Sosok Ganjar Pranowo dan Mahfud MD sebagai Capres dan Cawapres 2024

Denpasar, (Metrobali.com)-

Ada kepercayaan pada masyarakat di Bali, mereka yang sanggup dalam manunggalin “bayu, sabda, idep”, penyatuan pikiran, perkataan dan perbuatan, akan mampu “nyupat (membersihkan) sisi-sisi negatif karakter yang melekat/terbawa dari kelahiran sebelumnya.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya, yang mensosialisasikan pemikiran dan keteladan kepemimpinan Mpu Kuturan Raja Kertha, Minggu 10 Desember 2023.

Dikatakan, menyimak perjalanan karier GP – MM yang tergolong “kinclong” dalam perspektif kemajuan bangsa, karma ke duanya sampai hari ini, agaknya telah mampu membersihkan warisan karma pembawaan lahir.

“Di sini arti penting dari keyakinan HUKUM KARMA, dalam tradisi pertanian ada ungkapan: “Jagung yang Kita tanam, maka Jagung pula yang akan dipetik”,” katanya.

Menurutnya, dalam prasasti tertua di Bali, Prasasti Desa Sukawana ada tertulis: “sakebda, sira wani, murthi ganitha, masatettha, palguna”. Terjemahan bebasnya, kedatangan kita ke dunia ini adalah keutamaan dan kemulyaan, laksanakan keutamaan dan kemulyaan ini dalan ke seharian kehidupan.

“Menyimak rekam jejak GP – MM, agaknya keduanya telah melakoni isi Prasasti Sukawana tsb.dalam tindakan. Gelising cerita, sangat pantas menjadi Presiden dan Wakil Presiden ke 8 negeri ini,” kata Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya, yang mensosialisasikan pemikiran dan keteladan kepemimpinan Mpu Kuturan Raja Kertha.

Refleksi Raina Kajeng Kliwon

Menururut Jro Gde Sudibya, bahwa Hari ini, Minggu 10 Desember 2023, raina Kajeng Kliwon Pemelastali, juga disebut raina Watugunung Runtuh, sasih Kenem, Icaka 1945.

Dikatakan, raina dari perspektif sosiologi agama krama Hindu Bali, (dalam rumusan yang disederhanakan), upaya KERAS dalam pengendalian diri, baca pengendalian BUTHA (sisi negatif energi yang justru “diproduksikan” diri yang berasal muasal dari kekuatan SAD RIPU, SAPTA TIMIRA yang “menempel” dalam batin diri).

” Rainan hari ini, sebagai momentum memperbarui diri, membersihkan kekuatan butha yang diproduksikan oleh musuh-musuh besar dalam diri tersebut,” katanya.

Dikatakan, AHAMKARA (KEAKUAN) dalam perjalanan sejarah manusia, jika tidak dikendalikan akan sangat destruktif terhadap perjalanan SANG DIRI manusia yang pada hakekat dasarnya baik, terhormat dan bahkan mulya.

“Tetapi karena tergerus oleh kekuatan yang bersumber dari pencarian kesenangan (tanpa batas), keserakahan (terutama bersumber dari ambisi besar kekuasaan), merontokkan karakter manusia, dalam “dasa muka” prilaku,” katanya.

Dikatakan, menyebut beberapa: hilangnya: etika, moral, tanggung jawab dan rasa malu, merebaknya keculasan, prilaku “adigung adi kuasa”, model komunikasi tidak beradab “pokoke” (merasa selalu benar) tetapi dalam faktanya sarat ketololan dalam pemikiran.Fenomena lanskap politik di hari hari ini.

“Sastra Hindu di Bali, yang dibumikan dalam upakara dengan kualifikasi SUKLA, memberikan pengetahuan diri yang mencerahkan untuk merawat Sang Diri yang pada hakekatnya mulya,” kata Jro Gde Sudibya, salah seorang pendiri dan sekretaris Yayasan Kuturan Dharma Budaya, yang mensosialisasikan pemikiran dan keteladan kepemimpinan Mpu Kuturan Raja Kertha. (Adi Putra)