Denpasar (Metrobali.com) 

 

People’s Water Forum 2024 di Bali kembali mengalami gangguan signifikan akibat intimidasi dan pemaksaan pembubaran oleh puluhan anggota Ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN). Forum yang bertujuan mengkritisi privatisasi air dan mendorong pengelolaan air untuk kesejahteraan rakyat ini mendapat tekanan hebat sejak awal pelaksanaannya.

Roberto Hutabarat, Sekjen Forum Pro-Demokrasi Bali mengungkapkan,
Ormas PGN telah beberapa kali mendatangi tempat kegiatan PWF 2024, menuntut penghentian acara dengan cara-cara yang memaksa dan intimidatif, bahkan melanggar hukum.

Menurutnya aksi mereka meliputi perampasan banner, baliho, dan atribut acara secara paksa, serta kekerasan fisik terhadap beberapa peserta forum.

“Tindakan anti-demokrasi dan kekerasan ini dilakukan tanpa dasar akademis yang jelas,” tegasnya dalam keterangannya Senin 20 Mei 2024.

Roberto mengungkap bahwa PGN memaksa pembubaran acara dengan alasan mengikuti himbauan lisan Penjabat (PJ) Gubernur Bali terkait World Water Forum di Bali.

Namun, imbauan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum memaksa dan justru bertentangan dengan Konstitusi yang menjamin kebebasan berkumpul, berekspresi, dan menyampaikan pendapat.

Sebelumnya, kata dia panitia PWF 2024 juga mendapat intimidasi dan teror dari aparat negara yang meminta pembatalan acara. Beberapa tempat yang direncanakan untuk kegiatan forum pun dibatalkan karena pengelola tempat mendapat ancaman.

Kejadian intimidasi berulang ini, terutama dalam momentum forum internasional, merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Fenomena ini mengindikasikan kurangnya komitmen negara dalam memajukan dan menghormati kebebasan berekspresi, yang sering dikorbankan demi kepentingan investasi dan modal asing.

Oleh karena itu pihaknya mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk:

Menghentikan segala bentuk intimidasi dan kekerasan dalam pelaksanaan PWF 2024, baik oleh aparat negara maupun oleh organisasi kemasyarakatan.

Menjamin dan memenuhi hak konstitusional warga negara untuk melakukan kritik tanpa tekanan.(Tri Widiyanti)