya aktif tak hanya di jalur keroncong, bahwa diintern musisi keroncong mesti berani melakukan ‘revolusi’ musik keroncong kegemaran Bung Karno, sang Presiden RI pertama RI. Yakni, bisa memasukan aransemen yang pas, apa itu musik pop, jazz, rock, apapun jenis musik itu, sehingga menjadi satu keroncong yang benar -benar modern tapi tidak menghilangkan warna keroncong. Sementara dibanyak pihak, mungkin juga tidak ada yang ‘rela’ pakem keroncong dirubah.” Nah, ini mungkin juga dilemanya,” selanya.

Yah, apapun yang ada sekarang, OK Pesona Dewata, terbentuk pada 8 Oktober 1997 dengan pemainnya, Benteng ( arranger, Guitar), Agus (Flute), Komang Sutarmaja- pimpinan ( Cukulele) Ketut Pertama ( Cak) Joned ( Bass) Agus Sarwono ( Celo) dan Sudarmawan ( Biola) dengan penyanyi Gus Mang dan Keke, sangup menghentak publik Solo Festival Keroncong 2012 belum lama ini dengan suguhan musik aransemen ‘beda’ dan tampilan panggung yang atraktif. HP-MB