Keberpihakan pada “Wong Cilik”, Tantangan Kepemimpinan Koster – Giri
Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Wayan Koster dan Nyoman Giri Prasta.
Denpasar, (Metrobali.com)-
Sistem sosial ekonomi masyarakat Bali yang telah mentradisi, merupakan sistem sosialisme religius, dengan cirinya: motif dasar pengelolaan ekonomi berbasis spiritualitas, nilai-nilai Niskala, yang kemudian terjabarkan dalam struktur, kultur dan prilaku ekonomi yang bercirikan: kebersamaan, produktivitas ekonomi bertumbuh bersamaan dengan pemerataan, aktivitas ekonomi berjalan seiring dengan kemanfaaatan sosial.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Minggu 30 Maret 2025, menyikapi kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Wayan Koster dan Nyoman Giri Prasta.
Menurutnya, satuan unit ekonomi, berupa satuan kecil, produktif, orientasinya pasar, padat tenaga kerja, sehingga proses ekonomi dalam dirinya melekat proses berkeadilan. Per teori, disebut sebagai sistem ekonomi pasar sosial.
Dikatakan, tantangan bagi kepemimpinan Koster – Giri, legislatif provinsi, eksekutif dan legislatif kabupaten – kota, untuk melakukan revitalisasi terhadap sistem ekonomi sosialisme religius, sebagai sistem ekonomi berkelanjutan, meminimalkan, mengoreksi sistem ekonomi liberal kapitalistik yang dilahirkan terutama oleh mekanisme pasar liberal kapitalistik dari kapitalisme pariwisata.
“Dalam perspektif pembangunan, modernitas Bali ke depan, Pembangunan Berwajah Kemanusiaan – Human Development Approach – menjadi tantangan bagi kepemimpinan Koster – Giri untuk lima tahun ke depan, ” katanya.
Menurutnya, Pembangunan Berwajah Kemanusiaan, dengan sejumlah cirinya: pertama, bersahabat dengan alam, manusia dan kebudayaan. Proyek dengan kategori mercu suar, yang destruktif pada Alam, meminggirkan manusia, mendistorsi budaya, sudah semestinya dikaji ulang.
Kedua, politik anggaran ditata ulang, dibuat lebih rasional, dari perspektif kepentingan publik. Anggaran lebih diprioritaskan kepada: penanggulangan kemiskinan ekstrem, meminimalkan stunting, menambah fasilitas kesehatan untuk menanggulangi kesehatan jiwa, pendidikan bagi kelompok miskin, peningkatan kesempatan kerja dan produktivitas bagi kelompok miskin.
Ketiga, mendorong pertumbuhan swadaya ekonomi warga, untuk menjadi warga mandiri, melalui penumbuh-kembangan ekonomi rakyat, dengan mendorong pertumbuhan lembaga keuangan mikro: LPD, Bumdes, Koperasi, sebagai pengungkit ekonomi, terutama ekonomi perdesaan.
Keempat, model ekonomi pasar kerakyatan, dengan sistem pasar tradisional Tentene, didorong pertumbuhannya. Ekonomi Tentene berkembang, sejalan dengan perkembangan ekonomi rakyat. UMKM mikro lokal Banjar, Perdesaan berkembang, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi perdesaan. Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan jasa-jasa lainnya: pertukangan, kerajinan, industri kreatif dan jasa lainnya.
Kelima, lebih serius menangani sektor pertanian dan perkebunan, dengan target sasaran terukur, untuk menaikkan NTP (Nilai Tukar Petani) dengan target kenaikan sekitar 15 persen selama lima tahun ke depan. Target NTP 115, yang sekarang ini sekitar 105. Dengan demikian, pertumbuhan pertanian berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani.
Jurnalis : Nyoman Sutiawan