*Oleh FKPP dan Alumni SMAN Bali Mandara

 

Sebuah kebijakan publik wajib berdasarkan data dan fakta. Pemimpin juga harus bisa membayangkan “wajah-wajah” rakyatnya ketika merancang kebijakan yang berdampak luas bagi publik.

FKPP dan alumni SMAN Bali Mandara membuat kajian berdasarkan data statistik yang dikumpulkan oleh alumni SMAN Bali Mandara.

Ada pepatah latin, “Contra factum non valet argumentum” (there is no valid argument against a fact), tidak ada argumentasi valid jika dihadapkan dengan fakta.

Dalam kajian ini, terdapat tiga poin, yaitu kajian, simpulan, dan rekomendasi.

A. KAJIAN:
#1. Input kesejahteraan orang tua siswa SMAN Bali Mandara

Siswa yang bersekolah di SMAN Bj Mandara semuanya berasal dari keluarga sangat miskin. Orang tua siswa tidak memiliki pekerjaan tetap, menjadi buruh tani, penyakap lahan, buruh bangunan.

Orang tua siswa sebanyak 90 persen memiliki pendapatam di bawah Rp 2 juta per tahun pada saat anaknya diterima dan bersekolah di SMAN Bali Mandara.

“Dengan penghasilan sebesar itu, maka keluarga siswa tergolong dalam kategori kemiskinan absolut, yang berlangsung turun temurun,”

#2. Kategori kemiskinan siswa yang bersekolah di SMAN Bali Mandara

Siswa yang diterima bersekolah di SMAN Bali Mandara melalui seleksi yang ketat. Proses seleksi untuk menguji kepastian tingkat kemiskinan dan kebodohan siswa.
Dalam proses seleksi, pihak panitia penerimaan siswa baru sekolah, melakukan kunjungan langsung ke rumah si anak untuk mencatat dan melihat langsung kondisi riil.

Petugas membawa cek list yang terdiri dari daftar kategori miskin di anak. Terdapat sebanyak 21 indikator kemiskinan yang wajib dipenuhi, diantaranya luas pekarangan rumah, lantai rumah dari tanah, luas lantai kamar tidur, jenis lantai rumah, jenis dinding, jenis plafon rumah, fasilitas mandi, sumber penerangan, dan sumber air yang dikonsumsi.

Dari ribuan pelamar anak miskin, yang diterima rata-rata sebanyak 150 orang, seolah-olah mereka berlomba-lomba menjadi siswa termiskin. “Siapa yang lebih miskin dialah yang bernasib baik bersekolah di sini,”.

Baca Juga :
Lima Ribu Aremania Padati Stadion Dipta Bali

#3. Input tingkat kecerdasan intelektual siswa yang bersekolah SMAN Bali Mandara

Selain tingkat kesejahteraannya yang sangat rendah atau sangat miskin, siswa yang diterima bersekolah adalah kategori siswa yang tingkat kecerdasan intelektualnya juga rendah.

Di awal beroperasi sekolah ini pada 2011-2012 saat dikelola oleh yayasan Putra Sampoerna, kategori siswa yang diterima adalah miskin namun pintar.

Pola itu diubah setelah diserahterimakan dan dikelola langsung oleh Pemerintah Provinsi Bali. Sejak 2013 hingga 2021, kategori siswa yang diterima adalah miskin dan bodoh.

Sebanyak 90 persen siswa yang diterima bersekolah adalah anak yang kemampuan akademis di SMP sangat rendah. Bahkan sebagian besar tingkat kecerdasan intelektualnya di bawah rata-rata.

#4 Standar pembiayaan SMAN Bali Mandara dalam RKAS satu angkatan per tahun

Gubernur Bali melalui Tim Pokli Pembangunan Bali Prof Damriyasa menghabiskan biaya Rp 20-22 juta per anak per tahun atau Rp 18,3 miliar untuk satu angkatan yang bersekolah di SMAN Bali Mandara.
Disebutkan, biaya itu untuk makan, minum, pakaian seragam, topi/tas, serta buku alat tulis.

Data itu keliru. Berdasarkan data, rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) terdiri dari beberapa item, yaitu biaya pengembangan standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

Nah, standar pembiayaan inilah yang diperuntukan khusus untuk siswa, yang terdiri dari biaya kebutuhan buku dan alat tulis, peralatan kebersihan dan bahan pembersih, perlengkapan asrama (handuk, selimut, dll), dan bahan makanan serta buah-buahan.

Standar pembiayaan ini rata-rata sebesar Rp 4,46 miliar per tahun (atau sebesar Rp 825 ribu per siswa per tahun). Atau detailnya, sebesar Rp 6,2 M (2018), Rp 4,9 M (2019), Rp 4,4 M (2020), Rp 2 M (2021), dan Rp 4,8 M (2022).

Baca Juga :
Masih Ada Pelanggar Prokes,  Tim Yustisi  Kota Denpasar Perketat Penertiban

Jadi data yang valid adalah anak-anak membutuhkan biaya Rp 4,46 M bukan Rp 18,3 M seperti disebutkan pemerintah.

#5 Output lulusan siswa SMAN Bali Mandara

Lulusan SMAN Bali Mandara berprestasi sangat baik. Lulusan siswa angkata 2011-2018, sebanyak 96 persen melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (luar negeri, PTN/PTS/Ikatan dinas).

Lulusannya terdistribusi ke perguruan tinggi di luar negeri sebanyak 1,29 persen, perguruan tinggi negeri (46,7 persen), perguruan tinggi swasta (47,7 persen), dan sekolah kedinasan (4,5 persen).

Untuk itu, data pemerintah hasil kajian Ketua Tim Pokli Pembangunan Bali yang menyatakan kualitas dan prestasi siswa SMAN Bali Mandara tidak lebih baik dari sekolah reguler SALAH. Salah karena menggunakna data 2018-2021. Itupun analisis datanya keliru.

#6. Prestasi Siswa SMAN Bali Mandara

Prestasi siswa SMAN Bali Mandara 2011-2021 sangat baik. Siswa yang berprestasi di tingkat internasional 2,1%, berprestasi nasional 14,5%, regional 6,3%, provinsi 66,2% dari sebanyak 1.289 prestasi.

#7. Distribusi pendapatan alumni SMAN Bali Mandara

Distribusi pendapatan lulusan 2011-2014 SMAN Bali Mandara yang telah bekerja sebanyak 308 orang, dimana sebanyak 95 persen alumni telah bekerja. Terjadi peningkatan kesejahteraan siswa, dimana estimasi pendapatan orang tua alumni rata-rata Rp 1,6 juta per bulan, sekarang anak-anaknya telah bekerja memiliki pendapatan dengan penghasilan rata-rata sebesar Rp 7,3 juta per bulan.

Sistem persekolah SMAN Bali Mandara berhasil meningkatkan strata sosial siswa dari sangat miskin menjadi sejahtera (mengalami mobilitas sosial secara vertikal).

#8. Fakta kualitas SMAN Bali Mandara

Dari input siswa yang kesejahteraan orang tua sangat miskin (90%) dan sebesar 90% kecerdasan sangat rendah, sistem pendidikan berasrama SMAN Bali mampu menghasilkan siswa berprestasi sebanyak 96% dan berpenghasilan Rp 7,5 juta per bulan.

B. SIMPULAN:

#1. SMAN Bali Mandara mampu menghasilkan lulusan dengan kualitas terbaik, karakter kuat. Raihan prestasi di tingkat internasional, nasional, regional.

Baca Juga :
Kasus Meninggal Dunia dan Kasus Sembuh Covid-19 Kembali Nihil, Kasus Positif Covid-19 di Kota Denpasar Bertambah 3 Orang

#2. Lulusan SMAN Bali Mandara telah menjadi agen perubahan (agent of change) pengentasan kemiskinan dengan menjadi orang tua asuh bagi anak miskin di daerahnya

#3. Sistem pendidikan SMAN Bali Mandara adalah wujud nyata keadilan Pancasila, dimana warga sangat miskin mendapatkan pendidikan khusus yang disediakan oleh negara.

#4. Sistem pendidikan berasrama (boarding school) SMAN Bali Mandara merupakan jalan cepat (short cut) untuk memutus rantai kemiskinan absolut di Bali.

#5. SMAN Bali Mandara menjadi benchmark (tolokukur) prestasi bagi sekolah reguler di Bali.

C. REKOMENDASI:

#1. Pemerintah Provinsi Bali dapat mengganti nama sekolah dengan tetap menjaga roh, visi, misi, dan sistem pendidikan berasrama SMAN Bali Mandara, misalnya SMAN Bali Dwipa Jaya, dan sebagainya.

#2. Pemerintah Provinsi Bali membangun sekolah sistem berasrama di kabupaten/kota lainnya sebagai bentuk tanggungjawab melaksanakan amanat UUD 1945 untuk meningkatkan kualitas SDM dan kesejahteraan anak-anak Bali.

#3. Situasi pasca pandemi COVID-19 sangat memukul perekonomian Bali sehingga mempengaruhi APBD Bali maka pemerintah dapat memberikan anggaran Rp 2,5 miliar dari rata-rata pembiayaan pendidikan sebesar Rp 4,46 miliar pada. Selanjutnya sisa kebutuhan anggaran lainnya diupayakan dengan menghimpun dana dari pihak ketiga berupa CSR dan donasi berupa orang tua asuh dari masyarakat Bali sebesar Rp 825 ribu per anak per tahun.

#4. Pemerintah Provinsi Bali dapat menganggarkan pendidikan SMAN Bali Mandara sebesar Rp 2,5 miliar bersamaan dengan rencana pemberian beasiswa sebesar Rp 1,5 juta kepada 18.000 siswa miskin sebesar Rp 29 miliar pada anggaran perubahan APBD Bali 2022. Total dibutuhkan anggaran Rp 29,5 miliar untuk membantu seluruh siswa miskin di sekolah reguler dan siswa SMAN Bali Mandara.

*disarikan oleh Dr. Gede Suardana (Waketum DPP Persadha Nusantara)