Bangli (Metrobali.com) –

 

Bertengger kokohnya supremasi dan kemasyhuran Toya Devasya sebagai ‘magnet’ daya tarik pariwisata di pusaran persaingan ketat bisnis tempat rekreasi di Kabupaten Bangli menunjukkan betapa besarnya komitmen pihak manajemen dalam meningkatkan citranya. Perlahan tapi pasti melewati badai pandemi yang menghantam dunia dengan berbagai terobosan penting sempat membelalakkan mata dunia industri akan pentingnya arti sebuah komitmen.

Perayaan hari ulang tahun kali ini mengambil tema: Come Together for Infinite Harmony, yang mempunyai makna kita kembali membina kebersamaan tanpa batas setelah lebih dari 2 tahun dipisahkan oleh pandemi Covid19.

“Rentang waktu 20 tahun merupakan perjalanan waktu yang cukup panjang. Mengawali dari 2 kolam renang air panas alami dan 1 hot spring pool, kini telah berkembang menjadi 8 hot spring pools, 1 Polympic size pool, berbagai restoran yang menyajikan makanan lokal, nasional, chinese maupun western, 12 private pool villa, hikers camp, water sport, adventure activities dan yang terakhir adalah gift shop. Tentunya untuk sampai di titik ini jalan yang kami lalui tidak selalu mulus,” tutur CEO Toya Devasya Hot Waterspring, Putu Ayu Astiti saat pidato perayaan 20 Tahun Toya Devasya, Senin, 18 Juli 2022.

Perayaan hari ulang tahun yang dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, Ketua DPRD Bangli Ketut Suastika, SH, Ketua DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (Putri) Bali, I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha, Ketua BPC HPMI Bangli, RA Ayu Citra Resminingrum dan stakeholder kepariwisaan Bangli lainnya.

Tantangan terbesar Toya Devasya adalah pada saat membangun luxury villa pertama di Kintamani. “Untuk bisa bertahan kami harus merelakan sejumlah aset, antara lain aset yang kami sayangi di Pantai Lovina seluas lebih dari 1,5 Ha harus kami jual, sejumlah mobil dan juga aset lainnya,” kenang Ayu.

Baca Juga :
Petugas Kebersihan Hotel Terancam 12 Tahun Penjara

 

Tetapi misi founder kami sejak awal yaitu DR. I Ketut Mardjana, Toya Devasya hadir bukanlah sekedar untuk orientasi profit. Beliau lebih ingin membangun Kintamani, tempat kelahiran dan tempat dimana Beliau dibesarkan. Spirit ini hingga kini masih kami pegang teguh.

Perusahaan kami, Toya Devasya, menggunakan warna ungu sebagai corporate colour dan GAJAH sebagai icon dari operasional perusahaan. Sesuai dengan filosofi gajah yang merupakan filosofi manajemen kami, kuping yang besar adalah kami ingin banyak mendengar kritikan dan masukan yang membangun, mata yang kecil artinya fokus pada tujuan, badan yang besar yaitu tahan menghadapi segala tantangan, dan belalainya yang melambangkan memberikan kemakmuran untuk sekitarnya. Kami ingin agar kehadiran Toya Devasya tidak hanya menguntungkan shareholder tetapi juga masyarakat di sekitar kami.

Pernah selama 2 tahun kami mengalami kendala ‘cash flow’ sehingga fokus utama kami adalah untuk bertahan. Negosiasi kami lakukan dengan karyawan, supplier maupun lembaga keuangan untuk melakukan restrukturisasi maupun penundaan pembayaran, termasuk kewajiban dalam penundaan pembayaran pajak daerah. tidak sedikitpun ada niat kami untuk tidak membayar pajak, dimana dalam pelaporan secara disiplin kami melakukan termasuk hutang pajak yang mampu kami bayar karena kesulitan ‘cash flow’. Ini mencerminkan bahwa kami tidak ngemplang pajak sebagaimana suara sumir yang berembus.

“Bahkan sebelum pandemi kami adalah pembayar pajak terbesar dalam usaha pariwisata di Bangli. Hal ini terbukti bahwa kami menerima dana hibah terbesar pula sebagai bantuan pemerintah agar usaha pariwisata dapat tetap bertahan. Dana hibah tidak dapat keluar apabila kami tidak disiplin dalam melakukan pelaporan dan pembayaran,” tutur Putu Astiti tegar.

Kini, setelah berkiprah selama 20 tahun, Toya semakin Kokok menancapkan kukunya untuk menjadi yang terdepan dalam upaya membangun Kabupaten Bangli. Serta menjadi magnet destinasi pariwisata termasyhur di kawasan ini.

Baca Juga :
Habiburokhman : Penunjukan PLT Kapolri Timbulkan Tiga Persoalan

“Memang banyak sekali Pekerjaan Rumah yang harus dibenahi, terutama terkait dengan prasarana infrastruktur akses jalan dan kualifikasi lainnya yang harus menjadi atensi Pemkab Bangli untuk menandai kesiapan sebagai potensi daerah pariwisata yang lebih mumpuni,” terang DR I Ketut Mardjana, MM, Founder Toya Devasya Hot Waterspring.

Acara syukuran berdoa dan Potong Tumpeng serta penampilan Penyanyi Jun Bintang yang membawakan lagu-lagu hit ciptaannya cukup menghangatkan suasana perayaan itu hingga membuat para pengunjung terhipnotis untuk berlari merapat mendekati panggung.

Pada kesempatan yang sama, Ketua BPC HIPMI Bangli, R. Ajeng Ayu Citra Reaminingrum menyampaikan bahwa eksistensi Toya Devasya yang mampu bertahan ditengah gelombang Tsunami Covid-19 dan banyak menyerap tenaga kerja lokal hingga kepeduliannya untuk memajukan para UKM memang layak menjadi contoh teladan dari para pelaku di industri pariwisata di Bali.

“Kami mengucapkan selamat dan memberikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Toya Devasya yang mampu menapaki perjalanan panjang menggapai usia 20 tahun,” pungkas Ajenk.

 

Sumber : Hidayat