Pastika sedang santai

Depasar (Metrobali.com)-

Gubernur Bali Made Mangku Pastika  mengimbau masyarakat yang akan memilih bupati dan walikotanya di ajang  Pilkada di 6 Kabupaten/kota pada bulan Desember mendatang untuk memilih pemimpin daerah yang berasal dari orang tidak biasa. Demikian disampaikan Pastika saat mengawali orasinya di Podium Bali Bebas Bicara Apa  saja (PB3AS) yang rutin digelar di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Denpasar, Minggu (26/7).

“Pemimpin itu orang biasa, tetapi bukan manusia biasa kalau dia manusia biasa maka tidak akan jadi pemimpin,” ujarnya.  Ia kemudian memaparkan bahwa seorang peminpin dalam ajaran agama  Hindu harus mencerminkan konsep Asta Brata, yaitu delapan sifat tuhan yang harus dimiliki oleh serang peminpin.

Pastika menyampaikan pada era reformasi sekarang setiap warga negara yang memiliki hak suara berhak secara langsung tanpa perwakilan menyalurkan hak suaranya. Untuk itu, untuk itu  Pastika mengajak seluruh masyarakat agar memberikan hak pilihnya  sesuai dengan harapan dan bertanggungjawab atas pilihannya.

Pastika juga menyampaikan renungan kepada masyarakat dalam memaknai hari raya keagamaan yakni Hari Raya Galungan dan Hari Raya Idul Fitri. Kedua hari raya tersebut , menurut Pastika, memiliki makna yang sama yaitu kemenangan umatnya dari peperangan atau pertarungan yang berat melawan sifat yang ada dalam diri kita sendiri seperti amarah, Iri hati, dengki, sombong dan serakah, tambah Pastika. Pastika juga menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan antar umat beragama sehingga kasus di Tolikara Papua tidak sampai terjadi di Bali.

PB3S kali ini juga diisi dengan orasi dari Kapala seksi Adat, Istiadat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida bagus Adnyana, yang menyampaikan konsep dari canang sari yang merupakan salah satu bentuk dari upakara/banten. Menurut Adnyana canang berasal dari kata cane yang berarti suguhan kepada tamu dalam setiap upacara adat hindu yang berisikan sirih (base), kapur (pamor), gambir, pinang, mako yang memiliki makna filosofi tersendiri. Sedangkan konsep dari canang sari adalah tatwa (kebenaran), Siwam (kesucian) dan Sundharam (keindahan). Dengan demikian, pengertian canang dapat dijabarkan menjadi sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sehingga bhuwana agung/alit dapat jagadhita dan santhi.

Orasi lain muncul dari Kepala UPT Sarbagita Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Provinsi Bali, Gede Gunawan yang mensosialisasikan kepada masyarakat keberadaan bus Trans Sarbagita yang saat ini menyediakan 2 koridor yakni koridor I (Kota-GWK PP) dan Koridor II (Batubulan-BTDC Nusa Dua PP). Ia juga menyampaikan bahwa UPT Trans Sarbagita memberikan rekomendasi kepada karyawan dikawasan BTDC untuk naik maupun turun secara bebas didepan hotel mereka bekerja tidak lagi mesti di halte. Demikian juga mahasiswa yang menggunakan sarana Bus Sarbagita untuk dapat naik atau turun di depan kampusnya masing-masing untuk wilayah Kampus UNUD Bukit Jimbaran.

Ia juga meminta dukungan karena kedepannya akan dibuka trayek baru yakni dari terminal Pesiapan Tabanan menuju Bandara Ngurah Rai. Selanjutnya disambung Ketut Suatama dari Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Provinsi Bali yang mensosialisasikan Prosedur Bantuan Program Bedah Rumah yang diperuntukan kepda KK miskin.

Ia menyampaikan bedah rumah harus diusulkan oleh kepala desa/lurah yang ditujukan kepada Gubernur Bali melalui Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali yang tembusannya kepada kepala Dinas Sosial Kabupaten/Kota. Pengajuannya harus melaui proposal yang mencangkup nama-nama yang akan menjadi penerima bedah rumah serta diserta dengan foto rumah yang tidak layak huni.

Ajang PB3AS juga dimanfaatkan oleh Suwirya , warga asal Nusa Lembongan yang menyampaikan harapannya agar  pemerintah daerah membuat peraturan yang melindungi kebudayaan Bali sehingga tidak tergerus oleh jaman. Menurutnya sektor pariwisata di Bali merupakan pariwisata budaya, sehingga agar wisatawan terus mau berkunjung ke Bali kebudayaan Bali harus terus dilestarikan  Selain itu, dalam orasinya ia memnghibau masyarakat memilih peminpin yang berdasarkan dharma sehingga dapat meminpin dengan baik. Senada dengan itu, Lanang Sudira mengharapkan masyarakat dapat memaknai momentum Pilkada yang akan datang sekaligus memilih pemimpin yang mampu nindihin Bali dan tidak mendiskriminasi umat beragama.

Pada PB3AS kali ini turut hadir, Gubernur Bali Made mangku Pastika yang didampingi oleh Istri Ny. Ayu Pastika. RED-MB

Baca Juga :
Polisi Tetapkan Tersangka Kebakaran Gudang Elpiji