Denpasar (Metrobali.com)-

Bali sangat terkenal dengan seni budayanya. Tak pelak, Bali pun dianggap sebagai gudangnya seniman yang sangat kaya kreativitas seni budaya berbasis kearifan budaya lokal khas Bali. Tentunya, dengan latar sejarah kehidupan masyarakat yang sangat tradisional dalam nuansa modernitas. Puluhan seniman tumbuh dan berkembang di pulau surga turistik ini. Mulai dari seni pertunjukan (musik, tari, teater) wali, seni bebali, hingga seni balih-balihan. Namun, sejarah perjalanan sejarah kehidupan masyarakat itu belum terdokumentasi dengan baik dan kalaupun ada masih relatif sangat langka.

Menyikapi realitas itulah, rumah produksi yang sudah cukup popular, Jayagiri Production pimpinan IGN “Rahman” Murthana bakal tancap gas menggarap sebuah film bernilai sejarah, yakni film kolosal jejak leluhur. Film ini akan ditayangkan dilayar kaca dalam bentuk FTV (Film Televisi) berdurasi 6o menit di sejumlah televisi  lokal di Bali.

Penggarapan film kolosal ini dimaksudkan untuk menggugah kecintaan masyarakat luas terhadap dunia cinematografi. Dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme mempererat semangat persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegera. Selain itu, sebagai upaya meningkatkan apresiasi publik terhadap nilai adiluhung peradaban sejarah demi pembangunan masa depan bangsa yang lebih baik di masa depan.

Sebagai langkah awal, Jayagiri Pro akan mengadakan penjaringan para pemain dan pendukung dari proses produksi film kolosal  ini melalui tahapan audisi atau casting aktris dan aktor lokal Bali, serta para tim produksi. Proses audisi ini akan berlangsung mulai Rabu (10/10) kemarin di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Mulai pukul 13.00 wita sampai selesai. Proses audisi ini terbuka untuk khalayak publik (umum), laki atau perempuan mulai umur 10 tahun sampai 60 tahun. Rencananya, proses audisi atau casting ini akan berlangsung seminggu hingga Sabtu 17/10) mendatang.

Baca Juga :
Bupati Suwirta tinjau Lokasi mata Air di Desa Manduang

Pimpinan Jayagiri Production, IGN “Rahman” Murthana, yang juga Ketua Pramusti Bali, mengatakan bahwa langkah berani yang kini sedang dilakukan merupakan wujud dari loyalitas dan dedikasinya dalam menggerakkan denyut nadi kreativitas seni budaya berbasis kearifan lokal khas Bali sebagai penguat kebangkitan dari industri budaya kreatif bangsa. Sehingga, kehidupan dunia hiburan di Bali yang kini sudah mulai berani bersaing secara global akan semakin mampu menunjukkan daya kreatif dan jati dirinya.

Diakuinya, penggarapan film jejak leluhur ini akan dibagi dalam beberapa eposide yang mengangkat sejumlah kisah sejarah tentang perjalanan hidup dan cikal bakal dari peradaban Bali masa lalu, di antaranya Manik Angkeran dan Arya Wiraraja. Kisah ini diangkat bukan semata-mata untuk mengultuskan satu kelompok di tengah kehidupan masyarakat terkini yang sangat majemuk dan pluralistik, tapi justru sebagai upaya menguatkan tata nilai etika sosial budaya dan sekaligus mempererat kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat. Tentunya, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana dari kekuatan suci ruh dan taksu kebudayaan bangsa yang adiluhung.

Maka itulah, katanya, film kolosal ini digarap sebagai media dokumentasi bernilai edukasi sejarah yang komunikatif dan mudah dicerna khalayak publik sepanjang zaman. Diharapkan film kolosal jejak leluhur ini nantinya mampu menjadi saksi sejarah perubahan peradaban zaman dari masa ke masa, sebagai media refleksi generasi muda dalam menghadapi kehidupannya. “Sehingga peradaban kehidupan budaya Bali di masa datang tidak sampai kehilangan jati dirinya,” harapnya.

Lebih jauh, manajer grup band  mebasa Bali, [XXX] ini menambahkan bahwa penggarapan film kolosal ini melibatkan sutradara film  Yudi Laga dan penulis naskah  Hani Zetia. Di samping itu, juga didukung oleh Pesilat Bakti Negara di Bali, Animator Agung Oka, Cahya Atsuka Costum, dan sejumlah pihak terkait di bidang perfilman baik lokal maupun nasional.

Baca Juga :
KBS Sambangi Pengungsi di Desa Pesedahan, Ngis, dan Selumbung Karangasem

Sementara itu, mengenai lokasi syuting, Rahman, menjelaskan bahwa pihaknya  telah  melakukan survei lokasi ke sejumlah daerah, seperti di Taro Ubud, Klungkung, Karangasem, Bedugul, dan lainnya  untuk mencari lokasi  sesuai dengan kisah dari kehidupan sejarah yang akan diangkat dalam film kolosal ini. Artinya, film kolosal ini diupayakan secara maksimal dapat mendekati cikal-bakal sejarahnya sesuai dengan kajian dan analisis dari berbagai data dokumentasi berupa babad, prasasti dan sumber data terkait lainnya.

Di samping itu, juga melibatkan sumber dari para tokoh dari berbagai kalangan seperti praktisi, akademisi, budayawan, dan sejarawan yang memang kompeten di bidangnya. “Sebagai upaya untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan pada saat film ini memasuki tahapan produksi maupun setelahnya, sebelum diedarkan secara terbuka kepada khalayak publik,” tegasnya. nyoman wija