Foto: KBMHD Undiknas menjalankan Program Kerja Abdi Pengabdian Masyarakat melalui program Eco Temple di Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar bersama tim sinergi.

Gianyar (Metrobali.com)-

Keluarga Besar Mahasiswa Hindu Dharma (KBMHD) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) kembali menjalankan Program Kerja Abdi Pengabdian Masyarakat di Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar untuk memantapkan program Eco Temple di Desa Kenderan.

Program yang mengusung tema “Melatih Generasi Muda Dalam Menjalankan Praktik Greenpreneur Agar Mampu Menghasilkan Produk Yang Berguna dan Bernilai Dalam Kehidupan Masyarakat” ini diselenggarakan pada Sabtu, 16 September 2023 di wantilan Pura Griya Sakti Manuaba, Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar. Acara dilanjutkan dengan talkshow bertema “Penguatan Kelembagaan Eco Temple Untuk Program Yang Berkelanjutan”.

Program Kerja Abdi Pengabdian Masyarakat di Desa Kenderan ini terselenggara berkat sinergi kolaborasi KBMHD Undiknas dengan Pusat Studi Undiknas Denpasar, Rotary Club of Bali Bersinar, Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) PangPadePayu, Pemerintah Desa Kenderan, dan stakeholder terkait.

KBMHD Undiknas memberikan aksi nyata peduli lingkungan pura melalui program Eco Temple di Desa Kenderan dan khususnya diterapkan di Pura Griya Sakti Manuaba, Desa Kenderan. Program ini telah berjalan dan kini sudah menunjukkan hasilnya. Salah satu outputnya telah diluncurkan Pupuk atau Kompos Organik Kenderan Bersinar dan Buku Pedoman “Peduli Lingkungan Pura Melalui Program Eco Temple”.

Kali ini dalam Program Kerja Abdi Pengabdian Masyarakat KBMHD Undiknas 2023, program Eco Temple ini juga menitikberatkan pada penguatan kelembagaan agar progam Eco Temple bisa bekerlanjutan di Desa Kenderan dan diharapkan bisa juga diimplementasikan di pura-pura di daerah lainnya di seluruh Bali.

Diserahkan pula bantuan tong sampah kepada Desa Kenderan, juga penyerahan Kaos Kerja untuk petugas pencacah sampah upakara. Lalu dilanjutkan dengan aksi KBMHD Undiknas melakukan bersih-bersih sampah lalu mencacah sampah serta mengolahnya menjadi pupuk organik atau kompos.

Ketua Panitia Program Kerja Abdi Pengabdian Masyarakat KBMHD Undiknas 2023 Komang Bagus Lanang Prabawa mengungkapkan para peserta juga diajak melihat proses mengelola sampah menjadi pupuk organik dalam program Eco Temple di Desa Kenderan. Dimana tujuan kegiatan ini menjaga lingkungan pura agara tetap bersih dan asri. Kedua, meningkatkan efektivitas dan efisien dari penggunaan sumber daya seperti pembatasan penggunaan sampah plastik dan benda-benda lain yang tidak ramah lingkungan.

Program ini juga diharapkan mampu mengajarkan masyarakat bahwa sampah upakara bisa diolah menjadi produk yang mempunyai nilai jual ekonomis dan nantinya akan membantu perekonomian masyarakat.

“Melaui program Eco Temple ini masyarakat diharapkan agar mengurangi sampah plastik saat upakara atau persembahyangan seperti penggunaan tempat tirta dan tempat canang dari plastik sekali pakai,” ungkap Lanang Prabawa.

Ketua Umum KBMHD Undiknas Ni Luh Ayu Deva Sastriani dalam sambutannya mengaku senang dan bangsa bisa menjalankan  Program Kerja Abdi Pengabdian Masyarakat lewat Program Eco Temple di Desa Kenderan. Terlebih juga KBMHD Undiknas sudah menganggap Desa Kenderan sebagai kampung halaman sendiri.  MoU yang terjalin antara KBMHD Undiknas dan Desa Kenderan diharapkan berkelanjutan sampai Program Kerja Eco Temple ini memberikan makna bagi masyarakat sekitar.

Yang lebih istimewa lagi kegiatan ini juga dilaksanakan bertepatan dengan Tumpek Krulut yang menjadi Hari Valentine atau Hari Tresna Asih, Hari Kasih Sayang Umat Hindu di Bali. “Jadi kasih sayang tidak hanya sesama dengan manusia tapi juga menjaga hubungan dengan lingkungan alam tempat tinggal,” ujarnya.

Dikatakan umat Hindu tidak lepas dari upakara yang menghasilkan sampah plastik. Jadi KBMHD Undiknas mengajak kita semua agar apa yang kita ambil dari alam dikembalikan ke alam dengan seperti adanya produk pupuk organik dari hasil kerja sosial Program Eco Temple ini.

Selain itu tema “Penguatan Kelembagaan Eco Temple Untuk Program Yang Berkelanjutan” diharapkan bisa memberikan keberlanjutan bagi program kerja ini dan bisa memberikan inspirasi bisa dilakukan di pura-pura di seluruh Bali.

Pembina KBMHD Undiknas Doktor Gung Tini Gorda yang juga Immediate Past President (IPP) Rotary Club of Bali Bersinar mengatakan implementasi program Eco Temple ini berbekal lima O yakni diataranya otak atau pemikiran untuk membuat program. Lalau orang dimana KBMHD Undiknas butuh teman sinergi membawa dan menjalankan pemikiran di ruang publik.

Salah satunya sinergi bersama Pusat Studi Undiknas, Rotary Club of Bali Bersinar, Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) PangPadePayu dalam menjalankan program menjadikan sampah upakara mempunya nilai tambah di Desa Kendaran.

Lalu berikutnya yang penting juga terkait ongkos dimana ada keterbatasan juga anggaran dari pihak kampus. “Namun ongkos bukan hanya soal rupiah tapi dengan kedekatan berjejaring semua  bisa dilakukan dengan baik,” ujar Gung Tini Gorda.

Pihaknya juga menekankan penguatan kelembagaan dalam program Eco Temple ini bisa berjalan baik apabila masyarakat Desa Kenderan betul-betul merasakan manfaat dari program pengelolan sampah upakara ini dimana sebelumnya KBMHD Undiknas telah mendapatkan bantuan mesin pencacah sampah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Ketika KBMHD Undiknas tidak lagi penuh menjalankan program ini di Desa Kenderan, dari penguatan kelembagaan yang akan dibentuk diharapkan ada kemandirian dari kelembagaan pengelola program ini yang masuk dalam anggaran desa. Karena keberlanjutan progam juga membutuhkan dukungan dan peran serta aktif dari masyarakat setempat.

Sementara itu Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Pariwisata Undiknas Dr. Nina Eka Lestari menekankan dari kolaborasi KBMHD Undiknas dan Pusat Studi Undiknas menjalankan program Eco Temple dari Pura Griya Saktia Manuaba Desa Kenderan ini diharapkan sebagai langkah percontohan yang baik dan inspiratif bagaimana mengolah sampah upakara menjadikan suatu yang bermanfaat seperti pupuk organik dan bisa ditularkan sebagai percontohan bagi pura lainnya di Bali.

“Hal itu penting sebab Bali sebagai daerah pariwisata diharapkan menjadi clean and green yang berkelanjutan sehingga pariwisata di Bali tetap menjadi pariwisata budaya yang bersih dan hijau juga bisa berkelanjutan untuk generasi yang datang,” ujarnya.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Undiknas I Wayan Sutama, mengapresiasi kegiatan KBMHD Undiknas yang sudah berkontribusi menjaga lingkungan melalui program Eco Temple.

Dikatakan tujuan besarnya melalui progam ini untuk membentuk karakter mahasiswa yang punya kepedulian pada lingkungan dan mengatasi masalah sampah. “Sebab mencari orang pintar gampang tapi mencari orang yang punya kepedulian dan mau mengabdi untuk masyarakat demi kepentingan sosial seperti penanganan sampah tidak mudah,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa Kenderan, I Dewa Gede Jaya Kesuma menekankan pentingnya memelihara kebersihan lingkungan yang merupakan salah satu program Desa Kenderan. Terlebih lagi di penghujung tahun 2022 Desa Kenderan masuk 10 besar dalam Anugerah Desa Wisata. Sementara di bulan September 2023, Desa Kenderan berada di posisi ke-5 dengan kategori desa berkembang.

Pihaknya berharap kedepan apa yang menjadi harapan masyarakat bisa diraih bersama-sama, tentunya dengan support dari tim kolaborasi. “Kami juga meminta dukungan kepada tim kolaborasi untuk melihat potensi alam yang ada di Desa Kenderan yang kemungkinan ada program yang pas untuk menunjang daripada desa tersebut untuk bisa berprestasi lebih tinggi lagi,” harapnya.

Head of Student Club & Activity Centre Undiknas, I Gusti Ngurah Oka Ariwangsa dalam sambutannya mengatakan bahwa pihaknya berharap berbagai tujuan mulia yang salah satunya adalah bagaimana edukasi dan implementasi daripada Eco Temple tersebut sebagai salah satu percontohan atau pola yang terbaik yang dilakukan di Desa Kenderan. Diharapkan kegiatan Eco Temple ini dilaksanakan berkesinambungan dan mencapai hasil yang maksimal.

Narasumber Talk show, Dr. Nyoman Sedana  selaku Kepala Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Gender Undiknas Denpasar memaparkan tentang konsep kelembagaan pengelola sampah berbasis desa adat. Dijelaskannya bahwa tumpukan sampah yang paling tinggi ada di Denpasar, Gianyar dan Badung. Namun ia memberikan apresiasinya terhadap Kabupaten Gianyar karena benar-benar serius menangani permasalahan penumpukan sampah tersebut.

Diharapkan permasalahan sampah di Kabupaten Gianyar bisa dikelola lebih baik lagi, mengingat Gianyar juga mengandalkan sektor pariwisata. “Disinilah pentingnya kelembagaan dalam mengelola sampah, sehingga ada yang mempertanggungjawabkan masalah sampah tersebut secara terukur dan tuntas,” kata Sedana.

Narasumber selanjutnya, I Gusti Gde Nyoman Hendra Wiguna selaku Analis Kehidupan P3E Bali & Nusa Tenggara memaparkan tentang permasalahan sampah, seperti kegiatan pemilahan di sumber yang belum dijalankan oleh seluruh pihak, fasilitas pengolahan sampah yang belum berjalan optimal dan terbatasnya lahan TPA di Bali serta kapasitas TPA di Bali yang hampir overload.

 

Oleh karena itu ia menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Pihaknya juga mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai, mengingat sampahnya yang sulit terurai, bahkan membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai.

Narasumber berikutnya I Wayan Subawa selaku perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gianyar mengatakan bahwa masalah lingkungan adalah kembali kepada keberpihakan banyak komponen. “Dalam artian tidak hanya bisa mengandalkan Dinas Lingkungan Hidup saja dalam menangani masalah sampah,” katanya.

Pihaknya juga mengapresiasi program Eco Temple yang dilaksanakan oleh para mahasiswa KBMHD Undiknas Denpasar yang dinilai sudah sangat membantu Pemerintah Daerah Gianyar dalam mengelola sampah.

Sementara itu, I Wayan Tegeg selaku Penggiat Sampah dari KSM Bumi Lestari, Banjar Segara, Kuta sangat mengapresiasi program Eco Temple yang dilaksanakan oleh para mahasiswa KBMHD Undiknas Denpasar. Menurutnya program tersebut bertujuan untuk menjaga kebersihan pura, utamanya dari sampah organik.

“Program Eco Temple ini  sangat luar biasa, utamanya untuk menjaga kesucian dan lingkungan pura dan seharusnya ditiru atau ditularkan ke seluruh Bali,” katanya.

Program Eco Temple ini diharapkan dapat terus berkelanjutan, menjadi percontohan dan inspirasi pura-pura lainnya di Bali untuk melakukan pengelolaan sampah upakara menjadi kompos dan menguranggi pengunaan sarana upakara berbahan plastik. (wid)