Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer.

Denpasar (Metrobali.com)-

Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali Gde Sumarjaya Linggih yang akrab disapa Demer menyoroti pembangunan SDM Bali dan industri kreatif serta ekonomi digital di Bali. Dia juga secara khusus memberikan perhatian pada pengembangan potensi industri animasi dan perfilman di Pulau Dewata.

Lebih lanjut wakil rakyat yang sudah empat periode mengabdi sebagai wakil rakyat di DPR RI memperjuangkan kepentingan Bali ini mengatakan bahwa yang harus menjadi fokus utama saat ini terkait pembangunan industri kreatif di Bali adalah infrastruktur, suprastruktur dan sistem anggaran.

“Ekonomi dan industri kreatif termasuk ekonomi digital ini banyak diisi anak-anak muda, sektor ini jadi harapan anak-anak muda. Jadi kita harus beri perhatian dan support penuh. Jangan setengah hati,” kata Demer belum lama ini.

Anggota Fraksi Golkar DPR RI ini menambahkan bahwa orang Bali mempunyai kecerdasan, daya inovasi dan kreativitas. Disinilah menurut wakil rakyat berlatar belakang pengusaha sukses dan mantan Ketua Umum Kadin Bali itu pentingnya kehadiran pemerintah dalam mendukung dan memfasilitasi anak-anak muda Bali dalam mengembangkan industri kreatif dan ekonomi digital, bukan justru mengutamakan proyek-proyek mercusuar yang menelan banyak anggaran tapi tidak berdampak pada perekonomian dan kesejahateraan rakyat.

“Apa yang harus pemerintah lakukan dan harus hadir di situ adalah bagaimana juga memanfaatkan anggaran kita tidak hanya berinvestasi ke malah menjadi pengusaha untuk berinvestasi ke projek, misalnya, ada PKB yang harus investasi besar-besaran, tapi juga berinvestasi kepada otak-otak orang Bali, berinvestasi kepada kecerdasan orang Bali. Pemimpin Bali jangan lagi terjebak dengan proyek-proyek mercusuar tapi pembangunan ekonominya terlupakan,” beber Demer.

Di sisi lain Demer juga menyayangkan tidak maksimalnya pemanfaatan tempat seperti Bali Creative Industry Center (BCIC) yang berlokasi di Jalan WR Supratman 302 Tohpati, Denpasar, yang sebenarnya dilengkapi dengan prasarana dan sarana untuk membangun industri kreatif di Pulau Dewata.

Sebagai “rumahnya” orang kreatif, BCIC diharapkan bisa melahirkan ide-ide inovatif, kreator-kreator baru sehingga terciptalah suatu produk berkualitas yang mampu bersaing termasuk bidang animasi dan perfilman.

“Kita mempunyai sebenarnya tempat, Bali Creative Industry Center (BCIC) di Tohpati, pemanfaatan itu juga saya bilang belum maksimal. Hal yang lain juga perlu didorong, mungkin lomba-lomba tentang kreativitas sehingga memacu terus kreativitas mereka, terutamanya saya melihat ya di bidang animasi, perfilman masih cukup berat di Bali ini,” kata Demer.

Demer yang juga Ketua Korwil Pemenangan Pemilu (PP) Wilayah Bali-NTB-NTT DPP Partai Golkar ini lantas kembali menyayangkan pemimpin Bali terdahulu terlalu sibuk dengan urusan membangun mega proyek dan sepertinya tidak serius mengembangkan potensi ekonomi kreatif hingga ekonomi digital di Pulau Dewata.

“Yang saya sayangkan juga mega proyeknya juga pinjaman itu, sangat sayang. Oleh karena itu mari kita coba mendesain sehingga kita mampu mensupport dari rekan-rekan muda terutamanya. Yang kreatif yang mempunyai inovasi. Apalagi sekarang zamannya memang kita mau tidak mau suka tidak suka kita akan ketinggalan kalau kita tidak mengikutinya dunia digital ini,” ujar Demer.

Politisi Golkar asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng yang kembali maju tarung nyaleg ke DPR RI Dapil Bali dari Partai Golkar pada Pileg 2024 ini berharap pemimpin Bali ke depan lebih serius menjadikan ekonomi kreatif dan ekonomi digital sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Bali selain sektor pariwisata yang sudah berkembang pesat. (wid)