Jembrana (Metrobali.com)-

Selain coklat fermentasi, Jembrana juga memiliki potensi dalam produksi pisang yaitu jenis pisang Cavendish. Hal tersebut terungkap dalam Launching dan Penanaman Perdana Pengembangan Kawasan Holtikultura Tanaman Pisang Tingkat Nasional di Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Sabtu (28/12). Jembrana di dapuk menjadi tempat pengembangan pisang Cavendish di karenakan luasan lahan dan potensinya sangat menjanjikan.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Sesmenko Perekonomian Susiwijono, Bupati Bondowoso Salwa Arifin dan Kepala Kantor Bea Cukai Bali, NTB, NTT, Direktur Great Giant Pineaple Wayan Ardana. Launching ditandai dengan penanaman pohon di lahan seluas dua hektar dengan 4800 pohon pisang dan nantinya akan bertahap hingga seluas 50 hektar dengan jumlah 120 ribu pohon.

Pada penanaman ini, Pisang Cavendish dipilih sebagai komoditas yang akan dikembangkan. Pasalnya, Pisang Cavendish adalah satu satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek pengembangan yang baik karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi pasar yang masih terbuka luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dan PT Great Giant Pineapple (GGP) selaku offtaker dan perusahaan yang melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah dan petani, melalui program Creating Share Value akan melakukan kerja sama kemitraan dengan kelompok tani atas dasar pemberdayaan dan saling menguntungkan kedua belah pihak (win-win solution) untuk melakukan budidaya/produksi pisang yang berdaya saing dan berkualitas ekspor.

Sesmenko Perekonomian Susiwijono pun menegaskan, program pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor ini merupakan wujud nyata keseriusan pemerintah untuk mendorong produk lokal yang berdaya saing global. Kegiatan launching pada hari ini menandai dimulainya program tersebut secara nasional.

Baca Juga :
Irak Investasi Kilang Minyak Rp 90 T di RI

Rencananya dalam waktu dekat setelah Jembrana akan segera dilakukan pengembangan di lokasi lain, yaitu di Kabupaten Bener Meriah (Aceh), Kabupaten Blitar (Jawa Timur), dan Kabupaten Bondowoso (Jawa Timur). “Harapannya, pengembangan kawasan hortikultura ini betul-betul mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor dan meningkatkan perekonomian daerah yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan petani,” pungkasnya.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyampaikan potensi lahan pertanian masih sangat luas. Dan Jembrana menurutnya sangatlah cocok jika di kembangkan pada sector pertanian. “Secara geografi di Jembrana sangatlah cocok, selain bisa untuk meningkatkan devisa karena pisang ini berkualitas ekspor, tentunya akan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat sekitar” ucapnya.

Ia menambahkan, kalaupun Jembrana tertarik mengembangkan potensi pariwisata bisa di kolaborasikan dengan potensi pertanian. “Beri wisatawan experience bagaimana menanam pisang atau bercocok tanam di Jembrana. Selain potensi pertanian yang bisa dikolaborasikan, bisa juga dengan potensi perikanan. Bila perlu ajak wisatawan dengan paket liburan memancing. Tentunya ini menjadi menarik” imbuhnya.

Sementara itu Bupati Artha mengatakan, dengan dipilihnya Kabupaten Jembrana sebagai salah satu lokasi pengembangan kawasan holtikultura, ia sebagai pimpinan dearah sangat mendukung dan berterimakasih serta yakin pengembangan kawasan holtikultura dengan komiditas ini memiliki prospek dan keunggulan kompetitif untuk pangsa pasar local maupun eksport.

“Harapan kami ke depan pengembangan komoditas pisang ini juga berbasis korporasi petani dengan melibatkan subak abian/kelompok tani, koperasi serta BUMD yang ada sehingga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Jembrana, Bali dan Indonesia pada umumnya” ujar Artha. (Humas Pemkab Jembrana)