Keterangan foto: Demo mahasiswa (ilustrasi)

Denpasar, (Metrobali.com) –

Masih teringat pada bulan September lalu, mahasiswa turun ke jalan untuk menuntut reformasi atas kebijakan yang dianggap mencederai demokrasi. Tidak hanya di Indonesia, tetapi demontrasi juga terjadi di beberapa negara, seperti Venezuela. Namun sayang, dinamika pergerakan demonstrasi di Indonesia dan Venezuela berujung ricuh dengan aparat bersenjata. Bentrokan terjadi dengan polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet, sementara pengunjuk rasa menyerang kendaraan lapis baja dengan batu dan fasilitas umum di sekitar tempat demo. Aksi unjuk rasa yang dikawal oleh mahasiswa Indonesia menentang regulasi RKUHP, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, UU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Minerba, dan RUU PKS, sedangkan yang terjadi di Venezuela gerakan Kudeta atau Operation Liberty (Operasi Kebebasan) untuk melengserkan Presiden Nicolas Maduro.

RUU yang bermasalah memunculkan aksi #HidupMahasiswa di depan kantor DPR yang terjadi di berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Bali, Sulawesi Tenggara, Yogyakarta dan lainnya. Sebagaimana diketahui, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia menuntut agar sejumlah RUU kontroversial dicabut dan dikaji ulang. Ke semua tuntutan itu dinilai masih bertolak belakang dengan keadilan. Demo tersebut sempat diwarnai kerusuhan antara mahasiswa dan polisi yang mengakibatkan korban jiwa mahasiswa asal Kendari, Sulawesi Tenggara bernama Randi (21) tewas saat mengikuti aksi unjuk rasa pada Kamis (26/9/2019). Mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo diduga tewas tertembak di bagian dada kanannya. Almarhum Randi ikut berdemonstrasi di kawasan gedung DPRD Sulawesi Tenggara. Ia diduga tertembak di dekat kantor Depnakertrans Sultra. Selain Randi, mahasiswa Fakultas Teknik bernama Yusuf Kardawi (19) juga turut menjadi korban tembak.

Baca Juga :
Seratus Pendekar Silat Dan Warga Ikuti Sosialisasi Nilai-Nilai Pancasila Koramil 05/Kramatjati

Berbeda dengan situasi di Venezuela pada awal tahun hingga saat ini masih memanas lantaran aksi demonstran yang dipimpin Juan Guaido menyerukan agar demo dilakukan setiap hari hingga Presiden Maduro berhasil dikudeta menyusul krisis politik dan ekonomi di Venezuela. Selasa (30/04/2019) menunjukkan Guaido berdiri bersama sejumlah pria berseragam militer dan mengumumkan bahwa mendapat dukungan “tentara pemberani” di Ibu Kota Caradas. Guaido juga mendesak orang-orang Venezuela untuk bergabung dengan mereka di jalan-jalan.

Maduro di sisi lain, terus mempertahankan kekuasaannya kendati aksi protes yang terus bergulir. Maduro menuduh aksi unjuk rasa “kejahatan berat” tidak akan luput dari hukuman. Demonstrasi di Venezuela memakan korban, dua orang mahasiswa tewas karena ditembak polisi. Seorang mahasiswa bernama Daniel Queliz (19) ditembak polisi saat terjadi bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan dalam aksi protes. Melansir AFP, polisi menembak Daniel di bagian leher. Sebelumnya, Jairo Ortiz (19), juga tewas di tangan polisi. Dia ditembak di bagian dada oleh polisi saat bentrok di Caracas. Polisi dinyatakan bersalah atas penembakan tersebut. Sebanyak 55 orang tewas dan 233 demonstran ditangkap atas aksi yang tergolong anarkis tersebut.

Pergerakan mahasiswa adalah keterwakilan dari antusias rakyat yang resah dan tidak berani menyuarakan kehendaknya. Aksi demo diatur dalam pasal UU No. 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyatakan pendapat di depan umum. Seharusnya para kepolisian dapat menjaga suasana demo tetap kondusif dan tidak saling memprovokasi agar tidak menimbulkan korban jiwa. Pemerintah dalam pembuatan RUU harus melibatkan rakyat untuk sama-sama menyusun kebijakan yang dibuat tanpa adanya intervensi menuju Negara yang adil. Aksi demo yang di lakukan dari berbagai kalangan dan usia adalah suatu bentuk aksi nyata yang dapat dipertimbangkan keadaannya, perbedaan hak dan kewajiban setiap individu telah menyatukan hak dan kewajiban setiap warga negara untuk kepentingan bersama. Suara mahasiswa adalah suara rakyat yang disempurnakan menjadi kebijakan Negara dalam mengambil langkah kaki menuju keadilan bangsa.

Baca Juga :
Kesedihan anggota Linkin Park di perayaan setahun kepergian Chester Bennington

Oleh :

Irene Plaituka
Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Politik UI