Jokowi “Merajut” Mimpi Indonesia
Dalam rangkaian kunjungan ke tanah Papua, dan sekaligus menyambut peralihan tahun 2015/6, Presiden Joko Widodo meresmikan Monumen Kapsul Waktu Impian Indonesia 2015-2085 di Lapangan Hasanap Sai, Kabupaten Merauke, Papua, Rabu, 30 Desember 2015. Presiden menulis 7 (tujuh) pesan, yang dimasukkan ke dalam kapsul waktu. Kurang lebih, menegaskan kembali tujuan negara, sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD 1945.
“Hari ini, melalui Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka, impian-impian anak bangsa itu telah dirajut menjadi satu dalam kapsul waktu,” kata Jokowi dalam kata pengantarnya. Dikatakan kapsul waktu ini telah mengumpulkan harapan dan impian seluruh anak bangsa, dari Nol Kilometer di Kota Sabang, sampai Kota Merauke, dari ujung barat ke ujung timur Indonesia.
“Impian setiap anak bangsa di setiap provinsi, kita jadikan satu menjadi impian kita bersama, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa,” kata Presiden Jokowi. Presiden berharap, agar impian yang telah terangkai satu ini bisa menjadi pemandu arah menuju masa depan yang diimpikan bersama segenap anak bangsa Indonesia. Disini, Jokowi “Merajut” Mimpi Indonesia, seperti Parikesit dalam merajut mimpi rakyat Hastina dan Indraprasta paska perang besar (Brathayuda). Sebuah awal, untuk tergerak/menggerakkan segenap potensi sumber daya rakyat dalam mewujudkanya!
Sekilas kisah
Alkisah dalam sebuah cerita pasca Bharatayudha berakhir, Aswatama yang pengecut dan karena itu juga menjadi kejam, memasuki tenda dimana kubu Pandawa sedang lelap. Ia menikam orang-orang yang sedang tidur. Drestajumena, Srikandi dan Pancawala tidak bisa melihat matahari esok paginya. Sementara Utari terbangun dan menyelamatkan diri beserta bayi dalam kandungannya.
Sang bayi ini lah yang dikenal dengan nama Parikesit nantinya, pewaris tahta Pandawa pengganti Pancawala yang mati. Tidak tanggung-tanggung, 2 kerajaan sekaligus hasil kemenangan Bharatayudha akan dipegang olehnya, Hastina dan Indraprastha.
Parikesit sebenarnya cucu dari Arjuna, bapaknya adalah Abimanyu, dengan asuhan kesaktian mahaguru Baladewa. Sebagai raja ala Pandawa yang adil dan budiman, segala kegelisahannya tentang rakyatnya selalu menjadi gundah hatinya.
Goenawan Muhammad dalam Asmaradana, menuliskan sebuah cerita renungan Parikesit terhadap rakyat-rakyatnya:
“…Jauh di bawah terpacak rakyatku menunggu. Mereka yang menyelamatkan dan juga menyiksa diriku. Mereka yang berdoa, sementara aku tiada berdoa. mereka yang punya angin-angin sendiri, hujan-hujan sendiri, dan duka cita yang sendiri. Mereka yang tahu kita tak bisa berbagi. Tapi siksa ini adalah siksa mereka, siksa mereka yang kuwakili di atas kelemahan tangan-tanganku…”
Mungkin itulah kenapa jabatan Raja atau Sultan dalam berbagai kehidupan feodal zaman dahulu. Meski mereka dianggap sangat tinggi, karena harus menjaga kestabilan, keamanan dan kenyamanan wilayah kekuasaannya, namun dia juga selalu dalam kondisi menanggung setiap derita rakyatnya.
Tapi tidak dipungkiri juga jika jabatan Raja tersebut ahir karena warisan struktur sosial zaman dahulu, bukan melalui proses politik (pemilu). Raja atau Sultan, yang dipercaya sebagai perpanjangan tangan adikodrati penguasa alam semesta, seperti gambaran Arief Budiman dalam Teori Negara Budiman-nya.
Kita paham arti dari pemerintahan feodalisme seutuhnya. Karena sekian tahun hidup di Indonesia yang mengaku Presidensil, walau presidennya sendiri tidak bebas dari campur tangan legislatif, serta partai politik. Tetapi selama berada dan sebagai warga negara ini, saya berkesempatan menangkap sebuah kehidupan feodalisme dalam tataran yang menghina kecerdasan, akal sehat dan nurani kita, seperti dalam drama “papa minta saham”.
Siksa Jokowi
Tersebutlah, seorang Presiden yang berasal dari Solo. Seorang salesman mebel, tanpa beban gelar keturunan adikodrati leluhur-leluhurnya. Sedikit berbeda dengan George Samsa dalam cerita Frans Kafka (Metamorfose), menjadi “Kecoa”. Jokowi menjalani kutuk menjadi presiden -meski sama-sama di anggap aib, atau siksa dari para pembencinya (haters).
Pandangan dari jauh, presiden ini berbeda dari mantan presiden sebelumnya, yang selalu jaga image lengkap dengan basa-basi-biasa penguasa. Jokowi langsung menggebrak gegap gempita dalam berbagai aksi blusukan. Dia menempatkan diri cuma seorang presiden dengan “p” kecil, karena memang tidak ada rona kapital “p” besar dalam sudut pandang kacamatanya, meski tetap dicurigai pencitraan.
Saat blusukan itu, penampilannya sama sekali membunuh kepecayaan saya tentang arti feodalisme selama ini. Selama ini saya melihat Presiden (kecuali Gus Dur), selalu berwibawa, selalu menjaga bicara, selalu berusaha terlihat berada di atas bawahannya. Tetapi presiden satu ini hadir di setiap saat, meski hanya bermodal baju putih yang terlihat cukup baru, dengan celana berwarna hitam. Biasanya segala atribut seorang presiden diletakkan proporsional nan wibawa. Lha ini ndak sama sekali. Topi jelek yang dipakai presiden satu ini cuma sekedar hinggap seenaknya saja, entah miring kiri atau kanan, seenaknya dia berpose kapan sempat, termasuk di depan kamera televisi.
Tidak ada yang istimewa sebenarnya tentang lelaki ini. Saya cuma merasakan kedekatan yang jauh, dan kejauhan yang dekat. Dikata saya jauh, juga tidak. Tetapi melihat segala perhatian dan perjuangannya dalam mengelola sebuah negara besar yang berisi 250 juta warga dengan berbagai kepala, idealisme dan ide cerita, justru membuat saya percaya beliau adalah orang yang paham akan arti memimpin, seperti raja Parikesit. Dia menghormati orang tua, tetapi dia juga tidak melupakan kodratnya sebagai anak muda dengan muka tua, lengkap dengan bahasa-bahasa berjiwa muda.
Presiden sadar kalau bersikap sopan adalah mutlak, sebagaimana tradisi Solo (Jawa). Tetapi, dia juga tahu kapan harus menjadi gila. Perpaduan yang unik bagi saya, tidak heran negeri yang dipimpinnya ini bisa tetap survive walau laju para penentang semakin liar dan kencang ke depannya. Soal penentang yang semakin kencang jalannya ini, sudah diungkapkan oleh segenap kalangan, dari para ahli, aktifis sampai pelawak.
Jawaban presiden sangat sederhana, “Kita harus siap mengikuti era menyambut masa keemasan ini, dengan segala popularitas ini. Resiko yang harus dijawab segenap rakyat saat ini dan di masa depan. Tetapi kita tidak bisa pungkiri, semua itu ada masanya. Pergunakan sebaik-baiknya menyambut masa yang gemilang ini”, kira-kira begitu sabdanya jika dibahasakan secara bijak. Karena bahasa aslinya sangat khas ala Jokowi yang tanpa basa-basi, langsung ke pokok persoalan dan dagelan kere.
Mimpi adalah kejaran. Setiap kesempatan adalah pilihan yang bisa diambil atau tidak. Dan seorang presiden juga manusia biasa, demikian Jokowi menyadari takdir adikodrati versi dirinya. Tuntutan meraih kesempatan yang akhirnya membawanya harus melanglang buana tapabrata ngelmu di negeri tetangga. Tentunya saya yakin ngelmu untuk menjadi pribadi lebih baik, tidak suka misuh-misuh sembarangan lagi, rajin membaca dan belajar mengelola duit ribuan triliun di rekening negara.
Dalam frame terakhir cerita Parikesit, yang lebih sibuk membangun benteng kekuasaan, sehingga akhirnya dia mati dipatuk ular Taksaka, karena sumpah anak pendeta Samiti. Dalam penungguan di ujung menara siksa kekuasaan, Jokowi tidak membangun, namun justru meruntuhkan benteng kekuasaan. Sangat menyadari dan mengerti arti kekuasaan dalam artian sebenarnya.
Tidak mau terdiam dalam renungan kesepian kursi kekuasaan, tanpa pencapaian hidupnya sendiri. Ikuti pesan Goenawan Muhammad dalam Asmaradana:
“Bukan kegelisahan dahsyat yang hendakkan semua itu. Bukan siksa menunggu yang menyuruhku. Tapi kurindukan kemenangan-kemenangan, kemenangan yang mengalahkan kecut hatiku. Karena memang kutakutkan selamat tinggal yang kekal. Seperti bila dari tingkap ini kuhembuskan nafasku dan tak kembali tanpa burung-burung, tanpa redup sore di pohon-pohon tanpa musim…” JAN-MB
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.