DJOKO HARI UTOMO

Denpasar (Metrobali.com)-

Kepala Kepolisian Resor Kota Denpasar Komisaris Besar Polisi Djoko Hariutomo menunggu kepastian waktu pelaksanaan pemindahan dua terpidana mati berkewarganegaraan Australia yang merupakan anggota sindikat narkoba Bali Nine.

“Kita juga ‘galau’, kami inginnya suatu kepastian juga ‘kan?. (Tetapi) kita tidak perlu ‘galau’. Memang itu kebijakan, kapanpun kita siap (melakukan pengamanan),” ucap Djoko sembari tersenyum kepada beberapa awak media ditemui di Lapangan Lumintang Denpasar, Selasa (24/2).

Perwira dengan melati tiga itu mengaku tidak tahu kapan Myuran Sukumaran dan Andrew Chan akan dipindahkan menuju Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan di Jawa Tengah.

“Kami sama sekali tidak tahu. Kami hanya mengamankan saja,” imbuhnya.

Djoko menjelaskan bahwa hal itu tergantung keputusan dari Kejaksaan Agung melalui Kejaksaan Tinggi Bali.

Sementara itu terkait pengamanan rute jalan yang akan dilalui keduanya menuju Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, lanjut dia, pihaknya siap melakukan pengamanan dengan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas masyarakat.

“Kalau masalah pengamanan kami siap saja mengamankan karena kami melakukan pengecekan terkait rute yang kami amankan. Tidak akan ada pengosongan jalur yang terpenting kelancaran,” ucapnya.

Polresta Denpasar sendiri akan berada dibawah komando Polda Bali untuk mengamankan rute yang akan dilalui kedua narapidana yang ditangkap tahun 2005 karena menyelundupkan 8,2 kilogram heroin itu.

Sebelumnya Kejaksaan Agung berencana memindahkan keduanya minggu lalu. Namun jadwal tersebut akhirnya diundur hingga belum dipastikan waktu pemindahannya.

Detik-detik menjelang eksekusi mati duo narapidana itu kini malah melebar menjadi isu hangat yang mengundang pro dan kontra di masyarakat baik dalam maupun luar negeri.

Bahkan hal itu menimbulkan permasalahan baru setelah Perdana Menteri Australia Tony Abbot melontarkan pernyataan yang mengungkit pemberian bantuan senilai 1 milar dolar Australia dari negaranya kepada Indonesia khususnya kepada masyarakat Aceh saat provinsi itu diterjang gempa dan tsunami tahun 2004.

Baca Juga :
Angka Kesembuhan Covid-19 di Bali Meningkat 215 Orang, Penambahan 5 Kasus

Pernyataan itu kemudian memunculkan gerakan pengumpulan koin untuk Negeri Kanguru yang dilakukan melalui media sosial, sekolah dan jalanan guna mengembalikan bantuan tersebut kepada Tony Abbot. AN-MB